Ahmad Sarwat, Lc's Profile
Ustadz
503
Points

Questions
0

Answers
31

  • Ustadz Asked 7 days ago in Umum.

    Mau pakai internet atau belajar langsung, itu hanya soal teknis.

    Yang penting belajar kan kudu ada guru yang ahli, biar ilmunya tidak keliru, apapun nama ilmunya.

    Apalagi kalau ilmu-ilmu keislaman, maka harus jelas dulu nama ilmunya apa. Lalu levelnya apa. Kurikukumnya bagaimana. Silabusnya kayak apa.

    Terus yang penting juga, masalah mazhab atau alirannya apa. Dan yang paling penting, gurunya siapa.

    Kalau semua sudah jelas, belajar bisa tetap berjalan. Antara guru dan murid harus ada interaksi. Interaksinya bisa secara langsung pertemuan fisik atau bisa juga dengan jarak jauh. Disitu barulah internet sangat membantu.

    Dahulu Al-Imam Asy-Syafi’i mengajarkan ilmu Ushul Fiqih juga lewat surat menyurat. Konon nama kitab Ar-Risalah karya beliau juga karena merupakan surar yang dikirimkan.

    Di zaman sekarang wujudnya bisa lebih keren, yaitu e-Learning. E-learning zaman sekarang pasti mengandalkan internet sebagao medianya. Selain murah dan praktis, juga lengkap, bisa berupa teks, voice atau video yang interaktif.

    Tapi kalau ilmunya tidak jelas, narsumnya juga bukan orang yang berhak mengajar, apalagi ilmunya hanya kamuflase belaka, isinya hanya sampah dan hasud sana sini, maka disitulah internet itu jadi menyesatkan.

    Biasanya yang kayak gitu bukan e-learning, tapi sosial media. Gurunya gak jelas, narsumnya gak jelas, muridnya gak jelas, dan pencapaiannya juga tidak jelas.

    Belajar agama macam apa kayak gitu?

    • 36 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked 6 days ago in Muamalat.

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Uang elektronik pada hakikatnya sama saja dengan uang biasa, cuma yang membedakan bahwa bentuk pisiknya saja.Kalau uang yang kita kenal sehari-hari berupa kertas, sedangkan uang elektronik bentuk pisiknya secara umum berupa plastik atau kartu, dimana secara fisik kartu itu tidak diserahkan kepada penjual, cuma sekedar ditempelkan lalu diambil lagi.

    Memang secara fisik tidak ada yang diberikan kepada penjual, tetapi bukan berarti tidak ada nilainya. Sebab uang kertas yang selama ini kita pakaipun sebenarnya tidak ada nilainya. Kalau ada nilainya, tidak sesuai dengan yang tertulis di atasnya.

    Biaya pembuatan uang kertas seribu rupiah dan seratus ribu rupiah nyaris sama saja. Karena secara fisik keduanya tidak berbeda, kecuali hanya perbedaan gambar cover saja. Namun karena angka yang tertulis berbeda, maka nilai keduanya jadi berbeda.

    Demikian juga dengan cek yang biasa kita gunakan, lembarannya sama persis antara satu cek dengan lainnya. Tetapi ketika kita menuliskan cuma pakai ballpoint dengan angka yang berbeda, nilainya pun jadi berbeda. Yang satu cuma seratus ribu dan yang satunya bisa saja seratus juta.

    Kenapa bisa begitu?

    Karena pada prinsipnya ketika kita menggunakan kertas-kertas itu, kita tidak membayar dengan fisik kertasnya, melainkan dengan nilai yang angkanya dituangkan di atas kertas itu. Maka yang kita bayarkan tetap nilai harga yang memang tidak diwujudkan oleh kertas.

    Begitu juga ketika kita menggunakan e-money, yang kita bayarkan adalah nilainya meski tanpa wujud fisik. Namun secara teknis, pembayaran itu dilakukan lewat proses data digital.

    Jadi secara hukum, kalau kita menghalalkan uang kertas yang kita kenal sehari-hari, maka uang elektronik dalam bentuk kartu pun sama juga hukumnya, yaitu halal.

    Bentuk Fisik Uang di Masa Nabi SAW

    Kalau kita telurusi ke belakang, yaitu di masa Nabi SAW, wujud fisik uang memang bukan kertas yang diprint sebagaimana yang lazim kita kenal hari ini. Uang di masa itu terbuat dari logam mulia, emas atau perak. Koin emas (dinar) biasa digunakan di Romawi, sedangkan koin perak (dirham) banyak digunakan di Persia. Namun tetap berlaku universal di seluruh dunia, termasuk di negeri Arab.

    Rasulullah SAW dalam kesehariannya menggunakan keduanya sebagai alat tukar. Dan dalam banyak hukum fiqih, keberadaan koin emas dan perak masuk ke dalam inti hukum fiqih muamalah.

