Ustadz Aqil's Profile
Ustadz
418
Points

Questions
0

Answers
7

  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Muamalat.

    hukum forex atau foreign exchange (jual beli mata uang asing) hukumnya boleh jika memenuhi syarat.
    syaratnya adalah harus kontan atau cash. tidak diperkenankan adanya perbedaan waktu penyerahan dalam trading forex. dalam arti jika seseorang membayar uang rupiah tunai saat ini juga, maka ia harus menerima uang asing itu pada waktu yg bersamaan. jika terjadi perbedaan waktu penyerahan maka akan timbul riba jual beli.

    الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
    “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

    terdapat satu syarat lagi yang diberikan oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia) bahwa trading dilakukan untuk kebutuhan yang diperolehkan. bukan hanya sekedar nyari keuntungan dari selisih yang ada. karena di dalamnya terdapat gambling atau maisir.
    Allahu A’lam

    • 222 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on July 17, 2019 in Fiqih.

    Waalaikum salam….

    Pertama yang harus diketahui adalah bahwasanya hukum berkurban adalah sunnah menurut jumhur ulama. Dalam madzhab syafii disebutkan sunnah kifayah dalam satu keluarga. yang artinya adalah kesunnahan cukup dilakukan satu orang saja dalam satu keluarga. sebagaimana dalam menshalatkan jenazah, jika terdapat satu orang yang sudah menshalatkan maka cukup. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَبَحَ كَبْشًا وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

    Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Nabi SAW menyembelih seekor kambing kibash dan membaca,”Bismillah, Ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad”. Kemudian beliau berquran dengannya. (HR. Muslim)

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan:

    واستدل بهذا من جوز تضحية الرجل عنه وعن أهل بيته واشتراكهم معه في الثواب وهو مذهبنا ومذهب الجمهور

    Dari Hadist ini ulama membolehkan seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya dan mereka semua mendapatkan pahala qurban. inilah madzhab kami (syafii) dan Jumhur ulama.

    شرح النووي على مسلم (13/ 122)

    Dari pernyataan di atas, memang dalam satu keluarga dicukupkan untuk berkurban hanya salah satu saja. akan tetapi bukan tidak diperbolehkan jika ada anggota keluarga lain yang ikut berqurban. Bahkan jika dalam satu keluarga terdapat beberapa yang  menyembelih maka lebih afdhal. sebagaimana dalam menshalatkan janazah tentu lebih banyak lebih baik. meskipun sebenarnya sudah cukup dengan satu orang saja. Allahu A’lam.

    • 3004 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Aqidah.

    Bersentuhan dengan mertua tidak membatalkan wudhu. KArena mertua merupakan salah satu mahram dari jalur pernikahan. hal ini dijelaskan dalam surat An-Nisa :

    {وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ} [النساء: 23]

    dan (diharamkan  untukmu menikahi ) ibu dari istrimu. QS. An-Nisa (23)

    dalam ayat di atas disebutkan bahwa ibu mertua merupakan mahram bagi seorang laki-laki. maka begitupala bagi seorang perempuan. ayah dari suami (ayah mertua) juga merupakan mahram bagi dia. diperbolehkan baginya bersentuhan dan juga tidak akan membatalkan wudhu.

    Allahu A’lam.

    • 54 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked 1 week ago in Fiqih.

    Aqiqah merupakan sebuah ritual penyembelihan yang hukumnya sunnah pada kelahiran seorang bayi. dengan ketentuan jika bayi laki-laki dua ekor kambing dan bayi perempuan satu ekor. akan tetapi jika hanya mampu satu ekor saja untuk anak laki-laki, maka hal ini juga tidak masalah. dan tetap mendapatkan kesunnahan. sebagaimana disebutkan oleh imam nawawi dalam kitabnya:

     

    قال النووي رحمه الله في شرحه :” السنة أن يعق عن الغلام شاتين, وعن الجارية شاة , فإن عق عن الغلام شاة حصل أصل السنة   (  شرح المهذب”(8/409) .

    Imam Nawawi berkata: Disunnahkan bagi bayi laki-laki disembelihkan dua ekor kambing, dan bagi bayi perempuan satu ekor kambing. namun jika hanya disembelihkan satu ekor untuk anak laki-laki maka dia telah mendapatkan kesunnahanya.  (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab)

     

    Allahu a’lam

    • 137 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked 1 week ago in Muamalat.

    waalaikumsalam warahmatullah.

     

    Jual beli emas memang menurut jumhur ulama haruslah tunai. Dalam arti ketika kita berikan uang kita kita saat itu juga mendapatkan emas yang kita beli. jika tidak tunai baik emas yang ditangguhkan atau uang yang ditangguhkan, maka akan masuk dalam katagori riba jual beli. sebagaimana sabda Nabi:

    الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

    Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim )

    jika emas masih berupa nilai saja, maka sebenarnya jual beli tidak terjadi secara tunai.  Tentu hal ini diharamkan oleh jumhur ulama.  akan tetapi dalam pandangan sebagian kecil ulama hal itu dibenarkan. dengan alasan bahwasanya emas bukan lagi barang ribawi. tetapi sudah menjadi komoditi dagang biasa sebagaimana barang lainya. hal ini diungkapkan oleh Ibn Taimiyah dari mazhab Hambali dan diikuti oleh Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

     

    Allahu a’lam.

     

     

    • 75 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Wanita.

    terdapat sebuah kaidah “sesuatu yang yakin (dapat dipastikan) tidak bisa dibatalkan dengan sesuatu yg masih diragukan”

    jika seseorang ragu apakah terkena hadast atau tidak, jawabanya adalah tidak. karena sucinya tubuh dari hadast besar itu bisa dipastikan (tidur dalam keadaan tidak ada hadast besar) sedangkan sebab hadast besar itu sendiri masih diragukan ( apakah mimpi atau tidak).

    kecuali jika ditemukan bukti yang menjadikan hadast besar itu dipastikan adanya. yaitu cairan.

    namun selama belum ada bukti maka anda masih dalam keadaan tidak berhadast besar.

    • 126 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on August 7, 2019 in Fiqih.

    puasa tidak ada kaitanya dengan hadast besar. maka sah puasa seseorang yang belum sempat mandi untuk mensucikan hadast besarnya. karena memang puasa tidak mensyaratkan seseorang terbebas dari hadast besar. Bahkan Nabi pun pernah junub dan belum sempat mandi sebelum subuh.

    كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779).

    berbeda dengan shalat yang tidak sah kecuali sudah suci dari hadast besar maupun kecil.
    Allahu a’lam

    • 53 views
    • 1 answers
    • 0 votes