Syarifah Rahmi's Profile
Ustadzah
929
Points

Questions
0

Answers
11

  • Ustadzah Asked on May 23, 2020 in Nikah.

    Waalaikum salam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim

    Alhamdulillah atas segala nikmatNya yang kita luput darinya, setiap skenarioNya pasti mendatangkan banyak hikmah, tapi kita hanya manusia biasa yang kadang alpa untuk menikmati setiap hikmah yang dikirimkannya.

    Saudari! jangan bersedih apalagi merasakan stres karena ditunda kehamilan, tapi gunakan waktu ini dengan saling mengenal dengan pasangan, persiapkan diri menjadi ibu dan ayah yang terbaik untuk mereka di masa yang akan datang.

    Harus kita upgrade ilmu apa saja yang dirasa masih kurang, terlebih ilmu agama, yang hari ini masya Allah mendidik anak remaja yang hidup di zaman yang serba modern banyak sekali tantangan dan ujian.

    Hal yang pertama dan paling utama yang harus dilakukan adalah berbaik sangka dengan Allah, percaya dengan qadha dan qadar dan itu merupakan rukun iman yang keenam.

    Selanjutnya amalan yang paling dianjurkan, yang pertama: perbanyak istighfar, istighfar kunci dari segala keresahan, ketika dosa terampuni semua keinginan tidak ada lagi penghalangnya. seperti yang digambarkan dalam surah Nuh ayat 10-12

    فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

    “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

    Dzikir satu ini disebutkan memiliki faedah luar biasa. Salah satunya mempercepat dikabulkan permintaan, termasuk doa agar cepat hamil.

    Sebab istighfar adalah bentuk permohonan ampun kepada Allah. Ya, kita tentu sepakat bahwa tidak ada manusia luput dari salah dan dosa. Selain itu, dzikir juga manifestasi ingat kepada Yang Maha Esa.

    Baca minimal 33 kali setiap selesai shalat wajib. Tidak sampai di sini, jika dirasa memang ada kesalahan kepada manusia, entah itu orang tua, saudara, teman, atau lainnya, segera minta keikhlasan mereka untuk memberi maaf.
    Atau membaca juga Sayyidul Istighfar

    Yang kedua: bersedekah, Begitu banyaknya manfaat bersedekah, hingga tak jarang membuat banyak orang bersedekah lantaran mengharapkan balasan dari Allah SWT. Lantas bolehkah sedekah atas dasar mengharapkan balasan tertentu dari Allah?

    Jawabannya adalah boleh. Namun sedekah tersebut tetap harus dilakukan dengan ikhlas. Walaupun terselip harapan atau doa tertentu di baliknya. Banyak kisah orang yang bersedekah dan positif hamil.

    Yang ketiga: melakukan shalat sunnah, Shalat merupakan cara agar doa bisa segera dikabulkan. Termasuk juga ketika memohon dan memanjatkan doa agar segera hamil.

    bisa melakukannya dengan shalat sunnah hajat bersama pasangan sebelum tidur atau setelah shalat tahajud. Kemudian baca doa shalat hajat. Sudah banyak kisah menceritakan terkabulnya hajat mereka dengan cara ini.

    Selain itu, shalat hajat juga akan mendatangkan kebaikan lain. Diantaranya, Anda dan pasangan memperoleh ketenangan diri, sehingga rumah tangga tetap tenteram dan penuh kesabaran, meski belum dianugerahi momongan.

    Yang keempat: berdoa di waktu mustajab, Usaha lain supaya doa cepat hamil segera dikabulkan adalah menggunakan waktu-waktu yang dijanjikan diijabah. Karena pada waktu-waktu tersebut doa yang dipanjatkan bisa mudah dikabulkan.

    Beberapa waktu mustajab untuk berdoa diantaranya :
    – Waktu sepertiga malam terakhir
    – Ketika berbuka puasa
    – Ketika adzan berkumandang
    – Waktu di antara adzan dan iqamah
    – Hari jumat
    – Ketika turun hujan
    – Setelah bacaan tahiyat Akhir sebelum salam dalam sholat lima waktu

    Sebagai bentuk kesungguhan, berdoalah di semua waktu mustajab untuk berdoa tersebut. Manusia tidak pernah tahu kapan persisnya waktu sebuah doa dikabulkan oleh Allah.

    Perlu diingat, sesungguhnya mudah saja bagi Allah menitipkan anak dalam rahim. Hanya saja terkadang ingin melihat sejauh mana ketaatan dan kesabaran hamba dengan memberikan cobaan-Nya.