    Nilainya tidak dibedakan berdasarkan angka yang tertulis di atasnya, tetapi berdasarkan berat fisiknya. Makin ringan makin rendah nilainya dan makin berat makin mahal nilainya. Sebenarnya sangat praktis, selama kebutuhannya sebatas radius kecil.

    Namun menjadi kurang praktis bila nilai transaksi yang dijalankan terlalu kecil atau terlalu besar. Koin emas tentu sulit untuk digunakan membeli sebutir apel, bentuknya harus mini sekali. Koin emas juga sulit untuk dibawa kemana-mana kalau kita butuh traksaksi dengan nilai yang agak besar.

    Wujud Fisik Uang di Masa Kini

    Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan ‘kertas-bukti’ tersebut sebagai alat tukar, yaitu uang kertas yang kita kenal sekarang ini.

    Pada zaman koin emas masih digunakan, terdapat kesulitan yang ditimbulkan yaitu kebutuhan atas tempat penyimpanan emas yang cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bermunculan jasa titipan koin emas (gudang uang) yang dilakukan oleh tukang emas.

    Masyarakat menitipkan koin mereka ke gudang uang, dan pemilik gudang uang menerbitkan “kuitansi titipan (nota)” yang menyatakan bahwa mereka menyimpan sekian koin emas dan koin tersebut dapat diambil sewaktu-waktu. Tentu saja jasa tersebut ada biayanya.

    Dengan berlalunya waktu dan semakin banyak nota titipan beredar, masyarakat menyadari bahwa mereka dapat melakukan transaksi jual beli hanya dengan menggunakan nota tersebut. Hal ini disebabkan karena mereka, para pemilik nota dan pedagang percaya bahwa mereka dapat mengambil koin emas di gudang uang sesuai jumlah yang tertera di nota titipan. Mereka percaya bahwa nota tersebut dijamin oleh koin emas yang benar.

    Sampai titik ini, mungkin bisa dianggap “tidak ada masalah” karena jumlah nota beredar, dibackup sesuai dengan jumlah koin emas yang ada di gudang uang.

    Tapi, semua mulai berubah saat ketamakan itu datang. Seiring berjalannya waktu, pemilik gudang uang menyadari secara empiris bahwa, tidak semua orang akan mengambil seluruh simpanannya dalam jangka waktu yang sama.

    Katakanlah, dalam suatu waktu, hanya 10% dari total koin yang diambil oleh pemiliknya. Sisanya 90%, menumpuk, menganggur, menunggu bisikan untuk dipergunakan. Berdasarkan kondisi tersebut, pemilik gudang uang mulai -secara diam-diam meminjamkan koin emas yang menumpuk tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan modal dengan cara menerbitkan nota kosong, seolah-olah dijamin oleh emas, padahal tidak sama sekali, karena yang digunakan adalah koin emas para nasabah yang menitipkan emasnya.

    Inilah awal dari istilah “menciptakan uang dari udara kosong”. Selain meminjamkan, tentu mereka menarik bunga atas pinjaman tersebut.

    Sampai tahun 1971, seluruh negara di dunia sebenarnya masih menggunakan sistem uang kertas berbasis emas (atau dolar, karena dolar menjadi mata uang kunci yang dikaitkan kepada emas).

    Tetapi setelah tahun 1971, hal yang jauh lebih buruk terjadi. Sistem uang kertas dilepas dari emas sehingga menjadi benar-benar uang kertas dalam arti kertas sesungguhnya, yaitu kertas yang dicetak begitu saja lalu dianggap sebagai uang dan tidak dijaminkan dengan emas apapun. Inilah yang disebut dengan uang fiat (fiat money).

    Wujud Fisik Uang di Masa Depan

    Dengan semakin majunya teknologi, akhirnya tercipta pula uang ‘digital’ atau uang elektronik. Biasa disebut dengan e-money. Wujudnya tidak lagi berbentuk fisik, melainkan berupa data digital yang disimpan dalam memori berwujud kartu plastik yang tipis dan praktis dibawa kemana-mana.

    Ada banyak bentuk e-money ini, sebagian ada yang mengharuskan penggunanya punya acoount di bank tertentu. Tetapi yang sekarang populer adalah berupa kartu e-money yang dijual bebas. Kita cukup membeli kartu e-money itu dengan uang fisik sesuai nilai yang kita inginkan. Lalu kita bebas menggunakannya cukup dengan melakukan tapping atau gesek di kasir pembayaran.

    Penggunaan e-money ini semakin meluas di masa sekarang, bukan saja sebatas membayar telepon umum, tetapi juga untuk membayar banyak transaksi, seperti membayar tagihan listrik, telepon, tv berlangganan, pembelian tiket, jalan tol, tiket kereta, bus, pembelian bahan bakar, dan belanja keperluan sehari-hari.

