Hayati Syarif's Profile
Ustadzah
938
Points

Questions
0

Answers
14

  • Ustadzah Asked on April 4, 2020 in Nikah.

    Wa’alaikum salam wr wb.

    Ananda yang sholehah, ketika seorang muslimah telah menikah maka ia bukan lagi di bawah tanggungan ayahnya. Tanggung jawab ayah dalam memenuhi kebutuhan anak muslimahnya baik dalam hal kebutuhan fisik, akal dan hatinya berpindah ke tangan sang suami. Maka karena itu setelah menikah ananda menjadi tanggung jawab suami dan mempunyai kewajiban utk taat kepada suami selama suami mengajak pada kebaikan. Termasuk juga jika suami mengajak istrinya untuk ikut serta bersama dengannya. Karena sejatinya setelah menikah pasti semua orang ingin tinggal bersama membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah yang menjadi tujuan pernikahan itu sendiri.

    Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya dijadikan untukmu, isteri-isteri dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram padanya, dan dijadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda ( Kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir  (QS. Rum: 21).

    Dan di dalam surat At-thalaq ayat :6 Allah berfirman:

    Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal sesuai kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (QS. At-Thalaq: 6)

    Oleh karenanya, harusnya semangat yang di bangun dalam berumah tangga adalah tinggal bersama hidup bersama.jikapun ada sesuatu yang menyebabkan hati tidak lapang maka komunikasi kan bersama suami.

    • 85 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on March 19, 2018 in Nikah.

    Wa’alaikumus salam wr wb. Dinda yang disayang Allah kriteria sholeh dihadapan Allah itu ketika melaksanakan apa yg di perintahkan Allah dan meninggalkan semua larangan Allah. Dinda bisa melihat apakah beliau itu shalat 5 waktu ( dimesjid atau tdk), suka mengaji, tidak merokok, mempunyai akhlak yg baik ( sopan, baik tutur katanya, suka menolong, hormat pada yg tua, sayang pada yg lebih muda, tahu batasan hub antara laki2 dan perempuan yg non muhrim, tidak mengajak pacaran). Jika memang Beliau memiliki kriteria diatas maka yakinkan orang tua dengan bukti-bukti nyata. Mungkin salah satu caranya ajak orangtua shalat kemesjid tempat biasa beliau shalat, agar orang tua bisa melihat sendiri. Tidak cukup hanya dengan surat perjanjian tidak mengajak Murtad. Namun jika memang orang tua blm berlapang dada maka yg harus diingat Ridha Allah ada pada Ridha orang tua.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رضى الرب في رضى الوالد, وسخط الرب في سخط الوالد ” Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua ” (HR at-Tirmidzi) Ridha Allah dan Ridha orang tua yang ingin kita cari. Jangan sampai masalah ini membuat jarak yg renggang antara dinda dan orangtua. Maka yakinlah ketika sudah berusaha dan orang tua masih tdk mengizinkan, dinda harus berhusnu dhan Allah pasti menginginkan kebaikan utk diri dinda.

    • 935 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 28, 2020 in Keluarga.

    Wa’alaikum salam wr wb.

    Nanda yang sholeh, Alhamdulillah orangtua nanda memiliki anak yg sholeh yang mengingatkan orangtuanya akan kebaikan. Tugas nanda selesai setelah menyampaikan kebaikan. Mungkin cara menyampaikan pesan kebaikan pada orangtua yang perlu di perhatikan lagi. Karena Menasehati itu terdengar seperti mengurui. Alangkah bagusnya nanda meminta orang yg di sengani oleh ayah utk menyampaikan hal ini. Apalagi nanda sudah pernah mengingatkan ayah akan bahaya merokok.

    Selanjutnya mohon kepada Allah kebaikan utk kedua orang tua. Juga agar orang tua nanda diberikan kemudahan utk meninggalkan kebiasan merokoknya. Jangan pernah bosan utk berdoa kepada Allah.

    Beruntung orangtua nanda memiliki anak yang sholeh yang senantiasa mendoakan orangtuanya.
    Rasulullah saw bersabda: jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang sholeh” (HR Muslim)

    • 49 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 27, 2019 in Fiqih.

    Wa’alaikum salam wr wb

    Semoga Allah senantiasa mencurahkan lindungannya kepada ananda yang menjaga diri dari perbuatan dosa.

