Apakah Hutang Sebelum Menikah Ada Hak Ahli Waris?

Jika kakak si A berhutang kepada si A pada saat A belum menikah sebesar 50 mayam emas.
hutang tidak dibayarkan sampai A menikah, punya anak, bahkan kemudian A meninggal

pertanyaannya apakah anak-anak A atau ahli waris ini ada hak menagih hutang 50 mayam emas tersebut?
terima kasih ustadz/ah

Asked on March 9, 2021 in Fiqih.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikumussalam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim..

Sangat boleh, karena itu juga salah satu kebaikan dengan mengingatkan tentang adanya utang yang harus diselesaikan. Tapi boleh juga dimaafkan kalau yang bersangkutan tidak sanggup melunasinya. Apalagi saudara kandung dari yang meninggal. Kalau ada hak waris bisa diminta kerelaannya untuk membayar utang terlebih dahulu.
Dalam Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah SWT, tapi juga hubungan dengan sesama manusia. Termasuk dalam soal utang-piutang. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. al-Baqarah/2: 282).

Yang dimaksud dengan “bermuamalah” dalam ayat ini adalah mengadakan utang-piutang.

Dan kesalahan kita seringnya, tidak ada hitam di atas putih dan saksi, apalagi dengan saudara kandung. Ini yang membuat kita tidak punya bukti kuat ketika kita ingin meminta kembali yang sudah diutangkan oleh pemilik yang sudah meninggal dunia.

Ketika yang mengutangi meninggal, terjadi peralihan kewajiban dari pewaris kepada ahli waris, diatur dalam ketentuan Pasal 833 dan Pasal 955 KUHPerdata. Berdasarkan Pasal 833 KUHPerdata, para ahli waris dengan sendirinya mendapat hak milik atas semua barang, semua hak, dan semua piutang orang yang meninggal karena hukum.

Ketika pemberi utang meninggal, ahli warisnyalah yang mewarisi segala bentuk kekayaan yang dimiliki pewaris tersebut. Termasuk untuk urusan utang piutang.

Apalagi anak yatim yang ditinggalkan, pasti sangat memerlukan akan pelunasan tersebut.
Kenapa utang harus dilunasi?
Karena utang adalah beban. Semakin banyak utang semakin berat pikulan bebannya. Utang bukanlah solusi, melainkan menjemput beban yang lebih besar, kecuali karena sangat terpaksa daripada melalukan hal yang dilarang oleh Agama kita.

Rasulullah Saw mengajarkan kita doa untuk bisa terhindar dari utang.

اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالمَغْرَمِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang.”

Ketika Rasulullah ditanya kenapa beliau meminta dilindungi dari utang? Rasulullah menjawab:

إن الرجل إذا غرم حدث فكذب ووعد فأخلف

“Sesungguhnya apabila seseorang terlilit utang, jika dia berbicara maka dia berdusta dan jika dia berjanji maka dia ingkari.” (HR. Bukhari, no. 798).

Jiwa seseorang itu tergantung disebabkan utangnya, seperti hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.

نَفْسُ المُؤْمِن مُعَلَّقَةٌ بِدَينِهِ حَتَّى يُقضَى عَنهُ

“Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya, sampai (utang itu) dilunasi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ Ash-Shaghir, no. 6779)

Di antara hal yang sangat penting dalam Islam, ketika mayat ditalqinkan, ahli warisnya meminta kepada pihak yang mempunyai urusan dunia atau yang berurusan dengan utang piutang.

Bahkan dosa orang yang mati syahid akan diampuni Allah, kecuali utang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw ditanya seseorang: “Jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku terhapus?”
Nabi Saw bersabda: ”

نَعَم، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلَّا الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيهِ السَّلَامُ قَالَ لِي ذَلِكَ

“Ya, jika kamu bersabar, mengharap pahala dari Allah, tetap maju, dan tidak melarikan diri. Kecuali, utang. Begitulah Malaikat Jibril menyampaikan kepadaku.” (HR. Muslim, no. 1885)

Utang sumber beban yang tidak ada kenyamanan sama sekali, diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, Nabi Saw bersabda:

لاَ تُخِيفُوا أَنْفُسَكُم بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: الدَّيْنَ

“Janganlah kalian menakut-nakuti diri kalian setelah mendapatkan keamanan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Utang.” (HR. Ahmad).

Karena itu, bagi kita yang punya utang, jadikan beban utang itu di depan pelupuk mata kita, dan berusahalah untuk melunasi sesegera mungkin. Berdoalah kepada Allah, agar bisa segera membebaskan kita dari jeratan utang.

Rasulullah Saw bersabda,

من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله عليه

“Siapa saja yang meminjam harta orang lain dengan niat mengembalikannya, niscaya Allah akan melunasi utangnya. Siapa yang meminjam harta orang lain untuk memusnahkannya (dia habiskan) maka Allah akan memusnahkannya.” (HR. Bukhari)

Yang namanya utang harus dibayar, kecuali dimaafkan oleh yang mengutangi atau walinya.

Imam Nawawi mengatakan,

قَالَ الْغَزَالِيُّ إذَا كَانَ مَعَهُ مَالٌ حَرَامٌ وَأَرَادَ التَّوْبَةَ وَالْبَرَاءَةَ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ وَجَبَ صَرْفُهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى وَكِيلِهِ فَإِنْ كَانَ مَيِّتًا وَجَبَ دَفْعُهُ إلَى وَارِثِهِ وَإِنْ كَانَ لِمَالِكٍ لَا يَعْرِفُهُ وَيَئِسَ مِنْ مَعْرِفَتِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَهُ فِي مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّةِ كَالْقَنَاطِرِ وَالرُّبُطِ وَالْمَسَاجِدِ وَمَصَالِحِ طَرِيقِ مَكَّةَ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَشْتَرِكُ الْمُسْلِمُونَ فِيهِ وَإِلَّا فَيَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى فَقِيرٍ أَوْ فُقَرَاءَ

“Ghazali menyebutkan, barangsiapa yang menyimpan harta haram dan ia hendak bertaubat dari perbuatannya serta hendak berlepas diri dari harta haram tersebut, hendaklah ia mencari si pemilik sah harta itu; apabila pemilik sah sudah meninggal, hendaknya harta itu diserahkan kepada ahli warisnya. Namun jika si pemilik sah dan ahli warisnya tidak diketahui juga, hendaknya harta tersebut disalurkan pada maslahat kaum Muslimin, seperti untuk membangun jembatan, masjid, menjaga perbatasan negara Islam, dan sektor lain yang bermanfaat untuk segenap kaum Muslimin. Atau boleh juga ia sumbangkan kepada fakir miskin.” (Nawawi, Majmu’ Syarh Muhazzab, 9:351).

Wallahu a’lam bis shawab

Ustadzah Answered on March 9, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.