Wildan Jauhari's Profile
Ustadz
411
Points

Questions
0

Answers
5

  • Ustadz Asked on March 26, 2020 in Aqidah.

    Bismillah walhamdulillah wasshalaatu wassalaamu ala rasuulillah, wa ba’du;

    Pada dasarnya sama saja kriteria bagi laki-laki maupun perempuan agar bisa masuk surganya Allah swt dan menikmati segala kenikmatan di dalamnya. Yang secara umum bisa kita sebutkan yaitu ketika seseorang memiliki keimanan yang lurus dan ibadah yang benar. Sebagaimana kita kenal dengan rukun iman yang enam dan rukun islam yang lima itu.

    Atau lebih umum lagi, kita selalu mematuhi perintah Allah swt dan menjauhi segala larangan-Nya. Berdasarkan firman Allah swt;

     

    رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

    رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

    فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

     

    “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

    “Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

    “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali Imran : 193-195)

    Namun memang ada satu hadis Nabi Muhammad saw yang secara eksplisit menyebut bahwa seorang perempuan bisa mendapat karunia besar dari Allah swt berupa diizinkannya ia masuk lewat pintu surga yang mana saja yang ia kehendaki, asalkan memenuhi syarat dan kriteria yang disebutkan oleh Nabi saw dalam sabdanya.

    Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

    إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

    Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad, 1:191 dan Ibnu Hibban, 9:471. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1932 bahwa hadits ini hasan lighairihi).

    wallahu a’lam.

    • 180 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on March 23, 2020 in Nikah.

    Wa alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

    Bismillah walhamdulillah wasshalaatu wasalaamu ala rasuulillah, wa ba’du

    Kita akan diskusikan dahulu apa itu ahli kitab sebelum membincangkan bagaimana hukum menikahinya.

    Umumnya para ulama mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah mereka golongan Yahudi dan Nasrani.

    معجم لغة الفقهاء (ص: 95)

    أهل الكتاب: هم اليهود والنصارى

    Ahlu kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (Mu’jam Lughah al-Fuqaha. Hal 95)

     

    التعريفات الفقهية (ص: 39)

    أهل الكتاب: هم اليهود المشهور ببني إسرائيل والنصارى وغيرُهما ممن اعتقدوا ديناً سماوياً ولهم كتابٌ منزل كصحف إبراهيم وتوراة موسى وزبور داود وإنجيل عيسى على نبينا وعليهم الصلاة والسلام.

    Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi yang terkenal dengan sebutan Bani Israil dan Nasrani, serta selain keduanya yang memiliki keyakinan agama samawi. Mereka memiliki kitab yang diturunkan dari langit seperti Suhuf Ibrahim, Taurat Musa, Zabur Daud, dan Injil Isa alaihimussalaam” (al-Ta’rifat al-Fiqhiyyah. Hal 39)

    Kemudian timbul pertanyaan, apakah orang-orang yahudi dan nasrani hari ini masih bisa kita sebut dengan ahli kitab? Bukankah sudah banyak penyimpangan dan penyelewengan mereka terhadap keyakinan mereka sendiri?

    Maka jawabannya adalah sebagaimana ditegaskan oleh jumhur ulama; Yahudi dan Nasrani hari ini adalah sama (secara prinsip) dengan Yahudi dan Nasrani di zaman dahulu (zaman Nabi saw dan para sahabat). Penyimpangan mereka bahkan telah terjadi sejak zaman nubuwwah. Hal ini disebutkan Allah swt dalam firman-Nya;

    لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah : 73)

    Meskipun demikian Allah swt dan Rasulullah saw tetap melabeli mereka dengan sebutan ahli kitab. Oleh karena itu, hari ini orang-orang yang mengaku sebagai Yahudi atau Nasrani dengan apapun golongan dan sekte mereka tetaplah kita sebut dan hukumi sebagai ahli kitab.

    Lalu soal perasaan anda yang hendak meminang dan menikahinya, maka hal yang demikian diperbolehkan, sebagaimana kesepakatan jumhur ulama.

    berdasarkan firman Allah swt dalam Al-Quran Al-Karim surat al-Maidah ayat 5;

    وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

    “…(Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu…”

    Meskipun boleh bagi seorang laki-laki muslim untuk menikahi perempuan ahli kitab, dalam prakteknya para ulama tetap memberikan panduan agar diperhatikan, di antaranya;

    1. Yang boleh dinikahi adalah jika perempuan tersebut termasuk ahli kitab yaitu terbatas pada yahudi dan nasrani. Bukan orang atheis atau musyrik.
    2. Yang boleh dinikahi adalah jika perempuan tersebut afifah; yaitu perempuan baik-baik yang selalu menjaga diri dan kehormatannya.
    3. Setelah menikah, anda sebagai laki-laki muslim tetap wajib mendakwahkan islam padanya. Dimulai sejak hari pertama menikah sampai ujung usia. Begitu pula dengan keturunan yang hadir nanti, wajib mengikuti agama Islam; agama ayahnya. Bukankah Allah swt memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari panasnya siksa neraka?

