Ustadz Aqil's Profile
Ustadz
426
Points

Questions
0

Answers
11

  • Ustadz Asked on September 6, 2019 in Fiqih.

    Waalaikumsalam..

     

    Khusyu merupakan sesuatu yang diperintahkan untuk dicari ketika kita shalat. dan sangat banyak dalil yang menunjukan hal ityu.

    namun jumhur ulama mengatakan bahwasanya tidak khusu’ tidak menjadikan shalat kita batal. mereka berdalil dengan sebuah hadist riwayat Tirmidzi:

    أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلا يعبث بلحيته في الصلاة فقالا : لو خشع قلب هذا لخشعت جوارحه ”

    Bahwa nabi SAW melihat seseorang yang memainkan jenggotnya di dalam shalat. kemudian ia bersabda: jika hatinya khusyu maka tentu tubuhnya juga akan khusyu’ (tidak bergerak-gerak)

    dalam hadist di atas nabi hanya mengomentari tentak ketidak khusyu’anya. akan tetapi tidak memerintahkan porang tersebut untuk mengulangi shalatnya yang tidak khusy’ tadi.

    namun kendati demikian bukan berarti kita tidak memperbaiki shalat yang tiudak khusyu tadi.

    Allahu A’alam

    • 167 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on September 6, 2019 in Zakat.

    Waalaikumsalam.

    syarat wajib zakat uang adalah nishab dan haul.

    Nisab adalah batas minimal uang yang dimiliki  seseorang (seluruh uang) sehingga ia wajib mengeluarkan zakat. nisab uang adalah 20 dinar. atau sekitar 85 gram emas. maka jika uang yang dimiliki tidak sampai dari harga 85 gram emas maka orang tersebut belum wajib bayar.

    dan tidak cukup sampai disitu, harta yang sudah mencapai nishab tadi juga harus melalui haul. yaitu dimiliki selama satu tahun dengan kalender hijriyah. barulah jika sudah memenuhi dua syarat tersebut seoserang wajib zakat. dan zakat uang adalah kewajiban yang sifatnya setahun sekali. sedangkan uang yang didapatkan diantara setahun tersebut, maka ditangguhkan pembayaran zakatny6a sampai masuk haul/tahun berikutnya.

    Allahu A’alm.

    • 86 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Muamalat.

    hukum forex atau foreign exchange (jual beli mata uang asing) hukumnya boleh jika memenuhi syarat.
    syaratnya adalah harus kontan atau cash. tidak diperkenankan adanya perbedaan waktu penyerahan dalam trading forex. dalam arti jika seseorang membayar uang rupiah tunai saat ini juga, maka ia harus menerima uang asing itu pada waktu yg bersamaan. jika terjadi perbedaan waktu penyerahan maka akan timbul riba jual beli.

    الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
    “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

    terdapat satu syarat lagi yang diberikan oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia) bahwa trading dilakukan untuk kebutuhan yang diperolehkan. bukan hanya sekedar nyari keuntungan dari selisih yang ada. karena di dalamnya terdapat gambling atau maisir.
    Allahu A’lam

    • 265 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on July 17, 2019 in Fiqih.

    Waalaikum salam….

    Pertama yang harus diketahui adalah bahwasanya hukum berkurban adalah sunnah menurut jumhur ulama. Dalam madzhab syafii disebutkan sunnah kifayah dalam satu keluarga. yang artinya adalah kesunnahan cukup dilakukan satu orang saja dalam satu keluarga. sebagaimana dalam menshalatkan jenazah, jika terdapat satu orang yang sudah menshalatkan maka cukup. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَبَحَ كَبْشًا وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

    Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Nabi SAW menyembelih seekor kambing kibash dan membaca,”Bismillah, Ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad”. Kemudian beliau berquran dengannya. (HR. Muslim)

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan:

    واستدل بهذا من جوز تضحية الرجل عنه وعن أهل بيته واشتراكهم معه في الثواب وهو مذهبنا ومذهب الجمهور

    Dari Hadist ini ulama membolehkan seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya dan mereka semua mendapatkan pahala qurban. inilah madzhab kami (syafii) dan Jumhur ulama.

