Syarifah Rahmi's Profile
Ustadzah
929
Points

Questions
0

Answers
26

  • Ustadzah Asked on May 23, 2020 in Nikah.

    Waalaikum salam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim

    Alhamdulillah atas segala nikmatNya yang kita luput darinya, setiap skenarioNya pasti mendatangkan banyak hikmah, tapi kita hanya manusia biasa yang kadang alpa untuk menikmati setiap hikmah yang dikirimkannya.

    Saudari! jangan bersedih apalagi merasakan stres karena ditunda kehamilan, tapi gunakan waktu ini dengan saling mengenal dengan pasangan, persiapkan diri menjadi ibu dan ayah yang terbaik untuk mereka di masa yang akan datang.

    Harus kita upgrade ilmu apa saja yang dirasa masih kurang, terlebih ilmu agama, yang hari ini masya Allah mendidik anak remaja yang hidup di zaman yang serba modern banyak sekali tantangan dan ujian.

    Hal yang pertama dan paling utama yang harus dilakukan adalah berbaik sangka dengan Allah, percaya dengan qadha dan qadar dan itu merupakan rukun iman yang keenam.

    Selanjutnya amalan yang paling dianjurkan, yang pertama: perbanyak istighfar, istighfar kunci dari segala keresahan, ketika dosa terampuni semua keinginan tidak ada lagi penghalangnya. seperti yang digambarkan dalam surah Nuh ayat 10-12

    فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

    “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

    Dzikir satu ini disebutkan memiliki faedah luar biasa. Salah satunya mempercepat dikabulkan permintaan, termasuk doa agar cepat hamil.

    Sebab istighfar adalah bentuk permohonan ampun kepada Allah. Ya, kita tentu sepakat bahwa tidak ada manusia luput dari salah dan dosa. Selain itu, dzikir juga manifestasi ingat kepada Yang Maha Esa.

    Baca minimal 33 kali setiap selesai shalat wajib. Tidak sampai di sini, jika dirasa memang ada kesalahan kepada manusia, entah itu orang tua, saudara, teman, atau lainnya, segera minta keikhlasan mereka untuk memberi maaf.
    Atau membaca juga Sayyidul Istighfar

    Yang kedua: bersedekah, Begitu banyaknya manfaat bersedekah, hingga tak jarang membuat banyak orang bersedekah lantaran mengharapkan balasan dari Allah SWT. Lantas bolehkah sedekah atas dasar mengharapkan balasan tertentu dari Allah?

    Jawabannya adalah boleh. Namun sedekah tersebut tetap harus dilakukan dengan ikhlas. Walaupun terselip harapan atau doa tertentu di baliknya. Banyak kisah orang yang bersedekah dan positif hamil.

    Yang ketiga: melakukan shalat sunnah, Shalat merupakan cara agar doa bisa segera dikabulkan. Termasuk juga ketika memohon dan memanjatkan doa agar segera hamil.

    bisa melakukannya dengan shalat sunnah hajat bersama pasangan sebelum tidur atau setelah shalat tahajud. Kemudian baca doa shalat hajat. Sudah banyak kisah menceritakan terkabulnya hajat mereka dengan cara ini.

    Selain itu, shalat hajat juga akan mendatangkan kebaikan lain. Diantaranya, Anda dan pasangan memperoleh ketenangan diri, sehingga rumah tangga tetap tenteram dan penuh kesabaran, meski belum dianugerahi momongan.

    Yang keempat: berdoa di waktu mustajab, Usaha lain supaya doa cepat hamil segera dikabulkan adalah menggunakan waktu-waktu yang dijanjikan diijabah. Karena pada waktu-waktu tersebut doa yang dipanjatkan bisa mudah dikabulkan.

    Beberapa waktu mustajab untuk berdoa diantaranya :
    – Waktu sepertiga malam terakhir
    – Ketika berbuka puasa
    – Ketika adzan berkumandang
    – Waktu di antara adzan dan iqamah
    – Hari jumat
    – Ketika turun hujan
    – Setelah bacaan tahiyat Akhir sebelum salam dalam sholat lima waktu

    Sebagai bentuk kesungguhan, berdoalah di semua waktu mustajab untuk berdoa tersebut. Manusia tidak pernah tahu kapan persisnya waktu sebuah doa dikabulkan oleh Allah.

