Batal Menikah, Bagaimana Status Mas Kawin Yang Dititipkan?

Assalamualikum ustadz & ustadzah..
Saya mau bertanya dan bercerita..

Saya dan pasangan saya berencana menikah di bulan maret, dan calon suami saya ini mempercayai saya untuk menyimpan tabungan biaya menikah.

Namun rencana kami berbeda dengan rencana Allah, 2 minggu lalu calon suami saya meninggal dunia setelah operasi pasca kecelakan seusai kami membeli mas kawin.

Yang ingin saya tanyakan apa yg harus saya lakukan dengan mas kawin dan tabungan tersebut?

Saya ingin menyimpan mas kawin tersebut untuk menghargai almarhum, dan mengembalikan uang tabungan untuk biaya menikah tsb kepada keluarganya, namun kakak saya bilang kalau tabungan tersebut itu sebenarnya untuk saya tidak perlu dikembalikan kepada keluarganya, tapi saya merasa bersalah apabila uang tersebut tidak saya kembalikan.

Mohon respon untuk pertanyaan saya ini ustadz/ustadzah..
Terimakasih

Asked on February 20, 2021 in Nikah.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikumussalam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Semoga Allah mengampuni dan merahmati almarhum.
Belasungkawa yang terdalam, semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.

Dalam Islam, mahar itu kewajiban suami kepada istrinya. Allah berfirman,

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. an-Nisa: 4)

Al-Qurthubi mengatakan,
Ayat di atas menunjukkan wajibnya memberi mahar bagi wanita, dan ini disepakati ulama, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini. (Tafsir al-Qurthubi, 5/24).

Dan mahar adalah hak wanita. Karena itu, dia berhak untuk menggugurkan mahar atau menyerahkannya kepada suami atau memberikannya kepada siapapun yang dia inginkan.

Allah berfirman,

فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu dengan nyaman dan baik. (QS. an-Nisa: 4)

Dari ayat di atas kita pahami, bahwa yang dimaksud dengan mahar adalah pemberian suami kepada istri setelah akad ijab qabul terjadi, adapun sebelum itu hanya titipan yang akan diserahkan nanti setelah akad ijab qabul terjadi. Bahkan seandainya akad terjadi dan diketahui aib isteri sebelum berhubungan, si suami boleh meminta maharnya. Kecuali kalau diketahui aib setelah berhubungan, maka tidak boleh minta mahar dikembalikan.
Lain ceritanya kalau suami meninggal setelah akad nikah dan belum berhubungan, maka sang isteri berhak atas mahar tersebut.

Bagaimana dengan mahar yang dipersiapkan sebelum terjadi akad, statusnya adalah dititipkan untuk bekal mahar yang akan diberikan nantinya.

Para ulama sepakat bahwa barang titipan wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Bahkan seandainya barang titipan rusak menurut Umar bin Khattab harus menggantikan yang rusak. Begitu juga dengan pendapat Anas bin Malik.

Para ulama juga bersepakat akan diperbolehkannya menggunakan barang titipan kalau diizinkan oleh pemilik barang
(Al Ijma karya Ibnul Mundzir 36-37).

Saya menyarankan, saudari untuk memberitahukan walinya, nanti walinya yang akan memutuskan, karena saudari belum ada hak untuk memilikinya hanya berstatus titipan. Apapun yang terjadi nanti setelah diputuskan wali, harus berlapang dada dan ikhlaskan. Yakin semua yang terjadi, terbaik menurut Allah pasti ada hikmah di balik ujian.

Wallahua’lam bis shawab

Ustadzah Answered on February 20, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.