Mahar Yang Dititipkan Hilang, Wajib Ganti?

Answered

Assalamualaikum ustadz, saya ingin bertanya.

Saya mengkhitbah seorang perempuan, kemudian saya menitipkan mahar emas kepada perempuan tersebut sekian lama, tetapi akad nikah malah gagal Dilaksanakan dan hubungan kami putus, Dan ternyata si mahar emas itu katanya hilang tidak tau hilang nya seperti apa dan dimana. Nah apakah wanita yang saya khitbah wajib tidak mengganti mahar yang hilang itu?

Terima kasih

Sahabat Kepo Asked on June 16, 2019 in Umum.
Add Comment
2 Answer(s)
Best answer

Mahar itu harta yang diberikan suami kepada istrinya. Meski bukan termasuk rukun nikah, namun mahar adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri.

Dalam hal ini, kewajibannya seperti halnya kewajiban suami untuk memberi nafkah. Nilainya disepakati oleh kedua belah pihak.

Namun dalam kasus Anda yang ternyata tidak jadi menikah, maka seharusnya tidak ada kewajiban untuk memberi mahar. Sebab Anda tidak menjadi suaminya.

Kalau pun Anda sempat menitipkan harta yang rencananya akan dijadikan mahar, maka mahar itu masih belum jadi hak mantan calon istri Anda. Sehingga secara hukum muamalah, harta itu 100% masih milik Anda.

Kalau ternyata titipan itu hilang, baik secara sengaja atau tidak sengaja, ada kewajiban pada mantan calon istri Anda untuk mengganti. Sebab harta itu bukan miliknya, tapi milik Anda.

Dalam hal ini bola ada di tangan Anda, apakah Anda minta dikembalikan atau mau diikhlaskan saja. Silahkan menetapkan sikap.

Wassalam

Ustadz Answered on June 18, 2019.
Add Comment

 

Wa’alaikum salam wr wb.
Sebelum aqad nikah apapun bisa terjadi. Oleh karenanya dalam Islam ada aturan yang membawa kebaikan bagi semua. Walaupun sdh dalam pinangan (khitbah) tetap saja calon istri tersebut bukan mahram maka berlaku hukum syariat utk menjaga adab pergaulan. Zaman sekarang banyak kita lihat ketika sdh mengkhitbah seolah-olah sdh berlaku hub dekat sampai melewati batas. Selayaknya mahar tadi disimpan pada orangtua sendiri bukan pada calon istri.

Syeikh Said Sabiq dalam fiqhus sunnah mengatakan:
“Lamaran itu hanya janji perkawinan, bukan akad yang mengikat. Masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut berhak untuk mengurungkan rencananya yang telah disepakati. Pembuat syariat (Allah) tidak menetapkan sanksi material bagi pihak yang menyalahi janji karena pembatalannya meskipun tindakan demikian dianggap sebagai akhlak tercela dan pelakunya disifatkan sebagai orang munafik kecuali jika ada sejumlah hal situasi darurat yang memaksanya untuk menyalahi janji tersebut,”

“Pihak laki-laki berhak meminta kembali mahar yang diberikan lebih dahulu (saat lamaran) karena mahar diberikan untuk perkawinan dan sebagai imbalan darinya (pihak laki-laki). Selama perkawinan tidak terwujud, maka kepemilikan mahar sedikit pun tidak sah dan wajib dikembalikan kepada pemiliknya karena mahar itu murni hak pihak laki-laki,” (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah)

Ustadzah Answered on June 17, 2019.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.