    Perlu diingat, sesungguhnya mudah saja bagi Allah menitipkan anak dalam rahim. Hanya saja terkadang ingin melihat sejauh mana ketaatan dan kesabaran hamba dengan memberikan cobaan-Nya.

    Yang kelima: berdzikir dengan doa Nabi Ibrahim as

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
    “Ya Tuhanku (Allah), anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. As-Shaffat ayat 100).

    Berdzikir dengan doa Nabi Zakariya as

    رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

    “Ya Tuhanku, berikanlahlah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran ayat 38).

    Berdzikir dengan ayat di bawah ini,

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    “Ya Tuhan kami (Allah), anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon ayat 74).

    Yang keenam: Bershalawat, di antara hikmah shalawat adalah diijabahi segala keinginan yang baik menurutNya.

    Jangan pernah merasa stres dan putus asa, kita akan cepat hamil kalau kondisi tubuh kita bahagia, rilek dan nyaman.

    Yakinlah pada Allah Ya Mushawwir! “Yang Maha Pembentuk”. Dialah Allah yang menciptakan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini dan menyempurnakannya dengan hikmahnya.

    Istri dan suami tetap berusaha terus menerus dan istiqamah dalam memanjatkan doa. Kesabaran dan keikhlasan saudari bersama pasangan adalah ladang pahala. Karena Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik menurutNya bukan menurut kita. Semoga segera Allah berikan keturunan shalih dan shalihah yang membumikan keimanan padaNya.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 585 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 15, 2021 in Keluarga.

    Wa’alaikum salam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    Boleh, syariat Allah tidak terbatas waktu, hari ini atau kemarin. Setiap yang disyariatkan pasti sudah sepaket dengan kebaikan yang akan didapatkan. Tidak bisa kita fokus kepada sekarang atau dulu, karena poligami adalah syariat Allah, tapi tujuannya yang harus diperjelas. Bukan hanya sekedar ingin memenuhi nafsu, dan menurut saya, orang yang berpoligami itu adalah seorang pahlawan yang hebat, kalau mampu menjalankannya sesuai dengan syariat. Terlepas dari pembicaraan orang yang suka membicarakan, kalau siap berpoligami siap juga dengan pembicaraan orang lain. Semua orang berhak menilai kita, tapi tidak semua orang benar menilai kita.
    Yang tidak boleh mengharamkan yang halal serta menghalalkan yang haram. Syariat poligami jelas dan tidak bisa kita haramkan selama sesuai dengan syariatNya.

    Allah berfirman,

    إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)

    Kalau dengan berpoligami itu dapat mendatangkan manfaat untuk kaum muslimin berupa bertambahnya banyaknya jumlah kaum muslimin dan terjaganya kehormatan wanita-wanita muslimah baik yang belum menikah maupun para wanita yang memerlukannya. Jangan sampai kita terjajah oleh pemikiran orang kafir yang mendeskritkan pemahaman tentang poliga, karena ada yang lebih melegalkan perzinahan daripada pernikahn. Na’uzubillah

    Bolehnya melakukan poligami dalam Islam berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

    “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3)

    Dibolehkannya syariat poligani dikuatkan dengan apa yang Rasulullah Saw lakukan dan para sahabat sesudah beliau.
    Kenapa dibolehkan? Karena poligami syariat yang mendatangkan kemaslahatan. Belum lagi hari ini jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki itu sendiri.

    Wallahu a’lam bis shawab.

    • 816 views
    • 3 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on March 9, 2021 in Fiqih.

    Wa’alaikumussalam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim..