    Khitbah atau melamar dalam islam adalah permintaan menikah pihak laki-laki kepada pihak perempuan.
    Ketika seorang lelaki sholeh mempunyai niat utk menikah agar terhindar dari dosa maka ia akan merealisasikannya dengan mengkhitbah perempuan sholehah yang bisa dijadikan pendamping hidupnya dalam beribadah kepada Allah. Ketika khitbahnya di terima maka proses selanjutnya adalah menetapkan tanggal pernikahan. Tidak ada ketentuan lamanya waktu antara khitbah dan menikah. Semuanya sesuai dengan kesepakatan musyawarah antara kedua belah pihak. Namun yang perlu di ingat adalah :
    1. Sebelum akad nikah, keduanya harus saling menjaga diri. Karena belum menjadi suami istri. Bahkan masih ada kemungkinan putus.
    2. Rentang waktu tersebut bukan berarti pelegalan berhubungan lebih dekat untuk berpacaran, baik berjumpa atau lewat sms atau wa dan sejenisnya. Hati-hati syaitan senantiasa jeli melihat celah kelemahan masing-masing.
    3. Ada baiknya menyegerakan waktu menikah. Ketika sudah berniat menikah utk beribadah maka insya Allah, Allah akan mudahkan.
    Rasulullah saw mengingatkan, “Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (Saat itu) di pagi harinya seseorang beriman tetapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamannya dengan harta dunia,” (HR. Muslim dan Abu Hurairah).

    Adapun jika belum mampu untuk melamar maka solusinya adalah menahan diri dengan berpuasa. Ini menjadi ajang mendekatkan diri kepada Allah juga. Seraya berdoa agar Allah mudahkan rencana menikah yg sdh di niatkan.

    • 49196 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 17, 2019 in Umum.

     

    Wa’alaikum salam wr wb.
    Sebelum aqad nikah apapun bisa terjadi. Oleh karenanya dalam Islam ada aturan yang membawa kebaikan bagi semua. Walaupun sdh dalam pinangan (khitbah) tetap saja calon istri tersebut bukan mahram maka berlaku hukum syariat utk menjaga adab pergaulan. Zaman sekarang banyak kita lihat ketika sdh mengkhitbah seolah-olah sdh berlaku hub dekat sampai melewati batas. Selayaknya mahar tadi disimpan pada orangtua sendiri bukan pada calon istri.

    Syeikh Said Sabiq dalam fiqhus sunnah mengatakan:
    “Lamaran itu hanya janji perkawinan, bukan akad yang mengikat. Masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut berhak untuk mengurungkan rencananya yang telah disepakati. Pembuat syariat (Allah) tidak menetapkan sanksi material bagi pihak yang menyalahi janji karena pembatalannya meskipun tindakan demikian dianggap sebagai akhlak tercela dan pelakunya disifatkan sebagai orang munafik kecuali jika ada sejumlah hal situasi darurat yang memaksanya untuk menyalahi janji tersebut,”

    “Pihak laki-laki berhak meminta kembali mahar yang diberikan lebih dahulu (saat lamaran) karena mahar diberikan untuk perkawinan dan sebagai imbalan darinya (pihak laki-laki). Selama perkawinan tidak terwujud, maka kepemilikan mahar sedikit pun tidak sah dan wajib dikembalikan kepada pemiliknya karena mahar itu murni hak pihak laki-laki,” (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah)

    • 238 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on July 5, 2019 in Nikah.

    Wa’alaikumus salam wr wb

    Jika memang sebelumnya sudah mengenal pribadi calon pasangan dari latar belakang, pribadi dari sifat dan kebiasaan, kondisi keluarganya juga ttg visi misi menikah. Dan merasa tidak ada hal yg ingin diketahui lebih lagi. Maka tidak mengapa jika tidak ta’aruf. Namun jika dari informasi yang didapat banyak hal yg ingin diketahui lebih dalam terkait dengan pribadi juga keluarganya maka lebih baik untuk ta’aruf terlebih dahulu. Lihat dan tanyakan secara langsung misalnya visi juga misi menikah, kriteria fisik, karakter(sifat), usia, pendidikan, pekerjaan, domisili, suku juga mungkin kriteria dari orangtua. Proses Ta’aruf ini ditemanin oleh orang ketiga (mediator) yang dipercaya, dan dapat menyimpan rahasia ini. Karena sekali lagi ketika proses ta’aruf selesai bukan berarti serta merta proses selesai dan langsung menikah. Namun ini berupakan sebuah proses agar kedua pasangan ini dapat berpikir lebih matang untuk melanjutkan kejenjang pernikahan atau sebaliknya. Sebaiknya proses ini di berengi dengan istikharah.
    Mengapa proses ta’aruf penting karena agar kedua calon bisa melihat juga mengetahui kepribadian calon pasangannya kemudian bisa berfikir dengan kondisi yang ada untuk membuat keputusan.

    Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu bahwasanya beliau melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam pun berkata kepadanya “Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan di antara kalian berdua.”

    • 283 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 22, 2020 in Wanita.

