Syafri Muhammad Noor, Lc's Profile
Ustadz
436
Points

Questions
0

Answers
5

  • Ustadz Asked on April 14, 2020 in Nikah.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman:

    الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

    Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An-Nuur: 3)

    Para ulama menjelaskan bahwa ayat diatas mempunyai beberapa poin/faidah, diantaranya adalah:

    1. larangan bagi setiap mukmin/mukminah untuk menikah dengan pezina.
    2. orang yang sudah benar-benar bertaubat dari perbuatan zina yang pernah dilakukannya, maka statusnya tidak lagi dianggap sebagai pezina. oleh karenanya, ayat diatas tidak berlaku untuk orang tersebut, karena dosa besar dari perbuatan zinanya sudah diputihkan dengan taubat nasuha, maka dia dianggap layaknya orang-orang yang tidak pernah berbuat zina.

    Artinya, ketika orang ini mau menikah atau dinikahkan dengan orang yang sholeh/sholehah, hukumnya sah-sah saja, dan bukanlah termasuk kedalam pernikahan yang terlarang.

    Berkaitan dengan kasus yang saudara sampaikan, maka orang tersebut sebenarnya tidak bisa dihukumi seperti keadaan di poin kedua, yakni sebagai orang yang sudah bertaubat, karena janjinya untuk bertanggung jawab dan bertaubat hanyalah iming-iming/ bualan semata agar dia bisa melakukan perbuatan zina. Perlu diingat, bahwa setan selalu mempunyai banyak cara untuk menjerumuskan manusia kedalam jurang yang penuh dengan dosa. Na’udzubillahi min dzalik

    Maka dari itu, alangkah baiknya saudara tidak menikah dengan orang tersebut, kecuali sudah dipastikan bahwa dirinya sudah menyesal dan bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat.

    Wallahu a’lam bis shawab..

     

    • 50 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on April 13, 2020 in Isu Trending.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

    Kalau berbicara masalah boleh atau tidaknya, maka jawabannya boleh.

    alasannya adalah menempelkan shaf antara satu dengan yang lainnya itu bukanlah syarat sah dari shalat berjamaah, maka ketika shalat berjamaah dengan kondisi ada kerenggangan antar makmumnya, shalat jamaahnya tetap dihukumi sah.
    terlebih lagi dalam situasi wabah seperti sekarang ini, dimana perkumpulan sekian orang di suatu tempat (termasuk di tempat yang mulia seperti masjid,dll) bisa berpotensi terjadinya penyebaran virus yang tak kasat mata ini, dan tentunya ini adalah sebuah madharat.
    maka, shalat berjamaah dengan konfigurasi antar makmum berjarak 1m atau lebih itu adalah tindakan yang benar, karena hal itu merupakan salah satu tindakan preventif untuk mencegah terjadinya madharat yaitu penularan virus.
    dan mencegah madharat tidaklah melanggar aturan syariat, karena ada sebuah kaidah yang berbunyi “Menghilangkan mafsadat lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 46 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 22, 2019 in Fiqih.

    Umumnya, para ulama memberikan keterangan tentang pembagian daging qurban diperuntukkan kepada tiga golongan:

    1. 1/3 dimakan oleh orang yang berqurban serta keluarganya

    2. 1/3 disedekahkan kepada orang-orang fakir dan miskin sehingga bisa memenuhi kebutuhan mereka

    3. 1/3 yang terkahir dihadiahkan kepada orang-orang yang mampu untuk mempererat tali silaturahim

    Keterangan tersebut bisa kita lihat di dalam kitab Al-Hawi al-Kabir karya Imam al-Mawardi, bahwa beliau mengutip perkataannya Imam Syafii dalam madzhab jadidnya:

    قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ – أَنْ يَأْكُلَ، وَيَدَّخِرَ الثُّلُثَ، وَيُهْدِيَ الثُّلُثَ، وَيَتَصَدَّقَ عَلَى الْفُقَرَاءِ بِالثُّلُثِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالمُعْتَرَّ}

    Sedangkan pendapat baru adalah sepertiga untuk makan dan disimpan, sepertiga untuk hadiah, dan sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir, sesuai dengan firman Allah (QS. Al-Hajj: 36

     

    Adapun penyembelihan qurban yang dilaksanakan di sekolahan, maka bisa saja bernilai sebagai ibadah qurban jika terpenuhi syarat-syaratnya. namun jika ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi, maka penyembelihan tersebut hanya bernilai sebagai penyembelihan hewan biasa, meskipun dilaksanakan di momentum idul adha.