    Sangat boleh, karena itu juga salah satu kebaikan dengan mengingatkan tentang adanya utang yang harus diselesaikan. Tapi boleh juga dimaafkan kalau yang bersangkutan tidak sanggup melunasinya. Apalagi saudara kandung dari yang meninggal. Kalau ada hak waris bisa diminta kerelaannya untuk membayar utang terlebih dahulu.
    Dalam Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah SWT, tapi juga hubungan dengan sesama manusia. Termasuk dalam soal utang-piutang. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. al-Baqarah/2: 282).

    Yang dimaksud dengan “bermuamalah” dalam ayat ini adalah mengadakan utang-piutang.

    Dan kesalahan kita seringnya, tidak ada hitam di atas putih dan saksi, apalagi dengan saudara kandung. Ini yang membuat kita tidak punya bukti kuat ketika kita ingin meminta kembali yang sudah diutangkan oleh pemilik yang sudah meninggal dunia.

    Ketika yang mengutangi meninggal, terjadi peralihan kewajiban dari pewaris kepada ahli waris, diatur dalam ketentuan Pasal 833 dan Pasal 955 KUHPerdata. Berdasarkan Pasal 833 KUHPerdata, para ahli waris dengan sendirinya mendapat hak milik atas semua barang, semua hak, dan semua piutang orang yang meninggal karena hukum.

    Ketika pemberi utang meninggal, ahli warisnyalah yang mewarisi segala bentuk kekayaan yang dimiliki pewaris tersebut. Termasuk untuk urusan utang piutang.

    Apalagi anak yatim yang ditinggalkan, pasti sangat memerlukan akan pelunasan tersebut.
    Kenapa utang harus dilunasi?
    Karena utang adalah beban. Semakin banyak utang semakin berat pikulan bebannya. Utang bukanlah solusi, melainkan menjemput beban yang lebih besar, kecuali karena sangat terpaksa daripada melalukan hal yang dilarang oleh Agama kita.

    Rasulullah Saw mengajarkan kita doa untuk bisa terhindar dari utang.

    اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالمَغْرَمِ

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang.”

    Ketika Rasulullah ditanya kenapa beliau meminta dilindungi dari utang? Rasulullah menjawab:

    إن الرجل إذا غرم حدث فكذب ووعد فأخلف

    “Sesungguhnya apabila seseorang terlilit utang, jika dia berbicara maka dia berdusta dan jika dia berjanji maka dia ingkari.” (HR. Bukhari, no. 798).

    Jiwa seseorang itu tergantung disebabkan utangnya, seperti hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.

    نَفْسُ المُؤْمِن مُعَلَّقَةٌ بِدَينِهِ حَتَّى يُقضَى عَنهُ

    “Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya, sampai (utang itu) dilunasi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ Ash-Shaghir, no. 6779)

    Di antara hal yang sangat penting dalam Islam, ketika mayat ditalqinkan, ahli warisnya meminta kepada pihak yang mempunyai urusan dunia atau yang berurusan dengan utang piutang.

    Bahkan dosa orang yang mati syahid akan diampuni Allah, kecuali utang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw ditanya seseorang: “Jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku terhapus?”
    Nabi Saw bersabda: ”

    نَعَم، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلَّا الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيهِ السَّلَامُ قَالَ لِي ذَلِكَ

    “Ya, jika kamu bersabar, mengharap pahala dari Allah, tetap maju, dan tidak melarikan diri. Kecuali, utang. Begitulah Malaikat Jibril menyampaikan kepadaku.” (HR. Muslim, no. 1885)

    Utang sumber beban yang tidak ada kenyamanan sama sekali, diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, Nabi Saw bersabda:

    لاَ تُخِيفُوا أَنْفُسَكُم بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: الدَّيْنَ

    “Janganlah kalian menakut-nakuti diri kalian setelah mendapatkan keamanan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Utang.” (HR. Ahmad).

    Karena itu, bagi kita yang punya utang, jadikan beban utang itu di depan pelupuk mata kita, dan berusahalah untuk melunasi sesegera mungkin. Berdoalah kepada Allah, agar bisa segera membebaskan kita dari jeratan utang.