    Ada banyak kelebihan yang bisa diambil dari bertransaksi menggunakan e-money ini. Di antaranya kepraktisan dalam pembayaran, sebab tidak butuh pemberian uang dalam bentuk fisik. Tidak perlu ada uang kembalian, bila harga yang dibayar bernilai pecahan. Sehingga mengurangi antrian pembayaran. Satu lagi, setiap pembayaran dengan e-money tercatat secara digital dan ada struk yang bisa dijadikan barang bukti.

    Tetapi e-money ini juga punya kekurangan. Kalau hilang, tentu uangnya hilang semua yang ada di dalam kartu itu. Selain itu e-money ini juga sulit digunakan di pedesaan tetinggal dan berada di pelosok yang jauh dari kehidupan modern. Bagaimana mau menggunakan e-money, listriknya saja tidak ada.

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    • 64 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Fiqih.

    Secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan pemasukan bagi pemiliknya.

    Dan khususunya di masa kini, hak ini merupakan `urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan di mana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi. Llihat Qarar Majma` Al-Fiqh Al-Islami no.5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait.

    Namun khususnya dalam beberapa kasus tertentu, misalnya seseorang terpaksa menggunakan program khusus dan tidak atau belum ada pilihan lain karena harganya tidak terjangkau sementara manfaatnya sangat vital dan menjadi hajat hidup orang banyak, maka banyak ulama yang memberikan keringanan.

    Namun bila seseorang membeli mesin pengcopy massal lalu `membajak` program tersebut secara massal di mana anda akan mendapatkan keuntungan, di situlah letak keharamannya secara mutlak.
    Hukum Islam sendiri pada hari ini mengakui ada hak cipta sebagai hak milik atau kekayan yang harus dijaga dan dilindungi. Dan membajak atau menjiplak hasil karya orang lain termasuk bagian dari pencurian atau tindakan yang merugikan hak orang lain.

    Hukum Islam memungkinkan dijatuhkannya vonis bersalah atas orang yang melakukan hal itu dan menjatuhinya dengan hukuman yang berlaku di suatu sistem hukum.

    Namun memang patut disayangkan bahwa sebagian umat Islam masih belum terlalu sadar benar masalah hak cipta ini, sehingga justru di negeri yang paling banyak jumlah muslimnya ini, kasus-kasus pembajakan hak cipta sangat tinggi angkanya. Barangkali karena masalah hak cipta ini memang masih dianggap terlalu baru dan kurang banyak dibahas pada kitab-kitab fiqih masa lampau.

    Mengembangkan Produk Sendiri

    Satu hal yang patut dicatat dari dominasi Microsoft adalah masih engganya banyak pihak untuk bekerja ekstra keras. Kalau ternyata menggunakan produk perusahaan itu terlalu memberatkan, bukan berarti kita boleh membajaknya.

    Mengapa kita semua tidak berpikir alternatif yang lain, misalnya menggalakkan software open source. Selama ini yang gencar meneriakkan open souce hanya terbatas pada kelompok kecil saja, bahkan hanya di kalangan programer tertentu.

    Rasanya belum ada satu pun ormas, orsospol, jamaah, komunitas bahkan yayasan serta berbagai macam organisasi milik umat Islam yang serius memikirkan hal ini. Jangan-jangan semua komputer di kantor-kantor lembaga ke-Islaman itu pun masih bajakan, alias curian.

    Seharusnya sudah waktunya untuk lebih serius memberikan perhatian di bidang ini, ketimbang setiap hari hanya meributkan hal-hal yang terlalu besar.

    Para ulama, dosen, aktifis, ustadz, guru ngaji, kiyai, tokoh masyarakat serta mahasiswa mestinya ikut memikirkan solusi untuk mengembangkan dan mengenalkan open source ini. Agar umat Islam tidak mejadi donatur tetap perusahaan asing karena membeli software secara legal, atau menjadi donatur buat para pembajak karena membeli software bajakan. Tetapi menggunakan software hasil buatan sendiri yang kalau mau ditindak-lanjuti secara serius, pasti tidak akan kalah kualitas dan kenyamanannya dengan produk perusahaan asing itu.

    • 580 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Aqidah.

    Barangkali ungkapan yang paling moderat dalam masalah konflik sunni syiah adalah masalah salah paham saja awalnya. Ada kelompok dari kalangan umat Islam yang punya pandangan politik yang berbeda pada awalnya. Dan perbedaan ini sesungguhnya masalah yang manusiawi sekali dan mustahil dihindarkan.

    Namun masalahnya berkembang menjadi serius ketika perbedaan itu berkembang ke wilayah aqidah dan syariah. Lalu masing-masing pihak saling mengkafirkan dan menuduh saudaranya sesat bahkan murtad. Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan sejak dahulu.

    Memang benar bahwa ada sebagian dari akidah syiah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi, bukan hanya oleh kalangan ahli sunnah, tetapi oleh sesama penganut syiah pun dianggap sudah sesat. Dan kita harus tegas dalam hal ini, kalau memang sesat kita katakan sesat.