     

    wallahu a’lam.

    • 58 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on March 25, 2020 in Umum.

    Wa alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

    Bismillah walhamdulillah wasshalaatu wassalaamu ala rasuulillah, wa ba’du;

    Pada dasarnya, seseorang dibolehkan berdoa meminta apa saja demi kebaikan dunia dan akhiratnya. Mulai dari hal-hal yang penting seperti urusan jodoh atau pasangan, sampai hal kecil yang sering dipandang remeh, pun sah-sah saja kita meminta itu pada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengabulkan Doa.

    Sebagaimana Allah swt berfirman,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

    “Allah swt berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku ijabahi setiap doa dan pintamu.” (QS. Ghafir: 60).

    Hanya saja perlu kita pahami bahwa Allah swt berhak mengabulkan doa seperti yang kita minta atau menggantinya dengan kebaikan lainnya. Bersyukur ketika pinta kita dikabulkan, dan tidak berputus asa apalagi berprasangka buruk kepada-Nya jika tak serupa seperti yang didamba; adalah sikap bijak kita terkait doa-doa yang dipanjatkan.

    Dari Abu Said al-khudri ra, Nabi Muhammad saw bersabda,

    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

    “Setiap muslim yang berdoa kepada Allah –selama bukan doa yang mengandung dosa atau memutus silaturahmi– pasti akan Allah swt ijabahi permohonannya dengan salah satu dari 3 bentuk; Allah swt segerakan doanya, atau Allah swt simpan doanya untuk diberikan ketika di akhirat, atau Allah swt selamatkan dirinya dari musibah yang semisal dengan apa yang dia minta.” (HR. Ahmad 11133).

    Meski boleh, namun saya rasa doa saudari kurang tepat. Sebab, jika hal ini dibiarkan, anda selamanya akan tertawan oleh bayangannya -yang sebenarnya berasal dari hati dan pikiran anda sendiri- dan bisa terjerumus ke dalam hal yang kontra produktif bahkan yang terlarang dalam agama. Misalnya, anda selalu membayangkannya, berdua dengannya, atau sampai memutuskan tidak menikah sama sekali.

    Maka jika boleh memberi saran; kenapa saudari tidak berusaha untuk melupakannya untuk kemudian menyiapkan diri, berdoa dan menjemput jodoh anda di dunia? bisa jadi Allah swt telah menyiapkan seseorang yang lebih baik darinya bagi anda, di dunia dan di akhirat. Hal ini saya rasa lebih bisa untuk menjaga hati dan diri saudari.

    wallahu a’lam.

    • 194 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on March 27, 2020 in Muamalat.

    Wa alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

    Bismillah walhamdulillah wasshalaatu wassalaamu ala rasuulillah, wa ba’du;

    Dalam syariah islam, ada satu kaidah yang penting untuk kita pahami terkait masalah muamalah, yaitu

    الأصل في المعاملات الإباحة حتى يدل الدليل على تحريمها

    “hukum asal sesuatu -dalam bab muamalah- adalah boleh (mubah), kecuali ada dalil yang melarangnya (haram).”

    Maka dalam bab muamalah ini, segala macam transaksi atau akad di dalamnya diperbolehkan, asalkan tidak melanggar aturan syariat seperti adanya maisir (judi), gharar (ketidakjelasan), riba, kezaliman, atau perbuatan dan barang yang diharamkan Allah swt dan Rasul-Nya saw.

    Dalam literatur fiqih, baik klasik maupun kontemporer, jual beli kredit biasa disebut dengan bai taqsit (بيع التقسيط) dan hampir para ulama sepakat hukumnya diperbolehkan. Sebagaimana diterangkan oleh DR Wahbah al-Zuhaili;

     

    الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (5/ 3461)

    أجاز الشافعية والحنفية والمالكية والحنابلة وزيد بن علي والمؤيد بالله والجمهور (3): بيع الشيء في الحال لأجل أو بالتقسيط بأكثر من ثمنه النقدي إذا كان العقد مستقلاً بهذا النحو، ولم يكن فيه جهالة بصفقة أو بيعة من صفقتين أو بيعتين، حتى لايكون بيعتان في بيعة. قال ابن قدامة في المغني: البيع بنسيئة ليس بمحرم اتفاقاً ولايكره.