    Rasulullah Saw bersabda,

    من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله عليه

    “Siapa saja yang meminjam harta orang lain dengan niat mengembalikannya, niscaya Allah akan melunasi utangnya. Siapa yang meminjam harta orang lain untuk memusnahkannya (dia habiskan) maka Allah akan memusnahkannya.” (HR. Bukhari)

    Yang namanya utang harus dibayar, kecuali dimaafkan oleh yang mengutangi atau walinya.

    Imam Nawawi mengatakan,

    قَالَ الْغَزَالِيُّ إذَا كَانَ مَعَهُ مَالٌ حَرَامٌ وَأَرَادَ التَّوْبَةَ وَالْبَرَاءَةَ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ وَجَبَ صَرْفُهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى وَكِيلِهِ فَإِنْ كَانَ مَيِّتًا وَجَبَ دَفْعُهُ إلَى وَارِثِهِ وَإِنْ كَانَ لِمَالِكٍ لَا يَعْرِفُهُ وَيَئِسَ مِنْ مَعْرِفَتِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَهُ فِي مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّةِ كَالْقَنَاطِرِ وَالرُّبُطِ وَالْمَسَاجِدِ وَمَصَالِحِ طَرِيقِ مَكَّةَ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَشْتَرِكُ الْمُسْلِمُونَ فِيهِ وَإِلَّا فَيَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى فَقِيرٍ أَوْ فُقَرَاءَ

    “Ghazali menyebutkan, barangsiapa yang menyimpan harta haram dan ia hendak bertaubat dari perbuatannya serta hendak berlepas diri dari harta haram tersebut, hendaklah ia mencari si pemilik sah harta itu; apabila pemilik sah sudah meninggal, hendaknya harta itu diserahkan kepada ahli warisnya. Namun jika si pemilik sah dan ahli warisnya tidak diketahui juga, hendaknya harta tersebut disalurkan pada maslahat kaum Muslimin, seperti untuk membangun jembatan, masjid, menjaga perbatasan negara Islam, dan sektor lain yang bermanfaat untuk segenap kaum Muslimin. Atau boleh juga ia sumbangkan kepada fakir miskin.” (Nawawi, Majmu’ Syarh Muhazzab, 9:351).

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 158 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 9, 2020 in Wanita.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillah…
    Biasanya, wanita mengalami haid selama 6 – 8 hari paling lama 15 hari. lebih dari 15 hari disebut dengan istihadhah. Seorang wanita yang mengalami istihadhah dilarang meninggalkan ibadahnya, seperti salat, puasa dan ibadah lainnya.
    Ada perbedaan lain dari sifat darah haid bila dibandingkan dengan darah istihadhah:

    1. Perbedaan warna. Darah haid umumnya hitam sedangkan darah istihadhah umumnya merah segar.
    2. Kelunakan dan kerasnya. Darah haid sifatnya keras sedangkan istihadhah lunak.
    3. Kekentalannya. Darah haid kental sedangkan darah istihadhah sebaliknya.
    4. Aromanya. Darah haid beraroma tidak sedap/busuk.

    Wanita yang mengalami istihadhah harus tetap menjalankan salat, puasa dan ibadah lainnya. Dalil hadits berikut:

    Dari Aisyah ra. dia berkata: Fatimah binti Abi Hubaisy “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadhah banyak sekali. Bagaimana menurutmu? Aku telah terhalang dengan sebab itu dari menuaikan salat dan puasa”. Dia berkata: “Aku akan tunjukkan padamu untuk mengetahuinya. Gunakan kapas untuk menutup kemaluanmu karena di akan menutup aliran darahmu” dia berkata: darah tersebut terlalu deras. Kemudian di hadist tersebut Nabi bersabda: “sesungguhnya darah tersebut tendangan – tendangan syaitan, maka massa haidmu enam atau tujuh hari berdasarkan ilmu Allah Ta’ala. Kemudian mandilah jika engkau melihat dirimu sudah bersih (dari haidmu) dan berpuasalah” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan dia menshahihkannya. Di nukilkan bahwasannya Imam Ahmad menshahihkanya dan Al Bukhari menghasankannya)”.
    Coba saudari pastikan sifat darah yang saudari alami. Karena yang saudari alami Kelebihan estrogen, dimana kelebihan hormon dapat menyebabkan masalah menstruasi, seperti: periode tidak teratur, bercak darah, pendarahan berat, gejala yang lebih parah dari sindrom pramenstruasi

