Lebih Utama Hafal Quran Atau Belajar Fiqih Dahulu?

Akhir-akhir ini saya jadi bingung ingin menyekolahkan anak saya. apakah sebaiknya memasukkan ke sekolah tahfidz karena akan memakaikan mahkota untuk orangtuanya. ataukah ke pesantren yang mengedepankan belajar Fiqih. Mohon pencerahannya

Add Comment
1 Answer(s)

Bismillah walhamdulillah wasshalaatu wasalaamu ala rasuulillah, wa ba’du

Pertanyaan Bapak ini, bisa jadi mewakili ribuan hati orang tua yang memiliki keresahan yang sama. Berada dalam satu kondisi antara dua hal, kemudian bingung memilih mana yang harus diprioritaskan. Sebelum kita lebih jauh, kabar baiknya adalah dua hal tadi sama-sama kebaikan. Artinya, hal manapun yang kita pilih tidak mengeluarkan kita dari lingkaran kemuliaan yang dijanjikan Allah swt dan Rasul-Nya saw.

Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang hanya memiliki satu jawaban pasti. Pertanyaan yang serupa bisa berbeda jawabannya, jika diajukan oleh orang yang berbeda. Sangat bergantung pada kondisi, situasi, latar belakang dan kebutuhan keluarga sang penanya, sehingga jawaban yang diberikan sesuai prioritas sebenarnya.

Maka, tulisan ini hanya sebagai pandangan umum dan bahan renungan saja.

..

Jika kita pilah satu persatu, maka kita dapati berbagai keutamaan di dua hal tersebut; menghafal Al-Quran dan mempelajari fiqih. Kita mulai dari Al-Quran terlebih dahulu. Hari ini banyak digaungkan bahwa seorang anak yang hafal Al-Quran maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dan baju kebesaran nanti di akhirat.

Dari sahabat Buraidah ra, Nabi saw bersabda,

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

“Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756)

Jika kita mau jujur, berdasarkan hadis tersebut, ternyata keutamaan ini tidak hanya diraih dengan modal ‘hafal’ Al-Quran saja; melainkan juga memahami dan mengamalkannya. Oleh karena itu banyak ulama menerangkan bahwa yang dituntut dari Al-Quran adalah memahami dan mengamalkannya. Itulah yang wajib. Menghafalkannya dihukumi sunnah. Meskipun kita sepakat bahwa itu sebuah kemuliaan yang besar.

..

lalu apa keutamaan belajar fiqih?

Dalil syar’i yang menerangkan ini juga tidak kalah banyaknya, di antaranya;

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

 

Dan juga hadis Nabi Muhammad saw;

 

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

 “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

 

Dari berbagai dalil ini, umumnya para ulama menerangkan mempelajari hukum fiqih pada tataran praktis agar kita bisa menjalankan yg halal dan menjauhi yang haram serta agar ibadah kita bernilai pahala (karena didasari ilmu); hukumnya wajib.

Nah sampai di sini, jika kita hanya bisa memilih salah satu antara keduanya -karena sempitnya waktu misalnya-, maka tentu kita kedepankan hal-hal yang sifatnya wajib dibanding hal yang hukumnya sunnah.

..

Tetapi tentu saja ada jalan lain, yaitu jalan pertengahan. Kita tidak perlu membenturkan antara dua hal tersebut. Bahwa dua hal yang sama-sama baik ini bisa jalan berdampingan, seiring seirama, tanpa harus dipertentangkan.

Sudah banyak ‘sekolah tahfidz’ yang juga diajarkan dalam kurikulumnya berbagai cabang ilmu lainnya; termasuk fiqih praktis yang dirasa cukup untuk bekal beramal. Begitu juga banyak madrasah-madrasah yang konsen mempelajari ilmu fiqih, yang di dalamnya dipelajari juga Al-Quran (termasuk menghafalnya), yang bisa jadi tidak hafal 30 juz, tapi sudah dirasa cukup sebagai modal hafalan dan muroja’ah. Jadi, kita tetap bisa memperoleh dua kebaikan tersebut dalam satu waktu. Belajar fiqih sebagai jalan memahami Al-Quran untuk kemudian bisa beramal dengan benar, tetapi dalam pada itu juga mulai menghafal Al-Quran sebagai bentuk keutamaan.

wallahu a’lam.

Ustadz Answered on March 24, 2020.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.