    Yang kelima: berdzikir dengan doa Nabi Ibrahim as

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
    “Ya Tuhanku (Allah), anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. As-Shaffat ayat 100).

    Berdzikir dengan doa Nabi Zakariya as

    رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

    “Ya Tuhanku, berikanlahlah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran ayat 38).

    Berdzikir dengan ayat di bawah ini,

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    “Ya Tuhan kami (Allah), anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon ayat 74).

    Yang keenam: Bershalawat, di antara hikmah shalawat adalah diijabahi segala keinginan yang baik menurutNya.

    Jangan pernah merasa stres dan putus asa, kita akan cepat hamil kalau kondisi tubuh kita bahagia, rilek dan nyaman.

    Yakinlah pada Allah Ya Mushawwir! “Yang Maha Pembentuk”. Dialah Allah yang menciptakan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini dan menyempurnakannya dengan hikmahnya.

    Istri dan suami tetap berusaha terus menerus dan istiqamah dalam memanjatkan doa. Kesabaran dan keikhlasan saudari bersama pasangan adalah ladang pahala. Karena Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik menurutNya bukan menurut kita. Semoga segera Allah berikan keturunan shalih dan shalihah yang membumikan keimanan padaNya.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 391 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 9, 2020 in Wanita.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillah…
    Biasanya, wanita mengalami haid selama 6 – 8 hari paling lama 15 hari. lebih dari 15 hari disebut dengan istihadhah. Seorang wanita yang mengalami istihadhah dilarang meninggalkan ibadahnya, seperti salat, puasa dan ibadah lainnya.
    Ada perbedaan lain dari sifat darah haid bila dibandingkan dengan darah istihadhah:

    1. Perbedaan warna. Darah haid umumnya hitam sedangkan darah istihadhah umumnya merah segar.
    2. Kelunakan dan kerasnya. Darah haid sifatnya keras sedangkan istihadhah lunak.
    3. Kekentalannya. Darah haid kental sedangkan darah istihadhah sebaliknya.
    4. Aromanya. Darah haid beraroma tidak sedap/busuk.

    Wanita yang mengalami istihadhah harus tetap menjalankan salat, puasa dan ibadah lainnya. Dalil hadits berikut:

    Dari Aisyah ra. dia berkata: Fatimah binti Abi Hubaisy “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadhah banyak sekali. Bagaimana menurutmu? Aku telah terhalang dengan sebab itu dari menuaikan salat dan puasa”. Dia berkata: “Aku akan tunjukkan padamu untuk mengetahuinya. Gunakan kapas untuk menutup kemaluanmu karena di akan menutup aliran darahmu” dia berkata: darah tersebut terlalu deras. Kemudian di hadist tersebut Nabi bersabda: “sesungguhnya darah tersebut tendangan – tendangan syaitan, maka massa haidmu enam atau tujuh hari berdasarkan ilmu Allah Ta’ala. Kemudian mandilah jika engkau melihat dirimu sudah bersih (dari haidmu) dan berpuasalah” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan dia menshahihkannya. Di nukilkan bahwasannya Imam Ahmad menshahihkanya dan Al Bukhari menghasankannya)”.
    Coba saudari pastikan sifat darah yang saudari alami. Karena yang saudari alami Kelebihan estrogen, dimana kelebihan hormon dapat menyebabkan masalah menstruasi, seperti: periode tidak teratur, bercak darah, pendarahan berat, gejala yang lebih parah dari sindrom pramenstruasi

    Wallahu a’lam

    • 46 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 4, 2020 in Nikah.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Adinda masya Allah, pernikahan masih lagi bertunas belum bersemi, Saya mendoakan Allah jadikan keluarga yang penuh berkah rahmah mawaddah. Banyak di luar sana yang belum menikah dan ingin sekali menikah, tapi belum Allah izinkan untuk menikah. Dan hari ini saudari sudah menikah Alhamdulillah. Menikah awal dari kehidupan baru dimulai, yang tidak mengenal, belajar untuk mengenal sedikit demi sedikit, yang tidak cinta kita berpura-pura untuk mencintai, hingga cinta bersemi perlahan-lahan. Mau tidak mau, siap tidak siap kita sudah menggetarkan langitnya Allah dengan lafal ijab qabul yang pernah diikrarkan, susah senang kita belajar untuk saling memahami karena itulah takdir Allah yang terbaik menurutNya bukan menurut kita. Dan apalagi baru 3 bulan masya Allah, masih sangat pagi, tidak semua emosi dibalas dengan emosi, harus ada yang bisa meredam, dan segera istighfar dan pilih diam sejenak.
    Apalagi seorang istri kita harus merendah dengan segala keegoisan laki-laki yang tidak kita sangka-sangka, selalu rebut ridhanya, setelah menikah, ridha suami lebih utama. Saya rasa saudari bisa menghadapinya dengan kepala dingin, karena ketika Allah kasih amanah berarti Allah percaya saudari mampu melewatinya, dan riak-riak kecil itu wajib ada, kalau selalu tenang juga perlu dipertanyakan.
    Menyangkut permasalahan yang saudari hadapi, itu hanya bumbu saja untuk saling mengenal satu sama lain, karena sebelumnya tidak saling berjumpa.
    Disebutkan talak ditinjau dari segi tegas dan tidaknya kata-kata yang dipergunakan sebagai ucapan talak, maka talak dibagi menjadi dua macam, sebagai berikut:

    a.       Talak Sharih, yaitu talak dengan mempergunakan kata-kata yang jelas dan tegas, dapat dipahami sebagai pernyataan talak atau cerai seketika diucapkan, tidak mungkin dipahami lagi.

    Imam Syafi’i mengatakan bahwa kata-kata yang dipergunakan untuk talak sharih ada tiga, yaitu talak, firaq, dan sarah, ketiga ayat itu disebutkan dalam Al-Quran dan hadits.

    Beberapa contoh talak sharih ialah seperti suami berkata kepada istrinya:

    1.      Engkau saya talak sekarang juga. Engkau saya cerai sekarang juga.
    2.      Engkau saya firaq sekarang juga. Engkau saya pisahkan sekarang juga.
    3.      Engkau saya sara sekarang juga. Engkau saya lepas sekarang juga.

    Apabila suami menjatuhkan talak terhadap istrinya dengan talak sharih maka menjadi jatuhlah talak itu dengan sendirinya, sepanjang ucapannya itu dinyatakan dalam keadaan sadar dan atas kemauannya sendiri.

    b.      Talak Kinayah, yaitu talak dengan mempergunakan kata-kata sindiran atau samar-samar, seperti suami berkata kepada istrinya:

    1.      Engkau sekarang telah jauh dariku.
    2.      Selesaikan sendiri segala urusanmu.
    3.      Janganlah engkau mendekati aku lagi.
    4.      Keluarlah engkau dari rumah ini sekarang juga
    5.      Pergilah engkau dari tempat ini sekarang juga
    6.      Susullah keluargamu sekarang juga
    7.      Pulanglah ke rumah orang tuamu sekarang
    8.      Beriddahlah engkau dan bersihkanlah kandunganmu itu
    9.      Saya sekarang telah sendirian dan hudup membujang
    10.  Engkau sekarang telah bebas merdeka, hidup sendirian.

    Ucapan-ucapan tersebut mengandung kemungkinan cerai dan mengandung kemungkinan lain.

    Tentang kedudukan talak dengan kata-kata kinayah atau sindiran ini sebagaimana dikemukakan oleh Taqiyuddin Al-Husaini, bergantung kepada niat suami. Artinya, jika suami dengan kata-kata tersebut bermaksud menjatuhkan talak, maka menjadi jatuhlah talak itu, dan jika suami dengan kata-kata tersebut tidak bermaksud menjatuhkan talak maka talak tidak jatuh. Dan yang saya pahami dari permasalahan saudari belum dikatakan talak. Karena suami tidak berniat untuk menceraikan. Semoga Allah anugerahkan sakinah yang tidak terbatas dan bisa reuni kembali di SyurgaNya.
    Wallahu a’lam bis shawab

    • 43 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 20, 2020 in Wanita.

    Walaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim.
    Saudariku, kebutuhan pria berbeda dengan perempuan, Kebutuhan suami terhadap istri memang lebih besar dibandingkan perempuan. Bolehkah suami memaksa?kalau tidak ada udzur syar’i, tidak boleh menolak, dan perempuan harus cerdas untuk melayani, kalau tidak bisa pun ada cara khusus untuk melayani tanpa bertemu alat kelamin. Apalagi kalau suami hanya punya 1 istri, semua beban keinginan syahwat suami harus bisa tercover ,tapi dalam Islam, suami harus menempatkan posisi istri di tempat yang nyaman, suami menemani istri dan saling tolong menolong dalam pekerjaan rumah tangga, apalagi kalau suami tidak mampu mendatangkan pembantu untuk istrinya, harus dan wajib membantu istri, istri bukan pembantu, istri partner dan relasi untuk bisa saling kerja sama, seorang istri yang hanya di rumah saja, tingkat stresnya lebih tinggi, kalau yang bekerja di luar, dia punya suasana baru dan bisa melupakan stres, tapi yang di rumah saja kalau tidak matang secara keimanan bisa membludak derr.