    Wallahu a’lam

    • 219 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 4, 2020 in Nikah.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Adinda masya Allah, pernikahan masih lagi bertunas belum bersemi, Saya mendoakan Allah jadikan keluarga yang penuh berkah rahmah mawaddah. Banyak di luar sana yang belum menikah dan ingin sekali menikah, tapi belum Allah izinkan untuk menikah. Dan hari ini saudari sudah menikah Alhamdulillah. Menikah awal dari kehidupan baru dimulai, yang tidak mengenal, belajar untuk mengenal sedikit demi sedikit, yang tidak cinta kita berpura-pura untuk mencintai, hingga cinta bersemi perlahan-lahan. Mau tidak mau, siap tidak siap kita sudah menggetarkan langitnya Allah dengan lafal ijab qabul yang pernah diikrarkan, susah senang kita belajar untuk saling memahami karena itulah takdir Allah yang terbaik menurutNya bukan menurut kita. Dan apalagi baru 3 bulan masya Allah, masih sangat pagi, tidak semua emosi dibalas dengan emosi, harus ada yang bisa meredam, dan segera istighfar dan pilih diam sejenak.
    Apalagi seorang istri kita harus merendah dengan segala keegoisan laki-laki yang tidak kita sangka-sangka, selalu rebut ridhanya, setelah menikah, ridha suami lebih utama. Saya rasa saudari bisa menghadapinya dengan kepala dingin, karena ketika Allah kasih amanah berarti Allah percaya saudari mampu melewatinya, dan riak-riak kecil itu wajib ada, kalau selalu tenang juga perlu dipertanyakan.
    Menyangkut permasalahan yang saudari hadapi, itu hanya bumbu saja untuk saling mengenal satu sama lain, karena sebelumnya tidak saling berjumpa.
    Disebutkan talak ditinjau dari segi tegas dan tidaknya kata-kata yang dipergunakan sebagai ucapan talak, maka talak dibagi menjadi dua macam, sebagai berikut:

    a.       Talak Sharih, yaitu talak dengan mempergunakan kata-kata yang jelas dan tegas, dapat dipahami sebagai pernyataan talak atau cerai seketika diucapkan, tidak mungkin dipahami lagi.

    Imam Syafi’i mengatakan bahwa kata-kata yang dipergunakan untuk talak sharih ada tiga, yaitu talak, firaq, dan sarah, ketiga ayat itu disebutkan dalam Al-Quran dan hadits.

    Beberapa contoh talak sharih ialah seperti suami berkata kepada istrinya:

    1.      Engkau saya talak sekarang juga. Engkau saya cerai sekarang juga.
    2.      Engkau saya firaq sekarang juga. Engkau saya pisahkan sekarang juga.
    3.      Engkau saya sara sekarang juga. Engkau saya lepas sekarang juga.

    Apabila suami menjatuhkan talak terhadap istrinya dengan talak sharih maka menjadi jatuhlah talak itu dengan sendirinya, sepanjang ucapannya itu dinyatakan dalam keadaan sadar dan atas kemauannya sendiri.

    b.      Talak Kinayah, yaitu talak dengan mempergunakan kata-kata sindiran atau samar-samar, seperti suami berkata kepada istrinya:

    1.      Engkau sekarang telah jauh dariku.
    2.      Selesaikan sendiri segala urusanmu.
    3.      Janganlah engkau mendekati aku lagi.
    4.      Keluarlah engkau dari rumah ini sekarang juga
    5.      Pergilah engkau dari tempat ini sekarang juga
    6.      Susullah keluargamu sekarang juga
    7.      Pulanglah ke rumah orang tuamu sekarang
    8.      Beriddahlah engkau dan bersihkanlah kandunganmu itu
    9.      Saya sekarang telah sendirian dan hudup membujang
    10.  Engkau sekarang telah bebas merdeka, hidup sendirian.