    Misalnya mereka yang tidak percaya kepada Al-Quran mushaf Utsmani, dan menggunakan mushaf yang konon susunan yang 100% berbeda. Kalau memang ada yang begitu, tentu kelompok ini sudah keluar dari agama Islam secara muttafaqun ‘alihi.

    Atau misalnya ada yang mengkafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, maka jelaslah sikap ini tidak pernah bisa dibenarkan. Apalagi kelompok sempalan syiah yang menyatakan malaikat Jibril salah menurunkan wahyu, seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib dan bukan kepada Muhammad SAW. Astaghfirullahal-‘adzhim. Tentu sempalan yang sudah sampai keluar batas ini sudah tidak bisa ditolelir lagi secara aqidah.

    Tetapi kita tetap tidak bisa menggenalisir bahwa semua lapisan umat Islam yang ada aroma syiahnya pasti sesat, kafir atau murtad. Rasanya sikap itu kurang bijaksana. Mengapa?

    Sebab di berbagai belahan dunia Islam, katakanlah seperti di Iraq sana, ada banyak komunitas yang secara tradisional menjadi penganut syiah secara keturunan. Kakek moyang yang melahirkan keturunan itu bukan orang jahat yang beniat busuk kepada agama Islam. Mereka menjadi syiah karena keturunan dan tidak tahu menahu tentang urusan koflik syiah dan sunnah.

    Lalu apakah kita akan memvonis mereka sebagai non muslim, hanya karena mereka tanpa sengaja lahir dari keluarga syiah? Rasanya tidak begitu sikap kita.

    Yang barangkali perlu diwaspadai adalah orang-orang jahat betulan yang berusaha menghancurkan agama Islam dari dalam dan menjadi pemeluk syiah sesat. Mereka inilah yang menggulirkan ajaran sesat di dalam syiah sehingga akhirnya muncul ajaran yang aneh-aneh seperti di atas.

    Oleh karena itu kita harus tegas tapi tidak boleh asal tebas. Ada kalangan syiah yang memang sesat dan tidak berhak lagi menyandang status muslim. Tetapi kita juga harus dewasa, bahwa ada kalangan yang dianggap berbau syiah atau kesyiah-syiahan, tetapi sesungguhnya masih bisa ditolelir kekeliruannya.

    Mengapa kita perlu bijak dalam masalah ini?

    Karena kita tahu bahwa musuh-musuh Islam bergembira ria melihat umat Islam di Irak berbunuh-bunuhan, hanya karena urusan syiah dan sunnah. Jangan sampai isu negatif perbedaan syiah sunnah terbawa-bawa ke negeri kita juga. Sudah terlalu banyak pe-er umat Islam, maka sebaiknya kita jangan memancing di air keruh. Jangan sampai kita memancing yang tidak dapat ikannya tapi airnya jadi keruh. Sudah tidak dapat ikan, kotor pula.

    Karena itu dialog antara sesama tokoh dari kalangan syiah dan sunnah ada baiknya untuk dirintis. Tentu untuk sama-sama menuju kepada kerukunan, bukan untuk cari gara-gara. Rasanya masih banyak ruang persamaan di antara keduanya, ketimbang kisi-kisi perbedaannya.

    Semoga Allah SWT memberikan kelapangan di dalam hati kita untuk menata hati ini menjadi hamba-hamba-Nya yang shalih dan melakukan ishlah. Amien

    • 104 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Akhlak.

    Sederhana saja, asalkan fotonya menutup aurat maka tidak jadi masalah. Jadi yang boleh terlihat hanya wajah dan kedua tangan hingga pergelangan. Posisi wajar, tidak dalam posisi joget atau loncat-loncat.

    Pakaian menutup aurat dengan cara yang benar, tidak ketat, tidak transparan, tidak menyerupai lawan jenis dan tidak menyerupai orang kafir.

    Kalau di alam yang nyata hal seperti itu dibenarkan, maka di alam maya juga sama saja,

    • 127 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Fiqih.

    Di negara SAudia Arabia sebenarnya tidak ada denda yang diberlakukan kalau  ada orang cuma ambil batu dari tanah haram. Maksudnya kalau cuma kerikil beberapa biji saja. Apalagi kerikil itu cuma untuk melontar jamarat, dikumpulkan lebih banyak dari yang seharusnya, untuk jaga-jaga biar tidak kurang.

    Dan kalau ternyata ada sisa yang terbawa pulang ke tanah air, ya tidak mengapa. Lagian cuma batu kerikil beberapa biji. Tidak ada yang salah dan tidak ada dosanya.

    Lain halnya batunya sebanyak ratusan truk kontainer untuk dibawa pulang ke tanah air, baru lah jadi urusan. Lagian buat apa pula bawa batu jauh-jauh dari tanah haram?

     

    • 52 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 25, 2019 in Fiqih.