    Para perempuan banyak masa udzur syar’inya yang diberikan Allah, perempuan yang usianya masih muda setiap bulannya ada waktu haid, dan setelah melahirkan pun sang perempuan membutuhkan “cuti” dari suaminya selama kurang lebih 40 hari karena syariat Islam melarang suami menggauli istrinya dalam kondisi tersebut. Belum lagi bila istri sakit atau ada uzur lain, dan juga suami yang sering keluar rumah karena mencari nafkah dan sebab-sebab yang lainnya.

    Jika Saudari menolak permintaannya karena bukan uzur syar’i, sedangkan suami hanya punya satu istri, maka kesalahan ada di pihak istri, karena suami tidak boleh melampiaskan kesenangannya kecuali kepada istri atau budaknya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mukminun ayat 6.

    إِلَّا عَلَىٰٓ أَزْوَٰجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
    Artinya: Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

    Dalam hadits juga disebutkan,
    Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

    “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    “Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari: 16/199)

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ

    “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

    Di Al-Quran disebutkan, perempuan adalah ladang bagi suaminya
    نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

    Artinya :
    Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 223)

    Dan sekali lagi, tanpa uzur syar’i yang menghalangi, perempuan harus cerdas untuk melayani, dan laki-laki juga harus mengkondisikan kenyamanan bagi istrinya mencipkatakan suasana mawaddah warahmah.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 53 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 11, 2020 in Keluarga.

    Wa’alaikumussalam wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    “Laki-laki yang menikahi seorang wanita, maka seluruh ibu menjadikan wanita menjadi mahramnya, baik ibu jauh maupun dekat (yaitu ibu kandung atau nenek), hanya dengan melakukan akad nikah.

    Inilah pendapatnya Imam Syafi’i dan Hanafi. Dasarnya adalah firman Allah,

    وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمۡ

    Diharamkan untuk kamu menikahi ibu-ibu istri kamu (mertua), (QS. An-Nisa ‘: 23)

    Hanya dengan melakukan akad nikah, wanita sudah sah menjadi istri dan otomatis menjadi mahram untuk menantu.
    Jika terjadi perceraian apakah masih mahram?
    Mahram ada dua macam:
    1. Mahram sementara
    2. Mahram selamanya
    Mertua tergolong mahram selamanya (muabbad). Dalilnya ayat yang di atas, semua mahram yang diterima dalam ayat tersebut, statusnya adalah mahram selamanya, bekas menantu tetap menjadi mahram selamanya.
    Merujuk kepada permasalahan saudari, tidak ada hak kita untuk menyuruh keluar mantan isteri dari rumah mertua. Dan seharusnya seorang mantan suami memberikan rumah dan kebutuhan lainnya, apalagi kalau punya anak.
    Kalau saudari khawatir bertemu dengan mantan istri suami saudari, itu hanya gesekan emosi manusiawi saja yang tidak siap, bukan tidak dibolehkan oleh agama, yang tidak boleh mantan suami dan istri serumah setelah thalaq 3 dan serumah selama 3 bulan setelah thalaq 1.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 31 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 5, 2020 in Nikah.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim…

    Lamaran dikenal dengan khithbah atau meminang, artinya menawarkan diri untuk menikah

    Lamaran, ada yang disampaikan terang-terangan dan ada yang disampaikan dalam bentuk isyarat.

    Lamaran secara terang-terangan, misalnya dengan menyatakan, “Jika berkenan, saya ingin menjadikan anda sebagai pendamping saya..” atau yang bentuknya pertanyaan, “Apakah anda bersedia untuk menjadi pendamping saya?”

    Lamaran dalam bentuk isyarat, misalnya dengan mengatakan, “Sudah lama aku mendambakan wanita yang memiliki banyak kelebihan seperti kamu…” atau kalimat semisalnya, meskipun bisa jadi ada kesan menggombal, tentang lamaran dan khitbah ini Allah sebutkan dalam Al Quran

    وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

    Tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)

    Ayat di atas mengisyaratkan ada lamaran atau khitbah ada dalam Islam, pertanyaan saudara, apakah boleh memberikan hadiah?