    Ucapan-ucapan tersebut mengandung kemungkinan cerai dan mengandung kemungkinan lain.

    Tentang kedudukan talak dengan kata-kata kinayah atau sindiran ini sebagaimana dikemukakan oleh Taqiyuddin Al-Husaini, bergantung kepada niat suami. Artinya, jika suami dengan kata-kata tersebut bermaksud menjatuhkan talak, maka menjadi jatuhlah talak itu, dan jika suami dengan kata-kata tersebut tidak bermaksud menjatuhkan talak maka talak tidak jatuh. Dan yang saya pahami dari permasalahan saudari belum dikatakan talak. Karena suami tidak berniat untuk menceraikan. Semoga Allah anugerahkan sakinah yang tidak terbatas dan bisa reuni kembali di SyurgaNya.
    Wallahu a’lam bis shawab

    • 248 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on February 20, 2021 in Nikah.

    Wa’alaikumussalam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    Semoga Allah mengampuni dan merahmati almarhum.
    Belasungkawa yang terdalam, semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.

    Dalam Islam, mahar itu kewajiban suami kepada istrinya. Allah berfirman,

    وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

    “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. an-Nisa: 4)

    Al-Qurthubi mengatakan,
    Ayat di atas menunjukkan wajibnya memberi mahar bagi wanita, dan ini disepakati ulama, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini. (Tafsir al-Qurthubi, 5/24).

    Dan mahar adalah hak wanita. Karena itu, dia berhak untuk menggugurkan mahar atau menyerahkannya kepada suami atau memberikannya kepada siapapun yang dia inginkan.

    Allah berfirman,

    فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

    Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu dengan nyaman dan baik. (QS. an-Nisa: 4)

    Dari ayat di atas kita pahami, bahwa yang dimaksud dengan mahar adalah pemberian suami kepada istri setelah akad ijab qabul terjadi, adapun sebelum itu hanya titipan yang akan diserahkan nanti setelah akad ijab qabul terjadi. Bahkan seandainya akad terjadi dan diketahui aib isteri sebelum berhubungan, si suami boleh meminta maharnya. Kecuali kalau diketahui aib setelah berhubungan, maka tidak boleh minta mahar dikembalikan.
    Lain ceritanya kalau suami meninggal setelah akad nikah dan belum berhubungan, maka sang isteri berhak atas mahar tersebut.

    Bagaimana dengan mahar yang dipersiapkan sebelum terjadi akad, statusnya adalah dititipkan untuk bekal mahar yang akan diberikan nantinya.

    Para ulama sepakat bahwa barang titipan wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Bahkan seandainya barang titipan rusak menurut Umar bin Khattab harus menggantikan yang rusak. Begitu juga dengan pendapat Anas bin Malik.

    Para ulama juga bersepakat akan diperbolehkannya menggunakan barang titipan kalau diizinkan oleh pemilik barang
    (Al Ijma karya Ibnul Mundzir 36-37).

    Saya menyarankan, saudari untuk memberitahukan walinya, nanti walinya yang akan memutuskan, karena saudari belum ada hak untuk memilikinya hanya berstatus titipan. Apapun yang terjadi nanti setelah diputuskan wali, harus berlapang dada dan ikhlaskan. Yakin semua yang terjadi, terbaik menurut Allah pasti ada hikmah di balik ujian.

    Wallahua’lam bis shawab

    • 207 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on March 22, 2021 in Puasa.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    Status puasa orang yang sudah meninggal, tapi belum terbayarkan. Yang harus kita ketahui adalah penyebab si mayit tidak puasa kenapa?

    Tiga penyebab yang bisa dijadikan alasan untuk dibayar dan tidak dibayar oleh ahli waris dalam Islam;

    1. Uzur berpuasa karena sakit yang tidak ada harapan sembuh, seperti sakit menahun dan tua renta.
    Solusinya dengan pembayaran fidyah berupa makanan sejumlah hari yang ditinggalkan puasa. Jika belum dibayar semasa hidupnya, maka ahli waris yang membayarkan fidyahnya bukan menggantikan puasa.