    Dua-duanya boleh-boleh saja dilalukan. Dan yang lebih baik memang kedua dilakukan secara sekaligus, kalau uangnya cukup.

    Kalau uangnya hanya cukup untuk sedekah dan tidak cukup untuk badal haji, sedekah saja tidak usah badal haji.

    Sebaliknya, kalau rejekinya ada dan cukup untuk badal haji, silahkan saja dilakukan badal haji.

    Badal haji adalah sebuah istilah yang dikenal dalam fiqih Islam. Istilah yang lebih sering digunakan dalam kitab-kitab fiqih adalah al-hajju ‘anil ghair, yaitu berhaji untuk orag lain.
    Dan pada kenyataannya memang seseorang benar-benar melakukan ibadah haji, namun dia meniatkan agar pahalanya diberikan kepada orang lain, baik yang masih hidup namun tidak mampu pergi maupun yang sudah wafat.
    Tentunya tindakan ini bukan hal yang mengada-ada, tetapi berdasarkan praktek yang dikerjakan oleh para shahabat nabi dan direkomendasikan langsung oleh beliau SAW.
    Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan bertanya:Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya harus melakukah haji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya? Bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR Bukhari).
    Hadits yang sahih ini menjelaskan bahwa seseorang boleh melakukan ibadah haji, namun bukan untuk dirinya melainkan untuk orang lain. Dalam hal ini untuk ibunya yang sudah meninggal dunia dan belum sempat melakukan ibadah haji.
    Di dalam hadits yang lain, disebutkan ada seseorang yang berhaji untuk ayahnya. Kali ini ayahnya masih hidup, namun kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan ibadah haji. Maka orang itu mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta fatwa.
    Seorang wanita dari Khats`am bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya?. Rasulullah SAW menjawab, . (HR Jamaah)
    Pendapat Para Ulama
    Dengan adanya dalil-dalil di atas, maka kebolehan melakukan haji untuk orang lain ini didukung oleh jumhur ulama. Di antaranya adalah Ibnul Mubarak, Al-Imam Asy-Syafi`i, Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.
    Syarat Harus Sudah Haji
    Al-hajju anil ghair mensyaratkan bahwa orang yang melakukan badal itu harus sudah menunaikan ibadah haji terlebih dahulu, karena itu merupakan kewaiban tiap muslim yang mampu. Setelah kewajibannya sudah tunai dilaksanakan, bolehlah dia melakukan haji sunnah atau pergi haji yang diniatkan untuk orang lain.
    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW mendengar seseorang bertalbiyah, “Labbaikallhumma ‘an Syubrumah.” Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah Syubrumah?” Dia menjawab, “Saudara saya.” “Apakah kam sendiri sudah melaksanakan ibadah haji?” “Belum.” Rasulullah SAW bersabda, “Jadikan haji ini adalah haji untukmu terebih dahulu. Baru nanti (haji tahun depan) kamu boleh berhaji untuk Syubrumah.” (HR )
    Dalam hal ini tidak disyaratkan harus orang tua sendiri atau bukan, juga tidak disyaratkan harus sama jenis kelaminnya. Juga tidak disyaratkan harus sudah meninggal.
    Tentunya baik dan buruknya kualitas ibadah itu akan berpengaruh kepada nilai dan pahala disisi Allah SWT. Dan bila diniatkan haji itu untuk orang lain, tentu saja apa yang diterima oleh orang lain itu sesuai dengan amal yang dilakukannya.
    Adapun amalan selama mengerjakan haji tapi di luar ritual ibadah haji, apakah otomatis disampaikan kepada yang diniatkan atau tidak, tentu kembali masalahnya kepada niat awalnya. Bila niatnya semata-mata membadalkan ibadah haji, maka yang sampai pahalanya semata-mata pahala ibadah haji saja. Sedangkan amalan lainnya di luar ibadah haji, maka tentu tidak sampai sebagaimana niatnya.
    Sebaliknya, bila yang bersangkutan sejak awal berniat untuk melimpahkan pahala ibadah lainnya seperti baca Al-Quran, zikir, umrah dan lainnya kepada yang diniatkannya, ada pendapat yang mengatakan bisa tersampaikan.

    • 60 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Remaja.

    Berbakti tidak harus dalam bentuk bertemu langsung. Bisa saja berbakti dengan cara jarak jauh.

    Apalagi di masa kita sekarang sudah banyak teknologi yang memudahkan, bisa digunakan. Bisa mendekatkan yang jauh. Maka sering-seringlah berkomunikasi, baik lewat telepon atau lewat media online lainnya, termasuk bervideo call pun bisa.

    Ditambah lagi di zaman sekarang sudah banyak fasilitas pengiriman paket. Sering-seringlah kirim hadiah, apakah makanan, pakaian, atau apapun yang sekiranya bisa mendekatkan.

    Terakhir jangan lupa selalu doakan orang tua dalam tiap untaian dosa.

    • 2494 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Akhlak.