    Boleh, Hadiah sebelum pernikahan, hanya boleh dimiliki oleh wanita, calon istri dan bukan keluarganya. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا كَانَ مِنْ صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ أَوْ عدةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ أَوْ حُبِىَ

    “Semua mahar, pemberian  dan janji sebelum akad nikah itu milik pengantin wanita. Lain halnya dengan pemberian setelah akad nikah, itu semua milik orang yang diberi” (HR. Abu Daud 2129)

    Jika berlanjut menikah, maka hadiah menjadi hak pengantin wanita. Jika nikah dibatalkan, hadiah dikembalikan, dan harus ganti apabila rusak menurut Syafi’iyah (i’aanah at-thalibin III/156).
    Wallahu a’lam bish shawab

    • 19 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 16, 2020 in Nikah.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim,

    Tidak ada beda ibu tiri dengan ibu kandung, Ibu Tiri sama Mulianya sebagaimana Ibu Kandung

    Ibu tiri bukanlah ibu sampingan. Jika ibu tiri berbuat sebagaimana ibu kandung memperlakukan anak-anak dan keluarganya dengan baik tentunya akan membawakan kemuliaan, kebaikan di dunia dan akhirat, selayaknya ibu kandung yang juga bertugas dan berkewajiban seperti itu untuk anak-anak dan keluarganya.

    Islam tidak pernah memandang rendah ibu tiri melainkan mengangkat derajat seseorang bukan karena statusnya, akan tetapi dari bagaimana perilaku, moral, dan amaliah yang dilakukan. Sebagaimana kita ketahui di zaman hari ini tidak selalu ibu kandung berbuat baik terhadap anaknya. Untuk itu, di mata Allah adalah amaliah, bukan hanya status atau kedudukannya. Dengan keihlasan hati tentunya perbuatan baik akan lebih bernilai di hadapan Allah. Untuk itu perlu kiranya mengetahui ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah, agar bisa lebih ikhlas dan sabar beribadah.
    Ketika ayah meninggal, apakah sama hak dan kewajibannya seperti sebelumnya?

    Sama kewajiban Ibu Tiri terhadap Anak dan Keluarganya

    Seorang ibu tiri yang berstatus seorang istri dari suami yang telah memiliki anak tentunya berkewajiban pula untuk berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya. Walaupun ibu tiri bukanlah ibu kandung, perbedaannya pada sisi mengandung, melahirkan, dan menyusui, maka itu ia tetap berperan dan berkewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsi orang tua sampai kapanpun itu.

    Orang tua sebagaimanapun kesibukan dan status nya, ia tetap berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya. Memberikan pengarahan yang benar, memberikan pengetahuan, membentuk moral dan karakter pada anak-anaknya. Jika anak-anaknya sudah dewasa ia pun tetap bertugas untuk menjaga anak-anaknya dari pandangan yang salah.

    Maka, tugas dari seorang ibu tiri adalah :

    1. Memberikan pendidikan pada anak

    2. Menjaga, melindungi, dan memberikan kasih sayang seorang ibu

    3. Memperlakukan anak lemah lembut, tidak emosi, dan menganggap anak bukan bagian dari kewajibanya, karena sifat marah dalam islam bukanlah hal baik terutama untuk anak.

    4. Menjaga nama baik keluarga-nya dan tidak berbuat yang dapat merusak keutuhan rumah tangga

    5. Mengasuh, menjaga anak anak sebagaimana ia terhadap suaminya dengan cinta yang utuh

    Pertanyaan yang kedua, apa Kewajiban Anak terhadap Ibu Tiri yang sudah ditinggal ayah?
    Allah berfirman dalam Al Quran:

    “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”(QS Al-Isra : 23-24)

    Sebagaimana disampaikan di Al-Quran maka anak tiri terhadap ibu tiri memiliki kewajiban yang sebagaimana terhadap ibu kandungnya

    1. Berbuat baik, kepada kedua orang tuanya yang masih ada, hal ini termasuk ibu tiri

    2. Tidak berkata kasar, melawan atau membantah perintahnya yang baik

    3. Menjaga dan memelihara terutama saat sudah memasuki usia uzur (lanjut usia)

    4. Mendoakan kebaikan, bukan keburukan kepada orang tua

    5. Membantu kesulitan orang tua dan meringankan bebannya

    Dalam hal ini tidak ada istilah anak tiri tidak bisa menerima ibu tirinya, karena jika sudah berstatus istri dari ayah nya, maka anak tetap harus menghormati, menghargai, dan berbuat baik kepada ibu tiri tersebut selayak ibu kandungnya. Tapi, kalau ibu tiri masih muda dan ingin menikah lagi dengan pria yang bisa bertanggung jawab, tidak ada hak anak untuk melarangnya.

    Wallahu a’lam bis shawab

    • 24 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 15, 2020 in Umum.

