Cincin Mahar Ditukar, Apakah Sah Pernikahan?

Assalamu’alaikum…
Saya mau bertanya apakah diperbolehkan seseorang pasangan yg ingin menikah, disaat lamaran/khitbah awal nya cincin emas tiba-tiba terkena perbuatan jahat seseorang cincin nya ada yg menukar.. Apakah hukum nya ustadz? Jika niat nya ingin menikah di lanjutkan, apakah boleh ustadz.

Asked on January 3, 2021 in Nikah.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikumussalam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Saya masih ragu dengan pertanyaan ini, kalau yang dimaksud apakah boleh percaya dengan cincin jika ditukar akan menyebabkan pernikahan tidak akan langgeng dan diberkahi?

Sebelum menikah yang harus dilakukan adalah istikharah dengan melibatkan Allah, bukan karena alasan duniawi. Kalau sudah yakin itu pilihan Allah, tidak akan ragu hanya karena ujian yang dianggap sebagai mitos, kalau ditukar berarti jodoh yang tertukar. Jangan kaitkan dengan mitos, tapi kaitkan hati dengan Allah. Kalau dimudahkan dan mendatangkan ketenangan itulah jodoh.

Jangan sampai meyakini bahwa tukar cincin bisa melanggengkan hubungan suami-istri. Akan tetapi, jika diyakini bahwa tukar cincin bisa melanggengkan hubungan suami-istri, sehingga masing-masing berusaha mempertahankan cincinnya, jangan sampai hilang, sekalipun masuk ke sumur harus diambil, meskipun bisa merenggut nyawa, jika cincin ini sampai hilang bisa mengancam keutuhan hubungan keduanya, dan seterusnya, maka keadaannya semakin parah dan dosanya lebih besar. Dengan menambahkan keyakinan seperti itu, berarti seseorang telah mengambil sebuah sebab yang pada asalnya bukanlah sebab. Tidak terdapat satu pun dalil yang menunjukkan bahwa tukar cincin bisa menjadi sebab keutuhan rumah tangga dan ditukar cincin sebagai penghalang untuk menikah. Ini, tidak lain, hanya sebatas mitos yang tersebar di masyarakat.

Para ulama menjelaskan bahwa di antara kebiasaan yang menyimpang dari syariat Islam adalah adanya tradisi tukar cincin sebelum calon mempelai masuk ke jenjang pernikahan.

Di antara alasan yang menunjukkan larangan hal ini adalah:

1. Tradisi tukar cincin, pada asal mulanya, warisan dari orang nasrani. Merekalah yang pertama kali membuat tradisi ini.

Kita kaum muslimin dilarang mengikuti kebiasaan dan tradisi orang kafir. Nabi Saw bersabda, “Barang siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud, Baihaqi, dan Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Albani).

2. Tradisi ini akan membuka pintu maksiat, yaitu banyaknya lelaki yang memakai cincin dari emas. Padahal, Nabi Saw secara tegas melarang hal ini. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:
A. Nabi Saw melarang (kaum lelaki) memakai cincin emas (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
B. Dari Ibnu Abbas, “Suatu ketika Rasulullah Saw melihat cincin emas pada jari seorang sahabat. Kemudian beliau melepasnya dan membuangnya, sambil bersabda, ‘Kalian sengaja mengambil bara api neraka lalu kalian letakkan di tangan kalian?’ Setelah Nabi Saw pergi, ada orang yang berkata kepada pemakai cincin tadi, ‘Ambil cincinmu dan manfaatkan untuk hal yang lain.’ Sahabat ini mengatakan, ‘Tidak! Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya selamanya karena Nabi Saw telah membuangnya.’” (HR. Muslim dan Thabrani)

Silakan lanjutkan pernikahan, dan sebaiknya jangan lama hingga harus menunggu dan memberi ruang untuk bermaksiat karena merasa sudah saling memiliki. Alangkah baiknya menikah terlebih dahulu walaupun tidak segera bertemu, karena berpacaran setelah menikah adalah dianjurkan dan tidak perlu lagi dipertanyakan boleh atau tidak.

Semoga kalau berjodoh segera menikah, kalau bukan jodoh segera berikan kepastian.
Wallahu a’lam bis shawab

Ustadzah Answered on January 3, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.