Hayati Syarif's Profile
Ustadzah
930
Points

Questions
0

Answers
8

  • Ustadzah Asked on March 19, 2018 in Nikah.

    Wa’alaikumus salam wr wb. Dinda yang disayang Allah kriteria sholeh dihadapan Allah itu ketika melaksanakan apa yg di perintahkan Allah dan meninggalkan semua larangan Allah. Dinda bisa melihat apakah beliau itu shalat 5 waktu ( dimesjid atau tdk), suka mengaji, tidak merokok, mempunyai akhlak yg baik ( sopan, baik tutur katanya, suka menolong, hormat pada yg tua, sayang pada yg lebih muda, tahu batasan hub antara laki2 dan perempuan yg non muhrim, tidak mengajak pacaran). Jika memang Beliau memiliki kriteria diatas maka yakinkan orang tua dengan bukti-bukti nyata. Mungkin salah satu caranya ajak orangtua shalat kemesjid tempat biasa beliau shalat, agar orang tua bisa melihat sendiri. Tidak cukup hanya dengan surat perjanjian tidak mengajak Murtad. Namun jika memang orang tua blm berlapang dada maka yg harus diingat Ridha Allah ada pada Ridha orang tua.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رضى الرب في رضى الوالد, وسخط الرب في سخط الوالد ” Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua ” (HR at-Tirmidzi) Ridha Allah dan Ridha orang tua yang ingin kita cari. Jangan sampai masalah ini membuat jarak yg renggang antara dinda dan orangtua. Maka yakinlah ketika sudah berusaha dan orang tua masih tdk mengizinkan, dinda harus berhusnu dhan Allah pasti menginginkan kebaikan utk diri dinda.

    • 800 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 27, 2019 in Fiqih.

    Wa’alaikum salam wr wb

    Semoga Allah senantiasa mencurahkan lindungannya kepada ananda yang menjaga diri dari perbuatan dosa.

    Khitbah atau melamar dalam islam adalah permintaan menikah pihak laki-laki kepada pihak perempuan.
    Ketika seorang lelaki sholeh mempunyai niat utk menikah agar terhindar dari dosa maka ia akan merealisasikannya dengan mengkhitbah perempuan sholehah yang bisa dijadikan pendamping hidupnya dalam beribadah kepada Allah. Ketika khitbahnya di terima maka proses selanjutnya adalah menetapkan tanggal pernikahan. Tidak ada ketentuan lamanya waktu antara khitbah dan menikah. Semuanya sesuai dengan kesepakatan musyawarah antara kedua belah pihak. Namun yang perlu di ingat adalah :
    1. Sebelum akad nikah, keduanya harus saling menjaga diri. Karena belum menjadi suami istri. Bahkan masih ada kemungkinan putus.
    2. Rentang waktu tersebut bukan berarti pelegalan berhubungan lebih dekat untuk berpacaran, baik berjumpa atau lewat sms atau wa dan sejenisnya. Hati-hati syaitan senantiasa jeli melihat celah kelemahan masing-masing.
    3. Ada baiknya menyegerakan waktu menikah. Ketika sudah berniat menikah utk beribadah maka insya Allah, Allah akan mudahkan.
    Rasulullah saw mengingatkan, “Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (Saat itu) di pagi harinya seseorang beriman tetapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamannya dengan harta dunia,” (HR. Muslim dan Abu Hurairah).

    Adapun jika belum mampu untuk melamar maka solusinya adalah menahan diri dengan berpuasa. Ini menjadi ajang mendekatkan diri kepada Allah juga. Seraya berdoa agar Allah mudahkan rencana menikah yg sdh di niatkan.

    • 45388 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 17, 2019 in Umum.

     

    Wa’alaikum salam wr wb.
    Sebelum aqad nikah apapun bisa terjadi. Oleh karenanya dalam Islam ada aturan yang membawa kebaikan bagi semua. Walaupun sdh dalam pinangan (khitbah) tetap saja calon istri tersebut bukan mahram maka berlaku hukum syariat utk menjaga adab pergaulan. Zaman sekarang banyak kita lihat ketika sdh mengkhitbah seolah-olah sdh berlaku hub dekat sampai melewati batas. Selayaknya mahar tadi disimpan pada orangtua sendiri bukan pada calon istri.

    Syeikh Said Sabiq dalam fiqhus sunnah mengatakan:
    “Lamaran itu hanya janji perkawinan, bukan akad yang mengikat. Masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut berhak untuk mengurungkan rencananya yang telah disepakati. Pembuat syariat (Allah) tidak menetapkan sanksi material bagi pihak yang menyalahi janji karena pembatalannya meskipun tindakan demikian dianggap sebagai akhlak tercela dan pelakunya disifatkan sebagai orang munafik kecuali jika ada sejumlah hal situasi darurat yang memaksanya untuk menyalahi janji tersebut,”

    “Pihak laki-laki berhak meminta kembali mahar yang diberikan lebih dahulu (saat lamaran) karena mahar diberikan untuk perkawinan dan sebagai imbalan darinya (pihak laki-laki). Selama perkawinan tidak terwujud, maka kepemilikan mahar sedikit pun tidak sah dan wajib dikembalikan kepada pemiliknya karena mahar itu murni hak pihak laki-laki,” (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah)

    • 110 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on July 5, 2019 in Nikah.