    Wa’alaikum salam wr.wb
    Ma sya Allah adinda, tidak ada selembar daun pun yang terjatuh ke bumi tanpa alasan dan semua punya hikmah.
    Kita diciptakan Allah Swt sebagai pemenang di antara ratusan ribu sperma yang berjuang. Selamat! anda adalah pemenang di antara banyak sperma yang lain. Kenapa kita tidak berguna? Karena kita tidak mengenal diri sendiri dan mengenal Allah. Bagaimana cara mengenal Allah? Harus punya ilmu, yang paling mendasar untuk memiliki ilmu adalah membaca kata Allah, dan harus berguru.
    Orang memandang kita hina, karena kita tidak punya kekuatan dari diri kita, yang bahwa kita sangat berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Saya yakin, anda sangat berguna dan menjadi hebat, ketika anda percaya diri, menggali ilmu dan siap untuk berubah. Jangan fokus dengan apa kata orang, karena ketika kita bersandar pada manusia, kita akan rapuh dan mengecewakan.

    Banyak sekali ayat Al Quran yang membahas kenapa kita diciptakan, Allah Swt berfirman:
    “Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu`minun: 115)

    “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36)

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.” (Shad: 27)

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Ad-Dukhan: 38)
    Dari ayat-ayat di atas sungguh sangat jelas bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dan yang ada di langit serta apa yang ada di antara keduanya tidak ada yang sia-sia. Lalu untuk siapakah semuanya itu?
    Mari kita melihat keterangan Allah di dalam Al Qur`an:

    “Dialah yang telah menjadikan bumi terhampar buat kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian, karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 22)

    “Dia Allah yang telah menjadikan segala apa yang di bumi untuk kalian.” (Al-Baqarah: 29)

    “Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, lalu membentuk kalian, membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rizki dari sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Rabbmu, Maha Agung Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Mu`min: 64)

    Allah menciptakan segala apa yang ada di atas bumi buat kalian sebagai wujud kebaikan Allah Swt bagi kalian dan rahmat-Nya agar kalian juga bisa mengambil manfaat darinya, bersenang-senang dan bisa menggali apa yang ada padanya. Dan Allah menciptakan semuanya agar manfaatnya kembali kepada kita.
    Sungguh sangat jelas bahwa semua apa yang ada di langit dan di bumi dipersiapkan untuk manusia seluruhnya. Maha Dermawan Allah Swt terhadap hamba-Nya dan Maha Luas rahmat-Nya.
    Dari keterangan di atas, berarti manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan dipersiapkan baginya segala kenikmatan, tentu ini memiliki tujuan yang agung dan mulia. Lalu untuk apakah tujuan mereka diciptakan?

    Tujuan Diciptakan Manusia
    Manusia dengan segala nikmat yang diberikan Allah Swt memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan makhluk yang lain. Tentu hal ini menunjukkan bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mulia, agung, dan besar. Tujuan inilah yang telah disebutkan oleh Allah Swt di dalam Al Qur`an:

    “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
    Itulah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia, dan Allah mengutus seluruh para rasul untuk menyeru menuju tujuan ini yaitu ibadah yang mencakup di dalamnya pengetahuan tentang Allah dan mencintai-Nya, bertaubat kepada-Nya, menghadap dengan segala yang dimilikinya kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya.
    Semua nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia tidak lain hanya untuk membantu mereka dalam mewujudkan tugas dan tujuan yang mulia ini.
    Kita harus beriman dengan qadha dan qadarnya Allah, tidak ada yang sia-sia dari ciptaanNya, melainkan semuanya ada tujuan, namun kita senantiasa diuji, dan ujian itu sebagai proses kita naik kelas menuju maqam yang lebih tinggi.
    Wallahu a’lam semoga bermanfaat

    This answer accepted by Ikhwan Reza. on May 19, 2020 Earned 15 points.

    • 30 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on June 3, 2020 in Remaja.

    Wa’alaikum salam wr wb
    Bismillahirrahmanirrahim,

    Alhamdulillah keputusan adinda sudah sangat benar, cuma perlu menata hati, dan harus bisa berpikir realistis, bahwa yang bukan milik kita, tidak akan pernah menjadi milik kita. Tugas adinda buka diri untuk siap menerima yang halal sesuai dengan ketentuanNya dan istikhararahlah.

    Hati kita akan menjadi tenang, ketika hidup kita serahkan pada Sang Pemilik kita. Seperti kata Umar bin Khattab: “Hatiku tenang mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang menjadi takdirku tidak akan melewatkanku.