    Dalam surat Al Baqarah ayat 184:

    وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

    Bagi orang yang tidak mampu puasa (karena tua renta atau sakit menahun), baginya wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.

    2. Beruzur puasa dan ada harapan bisa menggantikannya, tapi tidak ada kesempatan karena ajal sudah mendahuluinya. Seperti sakit tipes atau dalam safar.
    Solusinya, si mayit tidak dihukumi memiliki utang puasa dan ahli waris tidak perlu menggantikannya.

    Sesuai dengan firman Allah SWT,

    وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

    Siapa yang sakit atau dalam perjalanan/musafir (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185).

    Hari lain yang dimaksud di ayat di atas, hari yang boleh mengganti puasa tidak dijumpai oleh si mayit karena sudah dijemput ajal, berarti tidak ada tanggungan untuk menggantikan puasa begitu juga dengan ahli warisnya.

    3. Beruzur puasa dan ada harapan berakhir. Tapi ketika ada kesempatan menggantikan puasa, menundanya lagi tanpa uzur syar’i.
    Solusinya, si mayit memiliki hutang puasa, dan ahli waris harus menggantikan puasanya.
    Rasulullah SAW bersabda;

    من مات وعليه صيام صام عنه وليه

    Siapa yang meninggal dunia memiliki hutang puasa, maka yang membayarkan adalah keluarganya. (HR. Bukhari, hadis Aisyah ra)

    Jadi yang wajib digantikan puasanya adalah;
    “Puasa yang ditinggalkan si mayit disebabkan uzur puasa yang ada harapan berakhir. Kemudian ada kesempatan membayar puasa, namun dia menundanya tanpa uzur.”

    Ini juga berlaku pada puasa wajib yang harus ditunaikan seperti puasa nazar, puasa kafarat dan lain sebagainya.

    Semoga dapat membantu
    Wassalam

    • 249 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 20, 2020 in Wanita.

    Walaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim.
    Saudariku, kebutuhan pria berbeda dengan perempuan, Kebutuhan suami terhadap istri memang lebih besar dibandingkan perempuan. Bolehkah suami memaksa?kalau tidak ada udzur syar’i, tidak boleh menolak, dan perempuan harus cerdas untuk melayani, kalau tidak bisa pun ada cara khusus untuk melayani tanpa bertemu alat kelamin. Apalagi kalau suami hanya punya 1 istri, semua beban keinginan syahwat suami harus bisa tercover ,tapi dalam Islam, suami harus menempatkan posisi istri di tempat yang nyaman, suami menemani istri dan saling tolong menolong dalam pekerjaan rumah tangga, apalagi kalau suami tidak mampu mendatangkan pembantu untuk istrinya, harus dan wajib membantu istri, istri bukan pembantu, istri partner dan relasi untuk bisa saling kerja sama, seorang istri yang hanya di rumah saja, tingkat stresnya lebih tinggi, kalau yang bekerja di luar, dia punya suasana baru dan bisa melupakan stres, tapi yang di rumah saja kalau tidak matang secara keimanan bisa membludak derr.

    Para perempuan banyak masa udzur syar’inya yang diberikan Allah, perempuan yang usianya masih muda setiap bulannya ada waktu haid, dan setelah melahirkan pun sang perempuan membutuhkan “cuti” dari suaminya selama kurang lebih 40 hari karena syariat Islam melarang suami menggauli istrinya dalam kondisi tersebut. Belum lagi bila istri sakit atau ada uzur lain, dan juga suami yang sering keluar rumah karena mencari nafkah dan sebab-sebab yang lainnya.

    Jika Saudari menolak permintaannya karena bukan uzur syar’i, sedangkan suami hanya punya satu istri, maka kesalahan ada di pihak istri, karena suami tidak boleh melampiaskan kesenangannya kecuali kepada istri atau budaknya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mukminun ayat 6.