    Wa’alaikumus salam wr wb

    Jika memang sebelumnya sudah mengenal pribadi calon pasangan dari latar belakang, pribadi dari sifat dan kebiasaan, kondisi keluarganya juga ttg visi misi menikah. Dan merasa tidak ada hal yg ingin diketahui lebih lagi. Maka tidak mengapa jika tidak ta’aruf. Namun jika dari informasi yang didapat banyak hal yg ingin diketahui lebih dalam terkait dengan pribadi juga keluarganya maka lebih baik untuk ta’aruf terlebih dahulu. Lihat dan tanyakan secara langsung misalnya visi juga misi menikah, kriteria fisik, karakter(sifat), usia, pendidikan, pekerjaan, domisili, suku juga mungkin kriteria dari orangtua. Proses Ta’aruf ini ditemanin oleh orang ketiga (mediator) yang dipercaya, dan dapat menyimpan rahasia ini. Karena sekali lagi ketika proses ta’aruf selesai bukan berarti serta merta proses selesai dan langsung menikah. Namun ini berupakan sebuah proses agar kedua pasangan ini dapat berpikir lebih matang untuk melanjutkan kejenjang pernikahan atau sebaliknya. Sebaiknya proses ini di berengi dengan istikharah.
    Mengapa proses ta’aruf penting karena agar kedua calon bisa melihat juga mengetahui kepribadian calon pasangannya kemudian bisa berfikir dengan kondisi yang ada untuk membuat keputusan.

    Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu bahwasanya beliau melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam pun berkata kepadanya “Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan di antara kalian berdua.”

    • 125 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 22, 2019 in Akhlak.

    Wa’alaikum salam wr wb

    Tujuan pernikahan dalam islam untuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian untuk mendapatkan sakinah ( ketenangan). Sakinah diperoleh jika ada mawaddah (cinta) dan rahmah ( kasih sayang).
    Secara fitrah dua orang yang telah menikah selalu ingin bersama untuk mendapatkan sakinah dengan mencurahkan mawaddah dan rahmahnya. Mungkin ada sesuatu hal yang terjadi diantara suami istri sehingga suami tidak mau serumah dengan istri. Maka harus di bangun komunikasi antara suami istri. Menanyakan pada suami alasanya tidak mau tinggal serumah, apa karena tak mau tinggal di rumah mertua atau karena pekerjaan yg menyebabkan tidak bisa bersama, atau karena masih tugas belajar. Jadi harus dicari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Karena setelah menikah seorang suami mempunyai tanggung jawab terhadap istrinya. Termasuk tanggung jawab tempat tinggal.

    Jika karena tugas belajar dan uang suami terbatas maka istri harus bersabar dan berlapang dada, bangun komunikasi dan saling mendoakan.

    Jika karena tdk ingin tinggal di rumah mertua maka cari solusinya apa dengan menyewa rumah.
    Intinya cari tahu dulu penyebabnya apa.

    • 347 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on October 12, 2017 in Aqidah.

    Mencintai lawan jenis adalah fitrah. Allah sebutkan didalam surah Ali Imran ayat 14 : “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.

    Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yg baik.” Jadi rasa cinta terhadap apa yg Allah sebutkan dalam ayat di atas adalah fitrah. Namun kata Allah di sisi Allah lah tempat kembali terbaik. Jadi harusnya tolak ukur yang kita gunakan sebagai seorang muslim adalah Allah suka atau tidak. Allah Ridha atau tidak.

    Dalam surat Al- Baqarah ayat: 221 Allah berfirman: “Budak mukminah itu lebih baik daripada wanita merdeka nonmuslim, meskipun dia membuatmu terpesona.”

    “Jadi jelaslah bahwa seorang laki-laki muslim harus memilih perempuan muslimah”

    • 3697 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on April 11, 2017 in Umum.

    Memberikan infak, sumbanga/bantuan merupakan tanda kesempurnaan kebaikan seseorang. Bahkan Allah sebut dalam firmannya surat Ali imran:92. “Kamu tdk akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha mengetahui.

    Jadi diantara kesempurnaan islam seseorang itu, ia memberikan harta yang di cintainya.  Didalam Islam berinfak/bersedekah ada prioritasnya. An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan agar sedekah itu diberikan kepada orang sholeh, orang yang rajin melakukan kebaikan, menjaga kehormatan dan dia membutuhkan. Namun jika ada orang yang bersedekah kepada orang fasik, atau orang non muslim, di kalangan yahudi, nasrani, atau majusi, hukumnya boleh”

    Jika memang orang yang non muslim tersebut membutuhkan dan tidak memerangi/ memusuhi kita (orang islam) sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mumtahanah “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.” (QS. Al Mumtahanah : 8)

    Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, setiap hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

    Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha.

    Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a.

    Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha. Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya.

    Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.

    Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada.

    Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

    This answer accepted by Hamba Langit. on April 11, 2017 Earned 15 points.

    • 2845 views
    • 2 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on October 12, 2017 in Keluarga.

    Setiap kita akan mendapat ujian dari Allah utk menguji tingkat keimanan kita. Jadi hadapi setiap ujian dengan lapang dada dan melibatkan Allah dalam setiap langkah. Juga tetap optimis “inna ma’al yusri yusra” dalam setiap kesusahan Allah pasti memberikan kemudahan.

    Adapun saran saya hal yang dapat Bapak lakukan adalah membuka komunikasi kembali dengan istri, hub ayah anak tidak pernah putus. Tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang ayah utk memberikan nafkah kepada anak.

    Jika secara kekeluargaan tdk berhasil. Maka dapat mengajukan hak asuh anak ke pengadilan. Dan senantiasa berdo’a kepada Allah.

    • 1067 views
    • 1 answers
    • 0 votes