    “Para ulama madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali, Zaid bin Ali, al-Muayyid Billah, dan umumnya jumhur ulama membolehkan jual beli kredit. Yaitu jual beli dengan cara menaikkan harga di atas harga kontan (terdapat margin harga karena adanya penangguhan waktu). Asalkan terbebas dari praktek jahalah (ketidakjelasan akad) atau akad ganda yang terlarang. Bahkan Imam Ibnu Qudamah (seorang ulama besar madzhab Hanbali) mengatakan dalam kitabnya al-Mughni; “Para ulama sepakat bahwa hukum jual beli kredit tidak haram, tidak pula makruh.”

    (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Jilid 5, hal 3461)

    wallahu a’lam.

    • 133 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Ustadz Asked on March 24, 2020 in Isu Trending.

    Bismillah walhamdulillah wasshalaatu wasalaamu ala rasuulillah, wa ba’du

    Pertanyaan Bapak ini, bisa jadi mewakili ribuan hati orang tua yang memiliki keresahan yang sama. Berada dalam satu kondisi antara dua hal, kemudian bingung memilih mana yang harus diprioritaskan. Sebelum kita lebih jauh, kabar baiknya adalah dua hal tadi sama-sama kebaikan. Artinya, hal manapun yang kita pilih tidak mengeluarkan kita dari lingkaran kemuliaan yang dijanjikan Allah swt dan Rasul-Nya saw.

    Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang hanya memiliki satu jawaban pasti. Pertanyaan yang serupa bisa berbeda jawabannya, jika diajukan oleh orang yang berbeda. Sangat bergantung pada kondisi, situasi, latar belakang dan kebutuhan keluarga sang penanya, sehingga jawaban yang diberikan sesuai prioritas sebenarnya.

    Maka, tulisan ini hanya sebagai pandangan umum dan bahan renungan saja.

    ..

    Jika kita pilah satu persatu, maka kita dapati berbagai keutamaan di dua hal tersebut; menghafal Al-Quran dan mempelajari fiqih. Kita mulai dari Al-Quran terlebih dahulu. Hari ini banyak digaungkan bahwa seorang anak yang hafal Al-Quran maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dan baju kebesaran nanti di akhirat.

    Dari sahabat Buraidah ra, Nabi saw bersabda,

    من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

    “Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756)

    Jika kita mau jujur, berdasarkan hadis tersebut, ternyata keutamaan ini tidak hanya diraih dengan modal ‘hafal’ Al-Quran saja; melainkan juga memahami dan mengamalkannya. Oleh karena itu banyak ulama menerangkan bahwa yang dituntut dari Al-Quran adalah memahami dan mengamalkannya. Itulah yang wajib. Menghafalkannya dihukumi sunnah. Meskipun kita sepakat bahwa itu sebuah kemuliaan yang besar.

    ..

    lalu apa keutamaan belajar fiqih?

    Dalil syar’i yang menerangkan ini juga tidak kalah banyaknya, di antaranya;

    وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

    “Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

     

    Dan juga hadis Nabi Muhammad saw;

     

    من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

     “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

     

    Dari berbagai dalil ini, umumnya para ulama menerangkan mempelajari hukum fiqih pada tataran praktis agar kita bisa menjalankan yg halal dan menjauhi yang haram serta agar ibadah kita bernilai pahala (karena didasari ilmu); hukumnya wajib.

    Nah sampai di sini, jika kita hanya bisa memilih salah satu antara keduanya -karena sempitnya waktu misalnya-, maka tentu kita kedepankan hal-hal yang sifatnya wajib dibanding hal yang hukumnya sunnah.

    ..

    Tetapi tentu saja ada jalan lain, yaitu jalan pertengahan. Kita tidak perlu membenturkan antara dua hal tersebut. Bahwa dua hal yang sama-sama baik ini bisa jalan berdampingan, seiring seirama, tanpa harus dipertentangkan.

    Sudah banyak ‘sekolah tahfidz’ yang juga diajarkan dalam kurikulumnya berbagai cabang ilmu lainnya; termasuk fiqih praktis yang dirasa cukup untuk bekal beramal. Begitu juga banyak madrasah-madrasah yang konsen mempelajari ilmu fiqih, yang di dalamnya dipelajari juga Al-Quran (termasuk menghafalnya), yang bisa jadi tidak hafal 30 juz, tapi sudah dirasa cukup sebagai modal hafalan dan muroja’ah. Jadi, kita tetap bisa memperoleh dua kebaikan tersebut dalam satu waktu. Belajar fiqih sebagai jalan memahami Al-Quran untuk kemudian bisa beramal dengan benar, tetapi dalam pada itu juga mulai menghafal Al-Quran sebagai bentuk keutamaan.

    wallahu a’lam.

    • 87 views
    • 1 answers
    • 0 votes