    Dan yang dikatakan Imam Ghazali: “Segala sesuatu yang ditakdirkan untukmu akan sampai kepadamu meskipun jaraknya denganmu sejauh antara dua gunung. Dan segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu tak akan sampai kepadamu meskipun jaraknya denganmu sedekat antara dua bibir.

    Sungguh menakjubkan permasalahan orang mukmin, tidak pernah berlarut dalam masalah, diuji bershabar, diberi nikmat bersyukur. Diberi ujian dijadikannya sebagai landasan saya harus hebat di hadapan Allah. Ujian itu proses seleksi. Kesulitan merupakan tantangan, seleksi siapa yang paling layak. Kesulitan garis pembeda. Mana emas mana loyang, mana kawan mana lawan, mana sahabat mana pengkhianat.

    Sudah jelas, apa yang terjadi dengan adinda itu merupakan seleksi alam, Allah sudah jelas menampakkan kalau laki itu bukan yang terbaik, kalau dia laki yang baik untuk adinda, dia akan datang untuk menemui orang tua, bukan mengajak pacaran. Dan dia juga tidak mencintai, karena tidak pernah memperjuangkan cintanya menuju waktu bisa halal. Adinda berpegang saja pada kata, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik, dan bisa juga dia akan datang pada waktu yang tepat nantinya, tugas kita sekarang, memantaskan diri untuk mendapatkan lelaki yang baik menurut Allah.

    Adinda di atas menyinggung masalah pacaran, Namun yang perlu diketahui bersama, hukum pacaran dalam islam merupakan hal terlarang dan haram. Karena pacaran adalah pintu yang sangat dekat dengan perzinaan. Efek dari pacaran ini pun banyak mudharatnya, bahkan sering terjadi kecelakaan, hamil di luar nikah. Namun yang sangat disayangkan, banyak orang tua yang menerima pacarn atau bahkan ada yang meminta anaknya untuk pacaran, khawatir anaknya tidak ada yang mau. Allah berfirman,

    وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا ﴿٣٢﴾

    “Dan janganlah kamu mendeka isi zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

    Allahpun meminta para laki-laki untuk menjaga pandangannya:

    قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُُ َّ َ َّ َّ َّ َّ َّ َّ َّ َّ
    “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan menjaga kehormatannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)

    Hal ini juga yang diperintahkan Allah kepada kaum hawa:

    وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

    “Katakanlah kepada wanita beriman: “Hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan menjaga kehormatannya…”(QS. An-Nur: 31)

    Kemudian orang yang berpacaran pasti ada waktu untuk berdua-duaan. Sementara berdua-duaan tanpa mahram merupakan hal yang tidak diizinkan.

    لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَم

    “Dilarang keras bagi laki-laki dan perempuan berduaan tanpa mahram.”  ” (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)

    Apalagi kalau sudah saling memegang. Hal ini sangat terlarang. Nabi menyatakan, orang yang ditusuk dengan jarum besi lebih baik dari pada bersentuhan dengan lawan jenis non mahram.

    لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

    “Seorang pria yang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (Shahih Al-Jami ‘no. 5045)

    Jika kita menyetujui sesuai drngan yang di atas, maka pacaran merupakan hal yang terlarang, haram untuk dikerjakan.

    • 22 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadzah Asked on May 3, 2020 in Remaja.

    Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
    Alhamdulillah ananda, karena hidayah dan iman ananda kepada Allah, Dia bersitkan ananda untuk bertanya, semoga selalu dalam kasih sayang Allah.
    Ananda! Allah telah menciptakan kita berpasang-pasangan, bukan berarti kita tidak boleh mencintai yang sejenis, kita boleh mencintai yang sejenis lebih dari kita mencintai diri sendiri, tapi dalam konteks mencintai karena Allah bukan karena naluri dan hasrat yang melenceng tidak sesuai dengan yang telah ditetapkanNya, ustadzah salut dengan ananda yang punya sikap untuk memilih bertanya sebelum semuanya terlanjur, masya Allah, semua karena Allah sayang kita. Katakan pada saudari seiman ananda, dunia ini hanya sementara, tempat kita yang kekal abadi di akhirat sana. kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah bukan untuk menghambakan kepada percintaan yang salah, kalau pun ada rasa yang salah, harus segera kita bertaubat, kita harus lebih cerdas dari makhluk yang lain, yang tahu cari pasangan bukan dengan yang sejenis, yang berlainan jenis saja harus diikat dengan ijab qabul yang sah untuk saling mencintai. Ananda harus mengatakan yang pahit walaupun menyakitkan, karena api neraka lebih mengerikan. Menyangkut cerita cinta sejenis ini, siksaan Allah amat berat, seperti yang diceritakan dalam Al Quran.