    Allahu A’lam..

    • 217 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on April 13, 2020 in Muamalat.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah.

    1. karena tetangga pada saat itu tidak tahu bahwa pakaian yang dikenakan untuk shalat terkena najis, maka ibadah shalatnya dihukumi sah.

    namun dalam madzhab syafii dan hanbali, suatu saat tetangga tersebut diharuskan mengqadha shalatnya ketika dia sudah tahu bahwa ternyata pakaian yang dulu dipakai untuk shalat terkena najis.

    keterangan ini bisa kita lihat dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi rahimahullah:

    (فرع) في مذاهب العلماء فيمن صلى بنجاسة نسيها أو جهلها . ذكرنا أن الأصح في مذهبنا وجوب الإعادة وبه قال أبو قلابة وأحمد

    “dalam menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang orang yang shalat dengan membawa najis yang ia lupakan atau tidak diketahuinya. Kami menyebutkan bahwa sesungguhnya qaul ashah (pendapat yang cenderung lebih benar) dalam mazhab kita (Mazhab Syafi’i): wajib mengulangi shalatnya. Pendapat demikian diikuti oleh Abu Qalabah dan Imam Ahmad.

    2. sebelum meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, maka hendaknya pertama kali yanh harus ditanamkan dalam diri adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala, lalu menyesali perbuatan dhalim yang pernah dilakukan yaitu dengan bertekad tidak ingin mengulanginya lagi disuatu waktu, kemudian baru mendatangi orang yang bersangkutan untuk meminta maaf karena sempat melakukan tindakan yang tidak pantas.

    mudah-mudahan kita semua diampuni dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wata’ala, baik yang disengaja maupun tidak. Aamiin

    Wallahu A’lam bis shawab.

    • 49 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on May 27, 2020 in Fiqih.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah..

    Dalam pandangan madzhab syafii, sentuhan kulit antara lawan jenis yang bukan mahram, baik disengaja maupun tidak disengaja, hukumnya sama yaitu membatalkan wudhu.
    Berbeda kasusnya jika yang terjadi adalah bapak andi hanya menyentuh rambutnya, kukunya, atau giginya, yang mana kesemuanya itu bukanlah kulit ,  maka dalam hal ini wudhu bapak andi tidaklah menjadi batal.
    Begitu juga jika kasusnya adalah tidak bersentuhan secara langsung dengan kulit non mahram tersebut karena menggunakan sarung tangan, atau kain atau penghalang lainnya, maka hukumnya juga tidak membatalkan wudhu.
    Jadi poin nya adalah didasarkan kepada kontak antar kulit non mahram, bukan didasarkan pada unsur kesengajaan ataupun tidak.

    Namun meskipun demikian, pendapat ini bukanlah satu-satunya pendapat yang sudah disepakati dalam koridor fiqih empat madzhab, karena kalau kita merujuk kepada pendapat madzhab maliki, akan kita dapati bahwa bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, baik menyentuh kulitnya, atau rambutnya atau lain sebagainya, maka bisa jadi hukumnya tidak membatalkan wudhunya, dengan syarat bahwa bersentuhannya tidak disertai dengan syahwat.

    maka bisa kita simpulkan dalam pandangan ini, bahwa poinnya ada di syahwat.

    Jika bersentuhannya disertai syahwat, maka wudhunya batal, tapi kalau bersentuhannya tidak disertai dengan syahwat , maka wudhunya menjadi tidak batal.

    Wallahu a’lam bis shawab

    This answer accepted by andi. on June 18, 2020 Earned 15 points.

    • 29 views
    • 1 answers
    • 0 votes