Apa Hukum Menambang Cryptocurrency

Assalamualaikum KepoSyariah, Apa Hukum Menambang Cryptocurrency?

Asked on May 24, 2021 in Muamalat.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikum salam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Sebagaimana kita ketahui bahwa menambang cryptocurrency dilakukan melalui olah script untuk memecahkan algoritma, untuk mendapatkan coin. Para penambang harus mengolah data untuk verifikasi data transaksi yang tersimpan dalam blockchain. Kalau berhasil, akan memperoleh yang diinginkan. Kalau tidak? Rugi tentunya.

Cryptocurrency dinyatakan sebagai properti digital yang dianggap bernilai oleh komunitas tertentu. Dan ukuran nilainya sangat bergantung kepada trend yang berlaku di komunitas tersebut.

Cryptocurrency tidak memiliki nilai intrinsik. Dia berkembang mengikuti trend. Bahkan memungkinkan bagi siapapun untuk membuat sendiri mata uang yang lain dengan script yang berbeda.

Sekarang banyak Cryptocurrency yang dikembangkan, seperti: Dash, ripple (XRP), monero (XMR), litecoin (LTC), ethereum (ETH) dan zcash (ZEC)

Cryptocurrency sangat labil, sehingga tidak memiliki nilai ketahanan sama sekali.

Dan ini sangat bertentangan dengan karakter mata uang, yang digunakan untuk acuan harga. Karena cryptocurrency sangat tergantung kepada trend di komunitasnya.

Cryptocurrency sangat rentan untuk hilang nilai. Mengikuti tren yang berlaku, pernah terjadi suatu ketika, tiba-tiba ditutup, banyak investor yang bangkrut.

Dalam Islam dilarang, karena transaksi dengan menggunakan cryptocurrency termasuk dalam jual beli gharar. Dimana jual beli gharar, yang transaksinya mengandung ketidakjelasan, pertaruhan, atau perjudian.
Nabi Saw bersabda:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Bahwa Nabi Saw melarang jual beli gharar. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).

Dan inti dari gharar adalah adanya jahalah (ketidakjelasan) yang menyebabkan adanya mukhatharah (spekulasi, untung-untungan), baik pada barang maupun harga barang.

Nabi Saw melarang jual beli ijon. Jual beli buah yang ada di pohon, sebelum layak untuk dipanen. Ada dua kemungkinan yang akan dihadapi oleh penjual dan pembeli ketila transaksi terjadi. Jika buahnya banyak yang utuh, bisa dipanen, maka pembeli untung dan penjual merasa dirugikan karena harga jualnya murah. Sebaliknya ketika buahnya banyak yang rusak, pembeli dirugikan dan penjual untung besar.

Dari Anas bin Malik ra beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهِىَ . فَقِيلَ لَهُ وَمَا تُزْهِى قَالَ حَتَّى تَحْمَرَّ

Bahwa Rasulullah Saw melarang menjual buah sampai layak untuk dipanen. Beliau ditanya, “Apa tanda kelayakan dipanen?’ jawab beliau, “Sampai memerah.” Lalu beliau bersabda,

أَرَأَيْتَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ ، بِمَ يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَالَ أَخِيهِ

“Bagaimana menurut kalian, jika Allah mentaqdirkan buahnya tidak bisa diambil? Bagaimana bisa penjual mengambil harta temannya?” (HR. Bukhari 2198 & Ibnu Hibban 4990).

Jual beli ijon dilarang oleh Nabi Saw karena ghararnya besar. Meskipun penjual dan pembeli melakukannya atas dasar saling ridha. Namun keberadaan ridha tidak cukup. Karena yang menjadi masalah bukan di adanya pemaksaan terhadap pelaku akad, tapi di objek transaksi yang tidak jelas.

Jika keberhasilan transaksi ijon bergantung kepada takdir tatkala panen, keberhasilan investasi cryptocurrency sangat bergantung kepada takdir tren yang berlaku di komunitasnya. Selama mereka masih suka, harganya masih bisa dipertahankan. Ketika mereka bosan, seketika akan hilang.

Dunia selalu menggiurkan bagi yang tidak memiliki iman, semoga kita terhindar dari harta yang tidak jelas dan tidak menenangkan dalam kita beribadah. Lebih baik tambang emas dan dinar karena itu yang dicontohkan.

Wallahu a’lam bis shawab

Ustadzah Answered on May 24, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.