    Ciri-ciri pemimpin yang zalim antara lain :

    1. Membiarkan rakyatnya hidup dengan kemiskinan dan kemelaratan, korupsi merajalela dibiarkan bahkan malah ikut-ikutan juga bekerja sama dengan para koruptor.

    2. Pemimpin yang niatnya hanya cuma mau jadi pejabat, lalu mengeruk keuntungan dan kekayaan hanya untuk diri dan kelompoknya saja.

    3. Pemimpin yang tidak mau bekerja, tidak mau turun tangan, hanya duduk-duduk saja menikmati jabatannya. Tidak ada hasil nyata selama dia menjabat.

    4. Pemimpin yang mengintimidasi kelompok minoritas

    5. Pemimpin yang tidak transparan dalam penggunaan anggaran keuangan.

    • 100 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on June 27, 2019 in Keluarga.

    Sebenarnya Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah. Tidak seperti yang banyak dipahami orang.

    Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW melarang orang yang melarang wanita mau datang ke masjid.

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke Masjid, sedangkan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dan lafadz ini dari Abu Dawud).

    Dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin (untuk berjama’ah di masjid) maka janganlah mencegahnya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim, lafadz ini dari Al-Bukhari).

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu mencegah kaum wanita untuk pergi ke masjid, tetapi hendaklah mereka keluar tanpa wangi-wangian.” (HR Abu Dawud).

     

    Padahal di masjid sudah bisa dipastikan banyak orang laki-laki. Dan perjalanan dari rumah ke masjid serta begitu juga kembalinya, pasti akan bertemu dengan lawan jenis yang bukan mahram.

    Bahkan masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW tidak ada hijabnya. Tidak seperti masjid kita di zaman sekarang ini yang ada tabir penghalangnya. Di masa kenabian, posisi jamaah laki-laki dan jamaah wanita hanya dipisahkan tempatnya saja.

    Shaf laki-laki di bagian depan dan shaf wanita di bagian belakang. Anak kecil yang laki di belakang shaf laki dan anak kecil perempuan berada di sfah terdepan dari shaf perempuan. Dan tidak ada kain, tembok, tanaman atau penghalang apapun di antara barisan laki dan perempuan.

    Jadi kalau dikatakan bahwa wanita itu haram keluar rumah, harus lebih banyak dikurung di dalamnya, rasanya tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW dan salafus-shalih. Boleh dibilang mengurung wanita di dalam rumah adalah sebuah perkara bid’ah yang sesat.

    Isteri Rasulullah SAW: Khadidjah radhiyallahu anha

    Rasulullah SAW punya seorang isteri yang tidak hanya berdiam diri serta bersembunyi di dalam kamarnya. Sebaliknya, dia adalah seorang wanita yang aktif dalam dunia bisnis. Bahkan sebelum beliau menikahinya, beliau pernah menjalin kerjasama bisnis ke negeri Syam. Setelah menikahinya, tidak berarti isterinya itu berhenti dari aktifitasnya.

    Bahkan harta hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di masa awal. Di masa itu, belum ada sumber-sumber dana penunjang dakwah yang bisa diandalkan. Satu-satunya adalah dari kocek seorang donatur setia yaitu isterinya yang pebisnis kondang.

    Tentu tidak bisa dibayangkan kalau sebagai pebisnis, sosok Khadijah adalah tipe wanita rumahan yang tidak tahu dunia luar. Sebab bila demikian,
    bagaimana dia bisa menjalankan bisnisnya itu dengan baik, sementara dia tidak punya akses informasi sedikit pun di balik tembok rumahnya.

    Di sini kita bisa paham bahwa seorang isteri nabi sekalipun punya kesempatan untuk keluar rumah mengurus bisnisnya. Bahkan meski telah memiliki anak sekalipun, sebab sejarah mencatat bahwa Khadijah ra. dikaruniai beberapa orang anak dari Rasulullah SAW.

    Isteri Rasulullah SAW: ‘Aisyah radhiyallahu anha

    Sepeninggal Khadijah, Rasulullah beristrikan Aisyah radhiyallahu anha, seorang wanita cerdas, muda dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi. Posisinya sebagai seorang isteri tidak menghalanginya dari aktif di tengah masyarakat.

    Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali ikut keluar Madinah ikut berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang memapu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.

    Bahkan Aisyah ra. pun tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam peperangan. Sehingga perang itu disebut dengan perang unta (jamal), karena saat itu Aisyah radhiyallahu anha naik seekor unta.

    Banyak Pekerjaan Yang Hanya Bisa Ditangani Wanita

    Keluar rumahnya seorang wanita untuk bekerja pada hakikatnya memang dibenarkan dalam syariat Islam. Tapi memang tidak semua bentuk pekerjaan boleh dilakukan oleh para wanita. Hukumnya haram kalau wanita yang melakukannya.

    Sebaliknya, realitas syariah menetapkan ada juga begitu banyak pekerjaan yang justru haram dilakukan oleh laki-laki. Harus dikerjakan oleh para wanita.