    شرح النووي على مسلم (13/ 122)

    Dari pernyataan di atas, memang dalam satu keluarga dicukupkan untuk berkurban hanya salah satu saja. akan tetapi bukan tidak diperbolehkan jika ada anggota keluarga lain yang ikut berqurban. Bahkan jika dalam satu keluarga terdapat beberapa yang  menyembelih maka lebih afdhal. sebagaimana dalam menshalatkan janazah tentu lebih banyak lebih baik. meskipun sebenarnya sudah cukup dengan satu orang saja. Allahu A’lam.

    • 4088 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on September 6, 2019 in Umum.

    Memang dalam masalah musik ini sudah menjadi perdebatan ulama sejak dulu. sebagian mengharamkan dan sebagian lagi membolehkan. namun perlu dilihat bahwasanya musik zaman para ulama dahulu dan musik pada zaman sekarang merupakan dua hal yang tidak 100% sama. maka sangat mungkin hukumnyapun berbeda. kebanyakan ulama dahulu mengharamkan. sedangkan pada zaman ini tidak sedikit ulama yang membolehkan engan keadaan tertentu.

     

    untuk lebih detailnya silahkan merujuk kepada salah satu buku kecil karya salah satu ustadz rumah fiqih yang bisa di download secara gratis di:

    http://115.124.74.133/Dropbox/BOOKLET-PDF/word/pdf/168.pdf

    • 213 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Aqidah.

    Bersentuhan dengan mertua tidak membatalkan wudhu. KArena mertua merupakan salah satu mahram dari jalur pernikahan. hal ini dijelaskan dalam surat An-Nisa :

    {وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ} [النساء: 23]

    dan (diharamkan  untukmu menikahi ) ibu dari istrimu. QS. An-Nisa (23)

    dalam ayat di atas disebutkan bahwa ibu mertua merupakan mahram bagi seorang laki-laki. maka begitupala bagi seorang perempuan. ayah dari suami (ayah mertua) juga merupakan mahram bagi dia. diperbolehkan baginya bersentuhan dan juga tidak akan membatalkan wudhu.

    Allahu A’lam.

    • 104 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 14, 2019 in Fiqih.

    Aqiqah merupakan sebuah ritual penyembelihan yang hukumnya sunnah pada kelahiran seorang bayi. dengan ketentuan jika bayi laki-laki dua ekor kambing dan bayi perempuan satu ekor. akan tetapi jika hanya mampu satu ekor saja untuk anak laki-laki, maka hal ini juga tidak masalah. dan tetap mendapatkan kesunnahan. sebagaimana disebutkan oleh imam nawawi dalam kitabnya:

     

    قال النووي رحمه الله في شرحه :” السنة أن يعق عن الغلام شاتين, وعن الجارية شاة , فإن عق عن الغلام شاة حصل أصل السنة   (  شرح المهذب”(8/409) .

    Imam Nawawi berkata: Disunnahkan bagi bayi laki-laki disembelihkan dua ekor kambing, dan bagi bayi perempuan satu ekor kambing. namun jika hanya disembelihkan satu ekor untuk anak laki-laki maka dia telah mendapatkan kesunnahanya.  (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab)

     

    Allahu a’lam

    • 175 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on September 6, 2019 in Umum.

    Waalaikumsalam. terdapat dua pertanyaan di sisni.

    Pertama: Apa hukum memakan hewan yang masih hidup?

    Jawabanya bisa kita bagi menjadi dua kondisi.

    1. Hewan yang halal bangkainya. contohnya ikan dan hewan air (yang halal) dan belalang. maka memakan hewan-hewan tersebut dalam keadaan masih hidup ulama berbeda pendapat.

    a. Madzhab Hambali dan Hanafi mengharamkan hal tersebut. sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah :

    وإذا أخذ السمك حيا لم يجز أكله حتى يموت أو يمات ، كما يقول الحنفية والحنابلة . ويكره شيه حيا ، لأنه تعذيب بلا حاجة ، فإنه يموت سريعا فيمكن انتظار موته

    jika ikan diambil dalam keadaan masih hidup, maka tidak boleh memakanya sampai ia mati. sebagaimana dikatakan oleh madzhab hanafi dan hambali. dan dimakruhkan membakarnya dalam keadaan masih hidup. karena  terdapat penyiksaan yang tidak seharusnya. sedangkan ikan tersebut bisa mati dengan cepat dan dimungkinkan untuk ditunggu sampai benar-benar mati.

    b. Madzhab Syafii dalam salah satu riwayat mengatakan bahwasanya memakan hewan ikan atau belalang dalam keadaan hidup itu hukumnya makruh. sebagaimana disebutkan oleh imam nawawi dalam kitabnya al-majmu’:

