Jika Suami Hanya Perhatian Keluarganya Saja

Jika Suami Hanya Peduli Keluarganya Saja
Assalamualaikum ustadz dan ustadzah, saya ingin bertanya. Mohon dijawab dan berikan saya pencerahannya ustadzah. Saya sudah menikah dan memiliki 2 anak perempuan. Kondisi keuangan saya Alhamdulillah baik, setiap bulan suami saya memberikan uang bulanan untuk ibu nya yaitu mertua saya. Saya merasa iri karena orang tua saya tidak pernah dikasih uang bulanan juga. Sedangkan dia selalu setiap bulan mengirim uang bulanan nya untuk ibu dan ayahnya, bahkan untuk saudara sodara nya juga. Tapi untuk orang tua saya bahkan dia tidak terpikirkan. Apakah saya salah ustadzah? Mohon dijawab ustadzah agar saya lebih paham lagi dan tidak merasa iri jika memang saya salah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barokatu.

Asked on December 20, 2020 in Keluarga.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikum salam wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah Allah karuniakan rezeki untuk suami dan keluarga saudari, dan yang patut disyukuri beliau mempunyai empati terhadap orang tua dan saudarnya. Sangat wajar dan manusiawi apabila saudari merasa cemburu, kerana orang tua saudari merupakan kewajiban suami apabila orang tua saudari fakir dan lemah, fakir dan tua serta fakir dan gila. Dan berbaik sangkalah semua kategori itu tidak termasuk dalam prioritas yang harus dibantu. Dan yang harus berbaik sangka adalah bisa jadi suami saudari belum paham dengan kewajiban itu, dimana ketika menikah dia sudah siap memasuki dunia luas dengan menikahi keluarga besar. Biar suami tahu, sampaikan dengan cara bercerita tentang orang lain, atau ada orang yang amanah untuk menyampaikannya.

Tapi yang kewajiban suami adalah menafkahi istri dan anaknya terlebih dahulu. Tetapi berhubung suami saudari mempunyai rezeki lebih bisa menafkahi orang tua dan saudaranya.

Seperti kita ketahui kewajiban suami terhadap istri dalam Islam:

1. Istri Berhak Memperoleh Maskawin dan Nafkah

Di dalam Al Qur’an sudah disebutkan kewajiban seorang suami. Antara lain memberi mas kawin dan nafkah. Dalam Al Qur’an Surat An-Nisa ayat 4 Allah SWT berfirman:

وَءَاتُوا۟ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيٓئا مَّرِيٓئا

“Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” [QS. An-Nisa: 4].

Kewajiban suami memberi nafkah kepada istri diterangkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 233

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan kewajiban bapak memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya….”

2. Memberikan Rasa Tenang, Cinta dan Kasih Sayang

Kewajiban suami-istri setelah menikah adalah memberikan rasa tenang dan kasih sayang. Sekalipun istri sakit, suami wajib merawatnya. Sesuai dengan surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنۡ خَلَقَ لَكُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِكُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡكُنُوۡۤا اِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُمۡ مَّوَدَّةً وَّرَحۡمَةً  ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Sudah menjadi tugas seorang istri mendukung suaminya untuk melakukan berbagai ketaatan kepada Allah, termasuk berbakti kepada kedua orang tuanya (birrul walidain) terutama ibu dan menyambung tali kekerabatan (silaturahim).

Membangun bahtera rumah tangga tidak berarti melupakan orang tua dan kerabat. Semua hak ini tetap bisa diberikan, namun perlu juga bagi para suami untuk memahami prioritas sehingga tidak menjadi permasalahan di keluarga. Di samping wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, seorang suami juga wajib untuk membantu menafkahi orangtuanya jika mereka membutuhkan. Ibnul Mundzir mengatakan, “Para Ulama sepakat tentang kewajiban menafkahi kedua orang tua yang tidak punya pekerjaan atau kekayaan.”

Di antara dalil yang menjelaskannya adalah:
Diriwayatkan bahwa seorang badui datang kepada Nabi Saw dan mengatakan, “Saya memiliki harta dan orangtua, dan ayah saya ingin menghabiskan harta saya.” Maka Nabi Saw  menjawab, “Engkau dan hartamu boleh dipakai orangtuamu. Sesungguhnya, anak-anak kalian nasab terbaik (harta terbaik), maka makanlah dari harta anak-anak kalian. ” [HR. Ahmad).

Namun jika hartanya hanya cukup untuk salah satu nafkah saja, maka nafkah istri dan anaknya harus didahulukan sesuai nafkah orangtuanya; karena nafkah keluarga tidak termasuk dari kewajiban akad nikah, sehingga merupakan hak manusia. Sedangkan nafkah orangtua adalah bentuk kebaktian dan bantuan, sehingga masuk kategori hak Allah. Dan hak manusia didahulukan atas hak Allah; karena hak manusia didasari musyahhah (saling menuntut) sedangkan hak Allah Swt didasari musamahah (pengampunan). Al-Amidi mengatakan:
حق الآدميِّ مرجَّح على حقوق الله تعالى

Hak manusia didahulukan atas hak-hak Allah.
Khusus tentang prioritas dalam nafkah, Nabi Saw bersabda yang berarti: “Mulailah dengan menyedekahi dirimu sendiri. Jika ada sisa, sedekahilah keluargamu. Dan jika masih ada sisa lagi berikanlah kepada kerabatmu. [HR. Muslim, tidak. 997]

Nafkah keluarga juga tetap wajib meski kepala keluarga jatuh miskin, sedangkan nafkah orangtua hanya wajib jika si anak mampu.

Semoga dimudahkan segala urusan orang tua saudari sehingga tidak memerlukan uluran tangan yang lain, ikhlaskan apa yang dilakukan suami terhadap orang tua & saudaranya, mereka bagian dari saudari juga dan jangan merasa iri, karen iri penyakit dunia yang menyesakkan serta harus kita tepis.
Allah sebaik-baik penolong
Wallahu a’lam bis shawab…

Ustadzah Answered on December 20, 2020.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.