    Maka kalau sampai para wanita dilarang mengerjakan pekerjaan yang memang menjadi tugasnya secara syar’i, jelaslah kita telah menjerumuskan umat Islam ke dalam lembah yang diharamkan Allah SWT.

    Misalnya tugas membantu para wanita bersalin. Harusnya bukan dokter atau bidan laki-laki. Hukumnya justru haram kalau dokternya laki-laki. Dan sebaliknya, hukumnya fardhu bagi wanita untuk membantu proses persalinan.

    Maka sekian juta wanita muslimah wajib keluar rumah untuk menjadi dokter dan para medis di klinik, rumah sakit, lab, dan sejenisnya. Karena ada sekian ratus juta penduduk dengan jenis kelamin wanita. Mereka butuh pelayanan kesehatan yang terkait dengan fisik. Maka hanya para wanita saja yang boleh melayani mereka.

    Lebih besar dari itu, Islam mewajibkan para wanita belajar dan bersekolah, bukan hanya sampai tingkat pendidikan wajib 9 tahun, tapi juga sampai posisi yang tertinggi.

    Dan untuk itu wajib ada guru yang berjenis kelamin wanita. Karena idealnya, harus ada sekolah khusus untuk para wanita. Dan oleh karena itu dibutuhkan jutaan guru yang berjenis kelamin wanita. Mereka wajib keluar rumah untuk mengajar. Dan para murid yang wanita, juga wajib keluar rumah untuk belajar.

    Kalau dikatakan wanita tidak boleh keluar rumah, maka hukumnya bertentangan dengan realitas hukum fiqih yang ada.

    Para Pengurung Wanita

    Di dunia Islam memang ada sedikit kalangan yang punya kecenderungan ingin mengurung para wanita di dalam rumah. Alasannya karena para wanita sumber fitnah.

    Alasan ini ada benarnya, namun pada batas tertentu sebenarnya sudah keterlaluan juga. Benar bahwa begitu banyak fitnah yang terjadi karena para wanita keluar rumah. Tidak ada yang menyangkal kebenaran hal itu. Dan kita pun cukup prihatin dengan berbagai kasus perzianaan yang begitu marak karena kita membiarkan para wanita keluar rumah.

    Namun di sisi yang lain, tentu bukan pada tempatnya untuk begitu saja mengurung para wanita di dalam rumah. Sebab wanita bukan binatang peliharaan yang kerjanya hanya sekedar memuaskan nafsu seksual suami. Di sisi lain, wanita juga manusia, yang butuh berinteraksi dengan sesama jenisnya, juga dengan lingkungannya, termasuk dengan alam semesta.

    Polemik Keshahihan Hadits: Wanita Adalah Aurat

    Ada juga yang melarang wanita dengan menggunakan dalil merupakan hadits Nabi SAW.

    Diriwayatkan oleh Ibnu Umar marfu`an bahwa, “Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya.(HR Tirmizy)

    Dari segi matan, hadits ini memang cukup jelas menyebutkan tentang keluarnya wanita akan menjadikan para syetan beristisyraf. Sehingga secara sekilas di dalam kesan bahwa ketika seorang wanita keluar rumah, maka syetan akan menaikinya dan akan menjadi sumber masalah baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

    Karena itu banyak ulama yang ingin mengurung wanita di dalam rumah yang menjadikan hadits ini sebagai hadits ‘gacoan’. Ke mana-mana yang disebut-sebut adalah hadits ini.

    Tapi apakah benar hadits ini 100% shahih tanpa kritik?

    Memang kalau Nashiruddin Al-Albani jelas menshahihkan hadits ini. Lihat kitab beliau Silsilah Ahadits Shahihah nomor 2688. Juga terdapat dalam Shahih At-Targhib 246, Shahih Tirmizy 936, Shahih Al-Jami’ 6690, Shahih Ibnu Khuzaemah 1685.

    Sebab isi hadits ini sejalan dengan pendapatnya yang ingin mengurung para wanita di dalam rumah.

    Namun di sisi lain, tidak sedikit dari para ulama hadits banyak yang mempersoalkan kedudukan hadits ini. Alasannya ada beberapa hal, antara lain:

    1. Sesungguhnya isnad hadits ini tidak tersambung kepada Rasululah SAW, isnadnya munqathi’ (terputus). Karena Hubaib bin Abi Tsabit, salah seorang di antara mata rantai perawinya dikenal sebagai mudallis. Dia tidak mendengar langsung dari Ibnu Umar.
    2. Dikatakan hadits ini shahih terdapat dalam Al-Ausath-nya At-Tabrani. Padahal Mu’jam At-Thabrani Al-Awsath bukan kitab sunan. At-Thabarani sendiri tidak meniatkannya sebagai kitab shahih. Beliau justru hanya sekedar mengumpulkan hadits-hadits yang ma’lul (bermasalah). Agar orang-orang tahu kemunkarannya.

