Cukup tayamum saja atau harus mandi junub lagi dimusim dingin?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya mau bertanya apabila saya dalam keadaan junub di malam hari, kemudian pagi harinya saya tidak bisa mandi karena udara yang sangat dingin tapi masih bisa berwudhu, akhirnya saya berwudhu kemudian menunaikan salat subuh. setelah habis waktu salat subuh atau matahari sudah terbit saya baru mengetahui bahwa tidak sah wudu itu. Saya baru mengetahui bahwa pengganti mandi junub adalah tayamum bukan wudhu. kemudian apakah saya harus bertayamum saat itu juga karena waktu salat Subuh sudah lewat, ataukah saya harus menunggu waktu salat zuhur untuk mandi junub ketika udara mulai hangat? Dan apakah salat subuh saya diterima atau dimaafkan karena masih dalam keadaan jahil atau tidak mengetahui ilmunya?

Syukron jazakumullah Khoir.

Sahabat Kepo Asked on June 19, 2020 in Fiqih.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikum salam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Pengganti mandi junub bukan tayammum. Tapi tayammum dilakukan apabila tidak ada air, tidak bisa menggunakan air yang terlalu dingin. Sebenarnya bisa dengan memanaskan air kalau memungkinkan.
Di dalam ayat disebutkan:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Dan jika kamu junub maka mandilah.” QS. Al-Maidah:6

Namun kalau tidak mungkin menggunakan air untuk mandi, boleh tayammum dengan debu

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا. (سورة المائدة: 6)

“Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Maidah: 6)

Dari apa yang saudara alami, sah saja shalatnya karena sudah wudu menggunakan air, bahkan lebih baik karena tayammum alternatif dari tidak ada air dan tidak bisa menggunakan air sama sekali, seperti flu tulang akibat air yang sangat dingin. Kalau saudara mau mengulang juga boleh untuk lebih yakin, shalat yang sudah saudara lakdanakan tadi subuh hanya untuk menghormati waktu subuh.

Tujuan dan hikmah dari ajaran Allah dalam tayammum;

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(سورة المائدة: 6)

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)

Salah satu sahabat Rasulullah Saw Amr bin Al-Ash ra pernah mengalami mimpi junub pada suatu malam yang dingin saat perang Dzatu Salasil, lalu takut mandi, maka bertayammum, kemudian shalat Shubuh menjadi imam para shahabatnya. Lalu sahabat yang lain melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah. Maka beliau bersabda, “Wahai Amr, engkau mengimami shalat para shahabatmu dalam keadaan junub?” Maka aku beritakan kepadanya sebab yang menghalangiku untuk mandi, karena aku pernah mendengar firman Allah Ta’ala,

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً. (سور النساء: 29)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Rasulullah Saw tertawa dan tidak mengatakan sesuatupun. (HR. Abu Daud, no. 334)

Menurut Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam hadits di atas, dibolehkan tayammum bagi orang yang memperkirakan penggunakan air dapat menyebabkan bahaya baginya, baik karena dingin atau selainnya serta bolehnya orang yang bertayammum menjadi imam shalat bagi orang yang berwudhu.” (Fathul Bari, 1/454)

Wallahu a’lam

Ustadzah Answered on March 29, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.