    Wa’alaikumus salam wr wb

    Menikah adalah ibadah dan sunnah Rasulullah saw, juga merupakan fitrah manusia. Karena ibadah maka pasti ada banyak kebaikan di dalamnya.
    Termasuk di dalamnya rezeki.
    firman Allah dalam surat an-Nuur ayat 32 yang berbunyi,” …jika mereka miskin, Allah Swt akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Swt Maha luas (pemberiaan-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

    Dalam pandangan islam kewajiban untuk mencari nafkah ada pada pundak suami. Apakah istri tidak boleh bekerja pasca menikah?. Boleh saja ketika sudah di musyawarahkan bersama suami, dengan seizin dan ridha suami. Dalam sebuah pernikahan tentu yang diingikan adalah keberkahan bukan pada banyaknya materi. Terkadang kita lupa bahwa yang namanya rezeki itu bukan hanya materi namun ada yang jauh yang lebih besar dari itu berupa keimanan, kesehatan, keluarga, sahabat, kerukunan, juga ketentraman.

    Jika nanda merasakan setelah menikah rezeki jadi sulit maka telisik lagi

    1. Apakah niat menikah karena ingin mendapat ridha Allah atau ingin mendapatkan kemapanan.
    2. Apakah proses dalam memilih pasangan sesuai dengan syariat. Demikian juga proses pernikahannya.
    3. Apakah di restui oleh orang tua.
    4. Apakah hak dan kewajiban suami/istri telah dijalankan.
    5. Apakah selama ini ada hak orang lain yang terzalimi.
    6. Apakah harta yang selama ini di peroleh dengan cara halal.

    Jangan pernah ragu terhadap rezeki yang Allah berikan. Apapun yang Allah berikan, syukuri dengan sepenuh hati. Bukankah Allah akan menambah nikmatnya bagi mereka yang pandai bersyukur.

     

    • 104 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 22, 2019 in Akhlak.

    Wa’alaikum salam wr wb

    Tujuan pernikahan dalam islam untuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian untuk mendapatkan sakinah ( ketenangan). Sakinah diperoleh jika ada mawaddah (cinta) dan rahmah ( kasih sayang).
    Secara fitrah dua orang yang telah menikah selalu ingin bersama untuk mendapatkan sakinah dengan mencurahkan mawaddah dan rahmahnya. Mungkin ada sesuatu hal yang terjadi diantara suami istri sehingga suami tidak mau serumah dengan istri. Maka harus di bangun komunikasi antara suami istri. Menanyakan pada suami alasanya tidak mau tinggal serumah, apa karena tak mau tinggal di rumah mertua atau karena pekerjaan yg menyebabkan tidak bisa bersama, atau karena masih tugas belajar. Jadi harus dicari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Karena setelah menikah seorang suami mempunyai tanggung jawab terhadap istrinya. Termasuk tanggung jawab tempat tinggal.

    Jika karena tugas belajar dan uang suami terbatas maka istri harus bersabar dan berlapang dada, bangun komunikasi dan saling mendoakan.

    Jika karena tdk ingin tinggal di rumah mertua maka cari solusinya apa dengan menyewa rumah.
    Intinya cari tahu dulu penyebabnya apa.

    • 525 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on August 14, 2020 in Keluarga.
    Wa’alaikum salam wr wb

    Bakti kepada Orang tua adalah cara kita utk mendapatkan surga Allah. Bagi kita yang masih Allah berikan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tua secara langsung maka jangan lewatkan kesempatan ini.
    Rasulullah saw bersabda” Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya”. ( HR Tirmizi, Ibnu Majah)

    Lalu bagaimana caranya kita berbakti kepada kedua orangtua kita setelah salah satu atau keduanya telah meninggal dunia?.

    Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi Ra ia berkata: ” suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah saw. Ketika itu datang seseorang dari bani salimah, ia berkata,” wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk bakti kepada kedua orangtuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi saw menjawab ” iya, mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin gubungan silaturahim dengan keluarga kedua orangtua yang tidak pernah terjalin, dan memuliakan teman dekat keduanya.” ( HR Abu Daud)

    Bisa juga dengan bersedekah atas nama orang tua yang telah meninggal dunia.

    Semoga Allah mudahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita.

    • 34 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on October 12, 2017 in Aqidah.

    Mencintai lawan jenis adalah fitrah. Allah sebutkan didalam surah Ali Imran ayat 14 : “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.

    Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yg baik.” Jadi rasa cinta terhadap apa yg Allah sebutkan dalam ayat di atas adalah fitrah. Namun kata Allah di sisi Allah lah tempat kembali terbaik. Jadi harusnya tolak ukur yang kita gunakan sebagai seorang muslim adalah Allah suka atau tidak. Allah Ridha atau tidak.

    Dalam surat Al- Baqarah ayat: 221 Allah berfirman: “Budak mukminah itu lebih baik daripada wanita merdeka nonmuslim, meskipun dia membuatmu terpesona.”

    “Jadi jelaslah bahwa seorang laki-laki muslim harus memilih perempuan muslimah”

    • 3974 views
    • 2 answers
    • 0 votes