Bagaimana Saat Ragu Bahwa Suci Dari Hadas Atau Tidak?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh tadz, izin bertanya, saat seorang perempuan ragu bahwa dirinya suci dari hadas besar atau tidak, yang membuat dia ragu untuk melaksanakan kewajibannya menunaikan salat, dan dia terus kepikiran akan hal itu, bagaimana cara menyikapinya, terimakasih, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Asked on December 18, 2021 in Fiqih.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikum salam wr wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Yang sering membuat kita gelisah itu karena keragu-raguan, sampai Rasulullah Saw mengatakan: “Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 2518; An-Nasa’i, no. 5714.

Syaithan selalu mengecohkan kita dengan rasa was-was, was-was itu dari Syaithan yang harus kita berlindung darinya.
Supaya tidak ragu kita harus tahu batasan kapan dikatakan suci. Saidah Aisyah ra mengatakan:

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

“Jangan kalian terburu-buru, sampai kalian melihat al-Qasshah al-Baidha’.”

Maksud Aisyah adalah (jangan buru-buru merasa telah) suci dari haid.” (Shahih Bukhari, 1:71).

Al-Qasshah al-Baidha’ adalah kapasnya masih utuh putih sebagaimana serpihan batu bata putih. Sehingga maksud perkataan Aisyah adalah jangan kamu terburu-buru menganggap sudah suci sampai kamu melihat kapas yang dimasukkan ke farji itu bersih (tetap putih) tidak ada bekas darahnya dengan berbagai macam warnanya, termasuk sufrah (kekuningan).

Dan ada juga yang mangatakan, al-Qasshah al-Baidha’ adalah cairan putih yang keluar sebagai tanda berhentinya haid. Sehingga maksud Aisyah ra adalah bahwasanya tanda sucinya haid itu dengan keluarnya cairan putih. (Mausu’ah Kuwaitiyah 2:12197 dan Syarh Shahih al-Bukhari Ibn Rajab 2:126).

Jadi, bagi wanita yang memiliki kebiasaan mengalami keputihan paska haid, maka berhentinya haid ditandai dengan keluarnya cairan itu. Sementara bagi wanita yang tidak mengalami keputihan pasca haid maka indikator berhentinya haid adalah kepastian tidak ada lagi cairan yang keluar. Sehingga ketika dibersihkan dengan kapas maka kapas itu masih putih seperti semula. (Fatwa Islam, no. 5595)

Jika setelah datang tanda suci, dengan salah satu indikator di atas, kemudian muncul cairan keruh atau kekuningan, atau kecoklatan maka tidak dihitung sebagai haid. Sehingga tetap berkewajiban shalat, puasa, selayaknya wanita suci.

Cairan keruh atau kekuningan yang bersambung dengan haid, dihitung sebagai haid. Dan baru dikatakan haid berhenti jika keluar cairan putih atau tidak keluar cairan apapun.

Cairan keruh atau kekuningan yang muncul setelah haid berhenti, tidak dihitung haid. baik dengan keluarnya keputihan atau sudah tidak lagi keluar cairan. Yang terpenting jangan ragu setelah memahami syarat yang harus dipenuhi untuk suci.

Wallahu a’lam

Ustadzah Answered on December 18, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.