    وَلَوْ ابْتَلَعَ سَمَكَةً حَيَّةً أَوْ قَطَعَ فِلْقَةً مِنْهَا وَأَكَلَهَا أَوْ ابْتَلَعَ جَرَادَةً حَيَّةً أَوْ فِلْقَةً مِنْهَا فَوَجْهَانِ (أَصَحُّهُمَا) يُكْرَهُ وَلَا يَحْرُمُ

    jika seseorang menelan ikan atau potongan dari ikan hidup atau belalang utuh ataupun potongan dari belalang hidup, maka ada dua pendapat. yang lebih shahih adalah hukumnya makruh. tidak sampai haram.

    2. Hewan yang haram bangkainya (selain ikan, hwan air yang halal dan belalang)

    jika hewan yang haram bangkainya maka diharamkan memakanya dalam keadaan hidup-hidup menurut kesepakatan ulama. karena sama saja dengan memakan bangkai yang mati bukan disembelih. sebagaimana disebutkan imam nawawi dalam kitabnya al-majmu:

    وَأَمَّا هَذَا السَّنَام الْمَقْطُوع فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَقَدَّمَ نَحْرهمَا فَهُوَ حَرَام بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ ; لِأَنَّ مَا أُبِينَ (أي : قُطع) مِنْ حَيّ فَهُوَ مَيِّت

    adapun punuk yang terpotong jika berasal dari hewan yang belum disembelih maka hukumnya haram dengan dalil ijma (kesepakatan) seluruh muslim. karena semua yang terputus dari hewan yang masih hidup statusnya bangkai.

    sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist riwayat Abu Daud:

    مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهِيَ مَيْتَةٌ

    segala sesuatu yang terpotong dari hewan ternak (sapi, kambing, unta) sedangkan hewan tersebut masih hidup maka sesungguhnya (bagiuan yang terpotong) itu adalah bangkai.

    Pertanyaan kedua: Hukum memakan daging mentah?

    Ibn Muflih mengatakan dalam kitabnya al-Adab al-Syariyah:

    يكره أن يأكل لحما نيئا أو غير نضيج

    dimakruhkan memakan daging mentah atau belum matang.

     

    akan tetapi ulama lain mengatakan tidak mengapa jika memakan daging yang mentah. karena memang batasan halal haram tidak ditentukan matang atau tidaknya suatu daging. dan memang tidak ditemukan dalil yang mengharamkan.

     

    Allahu A’lam

    • 145 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 14, 2019 in Muamalat.

    waalaikumsalam warahmatullah.

     

    Jual beli emas memang menurut jumhur ulama haruslah tunai. Dalam arti ketika kita berikan uang kita kita saat itu juga mendapatkan emas yang kita beli. jika tidak tunai baik emas yang ditangguhkan atau uang yang ditangguhkan, maka akan masuk dalam katagori riba jual beli. sebagaimana sabda Nabi:

    الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

    Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim )

    jika emas masih berupa nilai saja, maka sebenarnya jual beli tidak terjadi secara tunai.  Tentu hal ini diharamkan oleh jumhur ulama.  akan tetapi dalam pandangan sebagian kecil ulama hal itu dibenarkan. dengan alasan bahwasanya emas bukan lagi barang ribawi. tetapi sudah menjadi komoditi dagang biasa sebagaimana barang lainya. hal ini diungkapkan oleh Ibn Taimiyah dari mazhab Hambali dan diikuti oleh Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

     

    Allahu a’lam.

     

     

    • 118 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Wanita.

    terdapat sebuah kaidah “sesuatu yang yakin (dapat dipastikan) tidak bisa dibatalkan dengan sesuatu yg masih diragukan”

    jika seseorang ragu apakah terkena hadast atau tidak, jawabanya adalah tidak. karena sucinya tubuh dari hadast besar itu bisa dipastikan (tidur dalam keadaan tidak ada hadast besar) sedangkan sebab hadast besar itu sendiri masih diragukan ( apakah mimpi atau tidak).

    kecuali jika ditemukan bukti yang menjadikan hadast besar itu dipastikan adanya. yaitu cairan.

    namun selama belum ada bukti maka anda masih dalam keadaan tidak berhadast besar.

    • 159 views
    • 1 answers
    • 0 votes