Bolehkah Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan?

Assalamualaikum Warahmatullah,

Mau curhat sedikit masalah suami, mungkin bisa dibilang ini aib. Makanya saya berharap ini tetap jadi rahasia

Sudah lama saya pendam pertanyaan ini, tidak berani curhat sama yang lain,
Ini juga demi berlangsungnya rumah tangga kami. Mohon bantuannya

Jadi gini, entah ada apa dengan suami, tapi tiap tidur tidak bisa berhenti, semacam onani atau mimpi apalah itu, seperti mimpi sedang berhubungan intim

Mohon maaf kalo bahasa saya agak kasar,

Jadinya suami kurang berhasrat sama saya, bahkan sampe saya rayu-rayu. Padahal saya ingin segera dapat momongan, mohon solusinya ustadz/ah

Asked on February 1, 2021 in Keluarga.
Add Comment
2 Answer(s)

Wa’alaikumussalam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim.

Lahaula wala quwwata illa billah, semoga bisa sabar dan diberikan solusi yang terbaik. Komunikasi adalah langkah yang paling diperlukan saat ini, tanpa komunikasi dan keterbukaan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang saya tahu dan saya membahasakannya dengan mimpi basah. Seperti yang dikutip dari The Star, menurut Dr.George Lee, seorang konsultan urologis di Amerika: “Frekuensi mimpi basah berkaitan erat dengan tingkat testosteron dalam tubuh seorang pria.”

Menurut penelitiannya juga bahwa seorang remaja berusia 15 tahun akan memiliki mimpi basah setiap tiga minggu sekali. Namun, pria berusia 40 tahun yang telah menikah hanya mengalaminya sebanyak sekali dalam dua bulan.

Oleh sebab itu, jika seorang lelaki termasuk orang yang sering mengalami mimpi basah bahkan hingga setiap hari, ada baiknya untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.

Hal ini dikarenakan mimpi basah setiap hari bukanlah hal yang umum terjadi baik pada pria apalagi wanita, baik pada anak yang memasuki masa puber maupun telah memasuki usia dewasa.

perlu juga peka apakah frekuensi dan intensitasnya terus bertambah setiap harinya dan disertai gejala tertentu. Gejala lain yang menyertai mimpi basah yang dialami terutama yang tidak membuat nyaman bisa menjadi pertanda adanya masalah pada tubuh yang berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
Dan bisa jadi juga pengaruh seseorang yang disukai oleh jin dan bersetubuh dengan jin. Wallahu a’lam. Demi kenyamanan dan keharmonisan komunikasikan dengan baik.

Dalam Islam, apakah hukuman untuk suami yang menolak bersetubuh?

Melakukan hubungan dengan istri adalah bentuk nafkah batin dari suami. Dalam Artian, suami berkewajiban memberikan nafkah batin, seperti halnya nafkah berupa materi.

Dijelaskan dalam hadis, suami yang menolak ajakan berhubungan istrinya, dia telah melanggar :

Nabi SAW menerangkan,

ما من عبد يسترعيه الله رعية فلم يحطها بنصحه إلا لم يجد رائحة الجنة

“Tidaklah seorang hamba dibebankan tanggung jawab oleh kemudian dia abai, melainkan dia pasti tak mencium aroma surga.” (HR. Bukhari)

Nabi SAW juga bersabda,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Seseorang sudah pantas disebut berdosa bila dia menyepelekan tanggung jawabnya.”
(HR. Ahmad dan Abu Daud; riwayat dari Ibnu Umar; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 827)

Masih ada hadis lain yang menjadi ancaman untuk para suami yang menyia-nyiakan hak istrinya.

Sikap saudari sudah benar melakukan upaya dan usaha, karena salah satu tujuan dari pernikahan adalah memperoleh keturunan. Jalan memperoleh keturunan dengan melakukan hubungan suami-istri. Demi saling menentramkan di antara kedua pasangan.

Islam mengatur dengan baik bagaimana melakukan hubungan harus dilakukan.

Allah SWT berfirman:
“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam. Maka, datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS al-Baqarah [2]: 223).

Lalu, banyak juga hadis yang menerangkan bagaimana istri harus melayani permintaan suami dalam berhubungan. Istri hendaknya tidak menolak ajakan suami dalam berhubungan jika tidak ada uzur. Begitu juga dengan suami tidak menolak ajakan istri kecuali uzur.

Jumhur ulama, mewajibkan pemberian nafkah batin terhadap istri. Jika ia tidak melakukannya maka hukumnya adalah berdosa. Jika suami dalam kondisi tidak mampu maka hukum asalnya dikembalikan kepada tidak mampu melaksanakan kewajiban.

Jika istri boleh menolak hubungan suami-istri berdasarkan uzur yang syar’i, suami juga memiliki uzur yang sama dalam pemenuhan nafkah batin ini. Jika suami sakit atau lelah maka ia bisa menolak ajakan istrinya. Sekarang yang harus diupayakan mencari penyebab penolakan tersebut dan dibicarakan antara kalian berdua untuk dicarikan jalan solusi.

Ketika terjadi Pernikahan maka ada hak dan kewajiban dari suami dan istri. Suami diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan istrinya begitu juga dengan istri. Dari permasalahan saudari lebih kepada urusan yang merujuk ke medis dan perkuat keimanan dengan perbanyak istighfar dan membenarkan shalat.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk dapat menunaikan hak orang-orang yang memiliki hak atas kita.
Wallahu a’lam bis shawab

Ustadzah Answered on February 1, 2021.
Add Comment

Wa’alaikum salam wr wb

Bunda yang sholehah. Salah satu tujuan pernikahan adalah agar adanya penerus (keturunan). Dan anak yang sholeh yang mendo’akan orangtuanya menjadi tabungan amal jariyah. Jadi keinginan Bunda baik sekali.

Coba cari tahu apa yang menyebabkan suami bunda mengantuk mungkin beliau terlalu lelah dalam bekerja. Bunda juga harus melihat situasi dan kondisi suami. Komunikasikan pada suami tentang keinginan bunda untuk memiliki momongan. Pilih waktu dan tempat yg sebaik mungkin. Komunikasikan dengan bahasa yang santun dalam keadaan santai. Jika bunda terbiasa berkomunikasi diatas tempat tidur sebelum tidur (pillow talk) ini situasi yang tempat untuk menyampaikan keinginan bunda. Atau dalam perjalanan santai bersama suami ini juga waktu pas. Bisa juga ketika olahraga bareng. Atau bunda atur acara makan malam berdua suami.

Dalam pernikahan dan hak kewajiban suami istri. Kebutuhan istri tidak hanya dari segi lahiriyah seperti nafkah, pakaian, tempat tinggal dan lail-lain. Namun juga nafkah batin diantaranya kasih sayang juga hubungan biologis.

Dan para wanita yang mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf…” (QS Al-Baqarah : 228)

Maka Setelah bunda berusaha sebaik mungkin, jangan lupakan usaha yang selanjutnya yaitu berdoa kepada Allah agar Allah memberikan jalan keluar dan pertolongan atas masalah Bunda. Allah sebaik-baik tempat mengadu.

Ustadzah Answered on February 16, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.