    Sayangnya, ada orang-orang yang datang kemudian, malah menshahihkan hadits-hadits di dalamnya. Seandainya Imam At-thabarani masih hidup dan tahu apa yang dilakukan orang-orang sekarang ini, pastilah beliau tidak menuliskannya.

    1. Imam At-Thabarani pada dasarnya juga tidak meriwayatkan hadits itu di dalam Al-Awsathnya.
    2. Dikatakan bahwa Ibnu Khuzaemah juga menshahihkan hadits ini. Padahal perkataan itu tidak lain adalah tadlis. Ibnu Khuzaemah tidak pernah menshahihkan hadits ini. Bahkan beliau menjelaskan ‘illatnya. Beliau menuliskan sebuah judul: Babu Ikhtiyari Shalatil Mar’ah fi Baitiha ‘ala Shalatiha fil Masjid, in tsabatal hadits.

    Kata penutup in tsabatal hadits justru menunjukkan bahwa beliau belum memastikan keshahihan hadits itu.

    Dan perdebatan antara para muhaddits tidak ada habisnya tentang keshahihan hadits ini. Sebagian bilang itu hadits shahih tapi yang lain bilang itu hadits yang bermasalah.

    Maka ketika ada sebagian kalangan yang ingin mengurung wanita di dalam rumah dengan berdasarkan haditsi ini, tidak semua sepakat membenarkannya.

    Syarat dan Adab Wanita Keluar Rumah

    Meski pun tidak ada dalil yang qath’i tentang haramnya wanita keluar rumah, namun para ulama tetap menempatkan beberapa syarat atas kebolehan wanita keluar rumah. Sebab memang ada peraturannya, tidak asal keluar rumah begitu saja, sebagaimana para wanita di dunia barat yang tidak punya nilai etika.

    1. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

    Menutup aurat adalah syarat mutlak yang wajib dipenuhi sebelum seorang wanita keluar rumah. Karena Allah SWT telah berfirman dengan tegas di dalam Al-Quran:

    Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”(QS Al-Ahzaab 27)

    1. Tidak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

    Wanita yang keluar rumah dan menutup auratnya, juga tetap harus menjaga dandanannya. Dia dilarang memamerkan perhiasan dan kecantikannya, terutama di hadapan para laki-laki. Karena Allah SWT telah berfirman di dalam Quran:

    Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama` (QS Al-Ahzaab 33)

    1. Tidak Melunakkan, Memerdukan atau Mendesahkan Suara

    Selain itu para wanita yang keluar rumah juga diharamkan bertingkah laku yang akan menimbulkan syahwat para laki-laki. Seperti mengeluarkan suara yang terkesan menggoda, atau memerdukannya atau bahkan mendesah-desahkan suaranya.

    Larangaannya tegas dan jelas di dalam Al-Quran, tidak ada urusan shahih atau tidak shahih, karena semua ayat Quran hukumnya shahih.

    Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik` (QS Al-Ahzaab 32).

    1. Menjaga Pandangan

    Wanita yang keluar rumah juga diwajibkan untuk menjaga pandangannya. Bukan hanya laki-laki saja yang haram jelalatan matanya, tetapi wanita juga haram lirak-lirik.

    Hal itu ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

    Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ……..”(QS An Nuur 30-31)

    1. Aman dari Fitnah

    Kebolehan wanita keluar rumah akan batal dengan sendirinya manakala ada fitnah, atau keadaan yang tidak aman. Hal ini sudah merupakan ijma` ulama.

    Syarat ini didapat dari hadits Nabi SAW tentang kabar beliau bahwa suatu ketika akan ada wanita yan berjalan dari Hirah ke Baitullah sendirian tidak takut apa pun kecuali takut kepada Allah SWT.

    1. Mendapatkan Izin Dari Orang Tua atau Suaminya

    Ini adalah yang paling sering luput dari perhatian para muslimah terutama aktifis dakwah. Sebab sekali mereka ikut terjun dalam dunia aktifitas rutinitas, maka seolah-olah izin dari pihak orang tua maupun suami menjadi hal yang terlupakan. Padahal izin adalah hal yang perlu didapatkan dan tidak bisa disepelekan begitu saja.

    Pada dasarnya memang wanita harus mendapatkan izin suami untuk keluar rumah. Dan ini sebenarnya sangat manusiawi sekali. Tidak merupakan beban dan paksaan atau menjadi halangan.

    Izin dari suami harus dipahami sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian serta wujud dari tanggung-jawab seorang yang idealnya menjadi pelindung.
    Semakin harmonis sebuah rumah tangga, maka semakin wajar bila urusan izin keluar rumah ini lebih diperhatikan.

    Namun tidak harus juga diterapkan secara kaku yang mengesankan bahwa Islam mengekang kebebasan wanita.

    • 135 views
    • 1 answers
    • 0 votes