    إِلَّا عَلَىٰٓ أَزْوَٰجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
    Artinya: Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

    Dalam hadits juga disebutkan,
    Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

    “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    “Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari: 16/199)

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ

    “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

    Di Al-Quran disebutkan, perempuan adalah ladang bagi suaminya
    نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

    Artinya :
    Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 223)

    Dan sekali lagi, tanpa uzur syar’i yang menghalangi, perempuan harus cerdas untuk melayani, dan laki-laki juga harus mengkondisikan kenyamanan bagi istrinya mencipkatakan suasana mawaddah warahmah.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 233 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 11, 2020 in Keluarga.

    Wa’alaikumussalam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    “Laki-laki yang menikahi seorang wanita, maka seluruh ibu menjadikan wanita menjadi mahramnya, baik ibu jauh maupun dekat (yaitu ibu kandung atau nenek), hanya dengan melakukan akad nikah.

    Inilah pendapatnya Imam Syafi’i dan Hanafi. Dasarnya adalah firman Allah,

    وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمۡ

    Diharamkan untuk kamu menikahi ibu-ibu istri kamu (mertua), (QS. An-Nisa ‘: 23)

    Hanya dengan melakukan akad nikah, wanita sudah sah menjadi istri dan otomatis menjadi mahram untuk menantu.
    Jika terjadi perceraian apakah masih mahram?
    Mahram ada dua macam:
    1. Mahram sementara
    2. Mahram selamanya
    Mertua tergolong mahram selamanya (muabbad). Dalilnya ayat yang di atas, semua mahram yang diterima dalam ayat tersebut, statusnya adalah mahram selamanya, bekas menantu tetap menjadi mahram selamanya.
    Merujuk kepada permasalahan saudari, tidak ada hak kita untuk menyuruh keluar mantan isteri dari rumah mertua. Dan seharusnya seorang mantan suami memberikan rumah dan kebutuhan lainnya, apalagi kalau punya anak.
    Kalau saudari khawatir bertemu dengan mantan istri suami saudari, itu hanya gesekan emosi manusiawi saja yang tidak siap, bukan tidak dibolehkan oleh agama, yang tidak boleh mantan suami dan istri serumah setelah thalaq 3 dan serumah selama 3 bulan setelah thalaq 1.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 241 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 5, 2020 in Nikah.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    Lamaran dikenal dengan khithbah atau meminang, artinya menawarkan diri untuk menikah

    Lamaran, ada yang disampaikan terang-terangan dan ada yang disampaikan dalam bentuk isyarat.

    Lamaran secara terang-terangan, misalnya dengan menyatakan, “Jika berkenan, saya ingin menjadikan anda sebagai pendamping saya..” atau yang bentuknya pertanyaan, “Apakah anda bersedia untuk menjadi pendamping saya?”

    Lamaran dalam bentuk isyarat, misalnya dengan mengatakan, “Sudah lama aku mendambakan wanita yang memiliki banyak kelebihan seperti kamu…” atau kalimat semisalnya, meskipun bisa jadi ada kesan menggombal, tentang lamaran dan khitbah ini Allah sebutkan dalam Al Quran

    وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

    Tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)

    Ayat di atas mengisyaratkan ada lamaran atau khitbah ada dalam Islam, pertanyaan saudara, apakah boleh memberikan hadiah?

    Boleh, Hadiah sebelum pernikahan, hanya boleh dimiliki oleh wanita, calon istri dan bukan keluarganya. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا كَانَ مِنْ صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ أَوْ عدةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ أَوْ حُبِىَ

    “Semua mahar, pemberian  dan janji sebelum akad nikah itu milik pengantin wanita. Lain halnya dengan pemberian setelah akad nikah, itu semua milik orang yang diberi” (HR. Abu Daud 2129)

    Jika berlanjut menikah, maka hadiah menjadi hak pengantin wanita. Jika nikah dibatalkan, hadiah dikembalikan, dan harus ganti apabila rusak menurut Syafi’iyah (i’aanah at-thalibin III/156).
    Wallahu a’lam bish shawab

    • 234 views
    • 1 answers
    • 0 votes