Saya Anak Zina, Siapa Wali Nikah Saya?

Assalamualaikum ustadz, Saya mau bertanya ustadz mengenai sahnya pernikahan, Sy adalah anak dluar nikah. Bapak sama ibu saya menikah saat saya sudah dalam kandungan, Ketika saya menikah bapak saya yang jadi wali nikah.

Padahal sebelumnya saya sudah bilang ke bapak ibu kalau bapak tidak bisa jadi wali nikah, Saya utarakan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan mereka.

Tapi bapak saya tetap menjadi wali nikah saya, Sekarang saya sudah menikah. Tapi saya ragu apakah pernikahan saya sah atau tidak? Dan apa solusinya ustad?

Terima kasih

Asked on January 14, 2021 in Nikah.
Add Comment
1 Answer(s)

Wa’alaikum salam wr wb
Bismillahirrahmanirrahim…

Allahu Akbar… Saya berharap pernikahannya belum lama. Sangat hebat saudari dalam menanggung semua ini, semoga selalu Allah kuatkan. Berbaik sangka kepada orang tua saudari, karena mereka tidak mempunyai ilmu, rangkul mereka dan memperkenalkan mereka Islam dengan berguru kepada yang alim. Allah Maha Mengampuni dosa hambaNya yang mau bertaubat.

Dalam Islam, apabila seorang perempuan berzina kemudian hamil dan dinikahi oleh lelaki yang menghamilinya. Jika terjadi seperti ini, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya bukan kepada laki-laki yang menzinai dan menghamili ibunya (bapak zinanya) walaupun akhirnya laki-laki itu menikahi ibunya dengan sah. Dan dalam kasus yang seperti ini, dimana perempuan yang berzina itu kemudian hamil lalu dinikahi oleh laki-laki yang menzinai dan menghamilinya- tidak dapat dimasukkan ke dalam keumuman hadis:
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur (suami yang sah) dan bagi yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut). Karena laki-laki itu menikahi perempuan yang dia zinai dan dia hamil setelah perempuan itu hamil bukan sebelumnya, meskipun demikian laki-laki itu tetap dikatakan sebagai bapak dari anak itu jika dilihat bahwa anak tersebut tercipta dengan sebab air maninya akan tetapi dari hasil zina. Karena dari hasil zina inilah maka anak tersebut dikatakan sebagai anak zina yang bapaknya tidak mempunyai hak nasab, waris, dan kewalian dan nafkah sesuai dengan zhahirnya bagian akhir dari hadits di atas yaitu,

“… dan bagi (orang) yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut).”

Berbeda dengan anak yang lahir dari hasil pernikahan yang sah, maka nasabnya kepada bapaknya demikian juga tentang hukum waris, wali dan nafkah tidak terputus sama sekali. Karena agama yang mulia ini hanya menghubungkan anak dengan bapaknya dengan anak itu lahir dari pernikahan yang sah atau lebih jelasnya lagi perempuan itu hamil dari pernikahan yang sah bukan dari zina.

Bagaimana dengan hukum pernikahan saudari?

Hukum pernikahannya batil, karena anak tanpa nikah terlebih dahulu, tidak memiliki wali nikah, sehingga walinya harus terambil dari wali hakim. Syaikh Shalih Al-Munajjid berkata :

“Jika telah jelas bahwa anak zina tidak dinasabkan pada ayahnya, maka ia (ayah zinanya) tidak ada hak wali atas anaknya. Disebutkan dalam kitab Asnal Mathalib 13/288 :

“Anak zina tidak memiliki orang yang memiliki hak wali atasnya karena keterputusan nasabnya dari jalur ayah.”

Sebagian ulama berpendapat haknya si anak berkaitan dengan warisan menjalur kepada ibunya (boleh mewarisi harta ibunya, adapun dalam masalah nikah ia tidak memiliki orang yang memiliki hak wali atasnya. Dikatakan di dalam kitab Al-Iqna’ : 4/505 :

“Hak wali (dalam masalah waris) bagi anak zina hanya dimiliki ibunya saja…dan mereka (anak zina) tidak memiliki orang yang memiliki hak wali baginya dalam masalah nikah maupun masalah lain.”

Maka berdasarkan hal ini, saudari tidak memiliki wali dari sisi nasab. Maka yang menjadi walinya adalah penguasa/hakim yang muslim berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Penguasa/sultan itu menjadi wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR Abu Dawud : 2083, Tirmidzi 1102, disahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Sahih Sunan Abu Daud).

Jika di suatu negeri tidak ada penguasa/wali hakim yang muslim, maka walinya adalah ketua markaz dakwah islam dinegeri tersebut, jika tidak ada maka imam masjid. (Fatawa Islam Soal Jawab no. 151932).

Menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah keberadaan wali dalam akad nikah menjadi salah satu rukun, artinya nikah tidak sah tanpa ada wali. Yang menjadi wali haruslah orang yang punya hubungan nasab, yaitu ayah, kakek dari ayah, saudara laki kandung, dst….
Jika seorang perempuan tidak punya wali nasab maka yang menjadi wali nikahnya adalah wali hakim (pihak KUA)

Dalam Islam Anak zina tidak terhubung nasab ke ayah biologisnya, dia anak ibunya. Jadi si ayah biologis tersebut sama dengan orang lain, artinya tidak punya hubungan nasab dengannya. Jadi tidak bisa juga ia menjadi wali nikah.
Saya berharap semoga saudari belum punya anak, Jika sudah punya anak perempuan, harus dikondisikan dan dijaga aib dengan dinikahkan oleh wali hakim (KUA) saja. Karena anak-anak tidak menanggung dosanya, tapi dalam kehidupan dunia, kehidupan sosial dia terkena imbasnya.
Allah berfirman dalam surat Fathir: ayat 18

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ (فاطر(18)

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Usulan saya, coba saudari bicarakan dengan suami atau biar tidak timbul permasalahan dengan suami, bilang saja ingin mengulang nikah di KUA karena khawatir ayah kurang ilmu atau ada shalat yang tertinggal tanpa memberi tahunyang sebenarnya, terkadang orang tidak siap. Pergi ke kepala KUA secara pribadi, secara kekeluargaan, mohon diberikan pengertian kepada beliau dam dirahasiakan, agar tidak berkelanjutan dengan nikah fasid atau rusak.

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan keluarga sebaiknya tidak perlu diberi tahu.
Datang saja dulu ke KUA itu, bicarakan secara pribadi, lalu minta dinikahkan ulang untuk sah secara agama saja. Atau yang lebih menyelamatkan lagi datang saja ke ustazd dan hadirkan dua saksi, tanpa harus ke KUA. Tetapi Buku nikah pakai yang pertama dulu. Biar tidak mengundang pertanyaan dan mudharat dari orang sekitar. Karena aib harus dijaga.
Mohon maaf kalau ada kata yang tidak pantas saya sebutkan..

Wallahu a’lam bisshawab…

(Fatawa Islamiyah (2/353 dan 354, 374, 375); Majmu ‘Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 32 / 134-142; Al-Mughni , Ibnu Qudamah, 9 / 529-530; Al-Muhalla , 10/323 ; Fat-hul Bari (Syarah hadits no. 6749). Tafsir Ibnu Katsir surat An Nisaa` ayat 23.)

Pembahasan ini juga bisa kamu temukan di Youtube

Ustadzah Answered on January 14, 2021.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.