    Manusia pertama yang melakukan perkawinan sejenis adalah umatnya Nabi Luth alaihissalam. Allah berfirman,

    وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

    “Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘” (Q.s. Al-Ankabut:28)

    Dan mereka dikenal sebagai umat yang sangat bejat. Saking bejatnya, sampai nurani yang baik itu hilang. Hingga terjadilah kemaksiatan yang sangat menjijikkan ini. Sebelum zaman Nabi Luth, sudah ada umat yang dibinasakan oleh Allah. Seperti kaumnya Nabi Nuh, kaum ‘Ad, dan kaum Tsamud. Namun mereka belum melakukan pelanggaran homo semacam ini.

    Karena itulah, Allah menghukum umatnya Nabi Luth, dengan hukuman yanng sangat berat, yang belum pernah diberikan kepada orang kafir lainnya. Buminya dijungkir, lalu mereka dilempari batu.

    Dan jika kita perhatikan dalam al-Quran, ternyata Allah memberikan hukuman kepada umatnya Luth dengan empat hukuman sekaligus,
    Pertama, Dibutakan matanya
    Di surat al-Qamar ayat 33, Allah berfirman,

    كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ

    “Kaumnya Luth telah mendustakan peringatan.”

    Kemudian, di ayat 37 Allah berfirman,

    وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

    “Sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al-Qamar: 37).

    Diceritakan dalam buku sirah, ketika lelaki kaum Luth berusaha untuk masuk ke rumah Nabi Luth, karena ingin merebut tamu Luth yang ganteng-ganteng – malaikat yang berubah wujud manusia – maka keluarlah Jibril. Lalu beliau memukul wajah mereka semua dengan ujung sayapnya. Seketika mereka jadi buta. Akhirnya mereka nabrak-nabrak tembok, hingga mereka bisa kembali ke rumahnya sendiri. Mereka mengancam Luth, besok akan datang lagi dan mengadakan perhitungan dengan Luth. (Fabihudahum Iqtadih, hlm. 257).

    Kedua, Allah kirimkan suara yang sangat keras
    Alllah berfirman,

    فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ

    “Mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.” (QS. Al-Hijr: 73).

    Suara itu sangat keras, datang memekakkan telinga mereka, di saat matahari terbit. Di saat, bumi mereka telah diangkat.

    Ketiga, Bumi yang mereka tempati diangkat dan dibalik

    Allah berfirman,

    فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

    “Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82).

    Sesungguhnya Jibril mengangkat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya.
    Lalu dilempar kembali ke tanah. Allah berfirman,

    وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى

    “Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53)

    Keempat, Dihujani dengan batu

    Allah berfirman,

    فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

    Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (QS. Al-Hijr: 74).

    Setiap batu ada namanya. Allah menyebutnya,

    مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

    “Yang diberi nama oleh Rabmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas.” (QS. ad-Dzariyat: 34).

    Hukuman Dunia
    Cerita di atas berkaitan hukuman yang Allah berikan kepada kaum Luth. Selanjutnya, ketika ini terjadi pada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hukuman apa yang berlaku untuk mereka?
    Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan hukuman pelaku homo, lesbian (LGBT)

    Pertama, mereka mendapatkan laknat

    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

    Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… 3 kali. (HR. Ahmad 2915 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

    Kedua, dihukum bunuh, baik yang jadi subjek maupun objek.

    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

    “Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462, dan disahihkan al-Albani).
    Dosa homo dan lesbi sama, menyangkut lesbi sabda Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam : Ada tiga kelompok manusia yang Allah tidak akan menerima syahadat mereka: Pelaku pendidikan, lesbian, dan penguasa yang keji. ” (Az-Zawajir ‘An Iqtirafil Kabaa’ir: 472 dosa besar no. 362).
    Ananda shalihah! Jangan takut untuk mengatakan yang benar, sayangi dia karena Allah, luruskan niat dan harus benar-benar mulai untuk mengenal islam dengan mendatangi guru ngaji, perbanyak istighfar, karena maksiyat ysng satu akan membuka jalan maksiyat yang lain, perbanyak zikir dengannya kita sudah membesarkan Allah, hingga bisikan syaitan itu mengecil dan menghilang.
    Semoga misi ananda untuk segera berhijrah dan menghijrahkan teman berhasil, jangan berikan peluang syaithan untuk menguasai diri kita, naudzubillah tsumma na’udzubillah. Tetap istiqamah dalam kebaikan hingga wafat dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.

    Wallahua’lam bis shawab

    • 36 views
    • 1 answers
    • 0 votes