Benarkah Tidak Boleh Menolak Ajakan Berhubungan Intim

Salam ustadz, Benarkah Tidak Boleh Menolak Ajakan Berhubungan Intim?
bukankah ini mendiskriminasi wanita?

mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz, terimakasih

Asked on April 2, 2020 in Wanita.
Add Comment
1 Answer(s)

Walaikum salam wr wb
Bismillahirrahmanirrahim.
Saudariku, kebutuhan pria berbeda dengan perempuan, Kebutuhan suami terhadap istri memang lebih besar dibandingkan perempuan. Bolehkah suami memaksa?kalau tidak ada udzur syar’i, tidak boleh menolak, dan perempuan harus cerdas untuk melayani, kalau tidak bisa pun ada cara khusus untuk melayani tanpa bertemu alat kelamin. Apalagi kalau suami hanya punya 1 istri, semua beban keinginan syahwat suami harus bisa tercover ,tapi dalam Islam, suami harus menempatkan posisi istri di tempat yang nyaman, suami menemani istri dan saling tolong menolong dalam pekerjaan rumah tangga, apalagi kalau suami tidak mampu mendatangkan pembantu untuk istrinya, harus dan wajib membantu istri, istri bukan pembantu, istri partner dan relasi untuk bisa saling kerja sama, seorang istri yang hanya di rumah saja, tingkat stresnya lebih tinggi, kalau yang bekerja di luar, dia punya suasana baru dan bisa melupakan stres, tapi yang di rumah saja kalau tidak matang secara keimanan bisa membludak derr.

Para perempuan banyak masa udzur syar’inya yang diberikan Allah, perempuan yang usianya masih muda setiap bulannya ada waktu haid, dan setelah melahirkan pun sang perempuan membutuhkan “cuti” dari suaminya selama kurang lebih 40 hari karena syariat Islam melarang suami menggauli istrinya dalam kondisi tersebut. Belum lagi bila istri sakit atau ada uzur lain, dan juga suami yang sering keluar rumah karena mencari nafkah dan sebab-sebab yang lainnya.

Jika Saudari menolak permintaannya karena bukan uzur syar’i, sedangkan suami hanya punya satu istri, maka kesalahan ada di pihak istri, karena suami tidak boleh melampiaskan kesenangannya kecuali kepada istri atau budaknya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mukminun ayat 6.

إِلَّا عَلَىٰٓ أَزْوَٰجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
Artinya: Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Dalam hadits juga disebutkan,
Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari: 16/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ

“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

Di Al-Quran disebutkan, perempuan adalah ladang bagi suaminya
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya :
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 223)

Dan sekali lagi, tanpa uzur syar’i yang menghalangi, perempuan harus cerdas untuk melayani, dan laki-laki juga harus mengkondisikan kenyamanan bagi istrinya mencipkatakan suasana mawaddah warahmah.

Wallahu a’lam bis shawab

Ustadzah Answered on May 20, 2020.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.